Sep
14
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 14-09-2011
SUATU ketika seorang mahasiswa tingkat undergraduate mengetuk ruang kerja saya di Bevier Hall– University of Illinois, Amerika Serikat (AS).

Sebagai teaching assistant di kampus itu, saya bertugas menggantikan seorang profesor yang mengajar mata kuliah consumer economics. Selain mengajar, saya juga membuat sebagian soal ujian dan memeriksanya.

Dengan mimik penuh percaya diri, dia menyampaikan masalahnya. Dia menunjuk lembar jawaban soal yang terdiri atas pilihan berganda (multiple choice) yang baru saja dia terima.

Nilai yang dia dapat tidak terlalu jelek, tetapi dia kurang puas dan mengajak saya berdiskusi, khusus pada sebuah soal yang dianggapnya terbuka untuk didiskusikan. Setelah membacanya kembali, tiba-tiba saya tersadar, soalnya memang konyol sekali.

Pertanyaannya kurang lebih seperti ini. “Berapa lama rata-rata rumah tangga menggunakan handuk mandi?” Tentu saja setiap orang punya jawaban yang berbeda-beda. Namun karena mata kuliah ini didasarkan atas hasil riset, maka mahasiswa harus menguasai dasardasar perilaku konsumen yang datanya diperoleh secara riil dari riset.

Jawabannya semua ada di buku teks. Jadi kalau buku dibaca atau bahan kuliah dipelototi, pasti mereka mudah menemukan jawabannya. Di buku teks jawaban tertulis, rata-rata rumah tangga mengonsumsi handuk selama delapan tahun. Dia memilih jawaban dua tahun.Tentu saja saya mencoretnya.

Bagi seorang guru, menemukan murid seperti ini mungkin biasa saja. Namun cerita berikut ini mungkin dapat mengubah pandangan Anda tentang cara mendidik atau bahkan membimbing orang lain, karyawan,atau bahkan diri
sendiri agar berhasil dalam hidup.

Kekuatan Argumentasi

Mahasiswa saya tadi mengajak saya berdiskusi, “Prof,” ujarnya. “Jawaban ini salah.” Saya mengernyitkan dahi. Maklum, belum pernah saya mendengar seorang mahasiswa di tingkat persiapan berani-beraninya menyalahkan soal, apalagi menyalahkan isi buku. “Maksud saya, setelah saya tanya-tanya ke kiri-kanan, tak ada orang yang menyimpan handuk mandi sampai 8 tahun,”lanjutnya.

“Jadi berapa tahun?” tanya saya. “Ya dua tahun. Ini jawaban saya benar,”katanya lagi. Saya pun teringat dengan cara teman-teman saya sewaktu kuliah dulu mengakali dosen yang “lemah”. Dosen seperti itu biasanya gampang diajak kompromi dan kalau kita pintar mengambil hatinya, angka bisa berubah.

Maka, di kepala saya, berkompromi bukanlah karakter saya. Berkompromi sama dengan kelemahan, lembek, merendahkan martabat, plin-plan. “Jadilah guru yang teguh.” Kalimat itu terus mengalir di hati saya. Kompromi itu jelek, lemah, tidak konsisten, tidak berwibawa. “Ah, kamu ini cuma cari pembenaran saja. Ini justifikasi namanya. Pokoknya jawaban Anda salah.

Apa Anda tidak baca buku. Coba buka halaman 40,” ujar saya pada mahasiswa tadi. “Betul,”katanya lagi. “Di buku memang tertulis begitu. Saya tahu.” “Ah, Anda tidak baca saja…,” ujar saya lagi.

“Bukan, tetapi ini tidak masuk akal.” Dia mencoba menjelaskan. Namun sebagai orang Indonesia yang terbiasa dididik tanpa kompromi di sekolah, saya mencoba untuk tidak mendengarkan argumentasinya. Saya khawatir wibawa saya terganggu. Dosen kok didebat.

Namun dia tetap menjelaskan panjang lebar bahwa sekarang tidak ada lagi handuk yang seawet itu. Dua tahun sudah
rusak. “Dulu sabunnya tidak sekuat yang sekarang, lagipula mana ada produsen yang mau membuat handuk dengan material yang kuat dan harganya mahal?
Konsumen memilih yang terjangkau dan produsen memilih barang-barang yang murah. Kalau cepat rusak tak apa-apa, setelah itu beli lagi,” katanya bersemangat. Matanya berbinar menjelaskan gagasannya dan penuh harap saya mau mengubah pendapat saya. Saya masih ingat dia menjelaskan tentang mesin cuci yang dulu tidak dipakai rumah tangga sehingga tidak merusak material.
Lama kita berdebat dan sebenarnya saya suka mempunyai peserta didik yang kritis seperti itu. Namun, sebagai guru dari Indonesia, saya tidak suka ditawar-tawar.

Ini soal integritas. “Nope,” jawab saya menolak permohonannya agar saya mengoreksi nilainya. Dia pun keluar dengan kecewa. Saya berpikir, urusan pun selesai. Namun, di luar dugaan, setengah jam kemudian dia kembali lagi. Kali ini dia datang diantar profesor saya. Seperti tak ada masalah sama sekali profesor itu datang dengan penuh senyum.

“Rhenald,”ujarnya. “I talk to this guy, and I like his idea.” Sudah tahu arahnya, saya pun segera menukas. “Yes, he did talk to me, and indeed he was wrong. He didn’t give the right answer,” ujar saya.

“Saya mengerti,” jawab profesor itu,”Tapi perhatikan ini.  Saya suka  cara berpikirnya. Dia memang memberi jawaban yang berbeda dengan buku, tetapi argumentasinya kuat dan dia benar.” Singkat cerita, profesor itu meminta saya agar mendengarkannya dan memahami logika anak itu.

Kejadian itu sekali lagi telah membuka pikiran saya. Betapa memalukannya otak reptil saya. Guru kok tertutup. Namun, saya beruntung segera menyadari kesalahan saya. Saya belajar bahwa saya menganut nilai-nilai yang salah. Tertutup, tak berkompromi, tegas, teguh, terlalu mengedepankan wibawa hanyalah merupakan bentuk defensif saya sebagai guru yang sebenarnya hanya perwujudan dari rasa takut yang berlebihan saja.

Takut dibilang lembek, kompromistis, mudah dirayu, tidak objektif, dan sebagainya. Pendapat yang semula saya tentang kini harus saya terima dan nilai anak itu saya koreksi. Bahkan seperti penjual kacang rebus yang suka menambah kacang ke dalam bungkusan pelanggannya, saya pun memberikan bonus angka kepadanya. Mendidik adalah lebih dari sekadar menjaga imej.

Mendidik adalah proses menjadikan orang lain seorang “master” dan bukan menciptakan pengikut. Yang ingin kita lahirkan adalah manusia yang mampu berpikir,terbuka terhadap logika. Bukan manusia-manusia dogmatik yang hanya mengikuti maunya kita, menulis apa yang kita diktekan, berpendapat apa yang menjadi pikiran kita, dan tak bisa menerima perbedaan pendapat. Malas berpikir.

Keluar dari Buku

Kisah anak-anak yang tak mampu berpikir di luar buku teks sudah banyak kita saksikan. Salah satu film yang paling saya suka dan selalu saya pakai untuk mengajari dosen-dosen muda menjadi pendidik adalah potongan film yang dibintangi Julia Roberts berjudul Monalisa Smile.

Dalam film itu dikisahkan kesulitan seorang guru yang mengajar karena setiap kali dia menampilkan slide yang diambil dari buku, selalu disambar murid-muridnya yang berebut menjelaskan.

Dia benar-benar bingung. Muridnya aktif-aktif dan pintar-pintar. Mereka sudah membaca assignment sebelum pelajaran dimulai. Mereka benar-benar telah mempersiapkan diri dengan baik sebelum masuk kelas dengan membaca, membuat ringkasan, dan memiliki kepercayaan diri yang kuat dan aktif berbicara. Hari pertama mengajar dia gagal total. Namun minggu berikutnya, setelah merenungi dalam-dalam, dia mendapatkan ide.

Kali ini dia mengajak murid-muridnya keluar dari buku teks. Dia menunjukkan slide yang sama sekali baru. Tak ada di buku dan bahan ajarannya sama sekali baru.

“Coba lihatlah gambar ini. Apakah ini bagus?” Semua murid tertegun.

Gambar itu belum pernah mereka lihat dan tanpa referensi mereka tidak punya acuan sama sekali. Padahal, selama ini mereka hanya mengikuti perintah buku. Gambar itu bagus kalau kalimat di buku berkata gambar itu bagus. Sekarang saat gambar itu tak ada penjelasannya, mereka pun tak berani berpendapat. Mereka saling lihat kiri-kanan. Seorang yang mencoba menjawab kebingungan.

“Apakah ada gambar yang bagus?” “Siapa yang berhak mengatakannya?” “Sesuatu yang bagus itu akan menjadi bagus tergantung siapa yang mengatakannya.”
Mereka terbelah. Ibu guru pun menjelaskan wisdom-nya. “Look, kalian baru saja keluar dari cara berpikir buku teks,” ujarnya.

Dia mengajarkan perihal kehidupan, yaitu berani berpendapat dan membuat keputusan pribadi. Apa yang dapat dipelajari dari film Monalisa Smile dan kasus yang saya alami saat saya menjadi teaching assistant di University of Illinois dan berhadapan dengan mahasiswa yang minta agar saya mengoreksi jawaban soalnya 15 tahun yang lalu itu? Benar! Kita adalah manusia dan tugas guru adalah mendidik manusia,memerdekakannya dari segala tekanan, dari perilaku-perilaku buruk, dari pikiran-pikiran negatif, dari rasa sok pintarnya yang sesungguhnya belum apa-apa, dari belenggu-belenggu dogma, dan mengajaknya melihat keindahan dari apa yang diciptakan Tuhan.

Dari semua itu,yang terpenting adalah bagaimana kita hidup dengan otak yang terbuka dan mengajarkan keterbukaan. Bukankah otak kita bekerjanya seperti parasut, yang artinya dia baru bisa dipakai kalau dia mengembang dan terbuka? Itulah yang saya ajukan selama ini kepada anak-anak didik saya dan terbukti mereka mampu menjadi orang-orang yang hebat. Itu pula yang saya sharing-kan kepada para guru dan dosen.

Sebagian orang cepat mengubah diri, tapi sebagian pendidik lain tidak peduli dengan cara ini. Mereka tetap ingin mengajar dengan cara-cara dogmatik. Ingin dipuja tanpa argumentasi,tak mau mendengarkan, takut dibilang lembek, dan ingin diterima bak seorang ulama besar yang tak terbantahkan. Itulah hidup, tak semua orang mau berubah. Namun Anda tak perlu cemas.

Orang-orang seperti itu sudah pernah menyurati saya dengan amarah berlembar-lembar. Mereka menembaki saya dengan ratusan peluru. Di antara surat-surat cinta mereka pun ada yang berisi ancaman, memperingatkan saya dan mengusir dari keguruan ini. Namun saya berkeyakinan, seorang pendidik sejati tak akan menyerah oleh ancaman-ancaman kosong. Dia tak berorientasi pada persaingan, melainkan pada masa depan anak-anaknya.

Rhenald Kasali, Ketua Program MM UI
Sep
11
Filed Under (Sekilas Info) by PenYejuk haTi UntukmU on 11-09-2011

Annida-Online–REPUBLIKA.CO.ID, Elizabeth Torres kehilangan delapan anggota keluarganya dalam serangan 11 September 2001 lalu. Beberapa tahun kemudian, ia menjadi seorang mualaf.

“Saya tak pernah menyalahkan agama apapun atas apa yang terjadi pada keluarga saya,” ujar Torres. “Islam tidak menyuruh kita untuk menghancurkan apapun. Orang-orang yang melakukan ini dimanipulasi, dicuci otaknya,” katanya lagi.

Elizabeth mengaku telah lama menjalani pencarian spiritual. Ia berpaling ke Islam setelah menikah dengan seorang warga Mesir. Ia mengganti namanya menjadi Safia El-Kasaby.

El-Kasaby mengaku mendapat tentangan dari keluarganya. Putrinya, Sylvia, yang bersuamikan seorang tentara yang gugur di medan perang menolak berhubungan kembali dengannya.

Putrinya yang lain, harus menghadapi komentar miring dari teman-temannya. “Mereka bilang, ‘Oh, ibumu teroris sekarang.’ Dan saya bilang, ‘Tidak, itu berbeda sama sekali dengan agamanya,” ujar Natalia Torres.

Tidak mudah bagi Elizabeth Torres untuk beralih agama pasca serangan 11 September. Kejadian 11 September tak pelak lagi membuat banyak kalangan memandang umat Islam dengan penuh curiga.

Bahkan survei terbaru Gallup menyebutkan setidaknya 48 persen warga Muslim Amerika pernah mengalami diskriminasi atau setidaknya perhatian negatif dari warga sekitar. Karena diskriminasi seperti itulah, Torres yang sempat mengenakan jilbab mengambil keputusan untuk menanggalkan penutup rambutnya.

“Yang penting adalah hubungan saya dengan Tuhan. Bila hati saya baik-baik saja dengan Dia, tidak penting apa yang orang lain katakan,” ujarnya.

Pada peringatan 10 tahun 11 September, mualaf ini kembali menyayangkan mengapa agama pilihannya ini dibajak oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam.

Sep
11
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 11-09-2011

Bismillahhirrahmanirrahim…

Tulisan ini aku tujukan kepada saudara-saudariku, terutama sesama muslimah yang berjuang untuk menjadi muslimah sejati di hadapan ALLAH, aamiin.

Kami adalah sesama aktivis dakwah di sekolah. Aku seorang akhwat dan dia seorang ikhwan. Namun, aku dan dia tak pernah kenal sebelumnya. Kami dipertemukan secara tidak sengaja melalui sebuah amanah di suatu organisasi di sekolah kami. Aku pun baru mengenalnya setelah tahu aku akan bekerja sama dengan dia untuk menjalankan amanah di sekolah kami. Begitupun dia, juga tak mengenalku sebelumnya. Walaupun kami satu sekolah, tapi kami tak saling kenal. Mungkin karena terlalu banyaknya jumlah murid di sekolah kami, yang jelas kami tak pernah saling mengenal satu sama lain.

Alhamdulillah, saat itu ALLAH memberikanku bermacam amanah di berbagai organisasi sekolah. Termasuk amanah di organisasi di mana aku dan dia ikut bergabung. Ketika itu, teman-teman memberikanku amanah untuk menjadi sekretaris kegiatan, sedangkan dia sendiri diamanahi sebagai DU (Dana Usaha). Karena berbagai amanah yang aku dapatkan, aku cukup sulit untuk mengatur waktu, terlebih lagi ketika itu aku masih sangat awal menjabat di berbagai organisasi yang aku ikuti. Butuh bagiku waktu untuk beradaptasi.

Kesibukanku itu membuatku menjadi sedikit lupa akan amanah yang diberikan teman-teman padaku. Padahal seorang sekretaris memegang peran awal dalam melaksanakan sebuah kegiatan. Seorang sekretaris harus mendahului membuat beberapa proposal yang akan ditujukan kepada sekolah untuk mendapat izin serta ditujukan ke beberapa pihak sponsor untuk mendapatkan dana dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Seperti halnya dengan dia sebagai seorang Dana Usaha, telah menjadi kewajiban bagi dia untuk bertindak cepat melayangkan beberapa proposal ke pihak-pihak sponsor untuk mendapatkan dana. Karena hal itulah, maka dia memintaku untuk sesegera mungkin membuat proposal. Ya, inilah awal komunikasi kami.

Ternyata membuat proposal memang tak semudah yang dibayangkan. Proposal yang aku buat untuk kegiatan tersebut harus aku ganti berkali-kali, setiap hari selalu ada bagian yang salah dan harus segera diperbaiki. Hal ini pula yang menjadikan aku dan dia semakin sering berkomunikasi. Tak hanya sekedar lewat sms, tapi juga melalui facebook. Facebook yang ketika itu sedang gencar-gencarnya sebagai alat komuniaksi di dunia maya. Inilah situs jejaring sosial yang menjadi awal komunikasi kami.

Aku sebenarnya termasuk anak yang tak begitu doyan akan dunia maya. Aku punya fb, tapi aku tak sering menggunakannya, hanya sesekali saja aku membukanya untuk sekedar berkomunikasi dengan teman-temanku.

Suatu hari ketika aku sedang asyik bermain fb, aku teringat, si ‘dia’ pernah memintaku untuk meng-add fb-nya. Bagiku hal itu sah-sah saja, toh kami kan teman sekerja, mungkin lewat fb bisa menjadikan kami untuk lebih mudah berkomunikasi secara cepat. Ketika itu pula, segera aku mengetik namanya di bagian kotak search. Sejurus kemudian muncul beberapa nama yang mirip dengan nama dia, aku klik di nama bagian teratas, sepertinya ini deh fb-nya, batinku dalam hati. Jemariku langsung saja menuju kotak add as friend untuk bisa menjadi teman dia.

Hari selanjutnya, aku kembali membuka fb-ku, seperti biasa ada beberapa notification. Aku lihat satu per satu, pandanganku tertuju pada satu nama. Ya, teman kerja baruku ternyata telah meng-confirm friend request-ku. Hey lihat… ternyata dia tak hanya meng-confirm, tapi dia memberikan pesan singkat di wall fb-ku. Aku baca sekilas pesan singkat yang dia berikan, dahiku sedikit mengkerut, dia tidak kenal aku? tanyaku dalam hati. Masa dia tidak mengenali temannya sendiri? Hemm okelah, mungkin memang kita masih baru saja kenal dan aku sendiri memang tak cukup terkenal di sekolah, jadi wajarlah kalau memang dia tidak begitu mengenaliku. Segera aku balas pesan singkat di hadapanku tadi.

Selang beberapa hari, dia kembali membalas wall-ku, kali ini dia sudah cukup mengenaliku sebagai teman sekerja dengannya. Aku perhatikan gaya bahasa yang dia lontarkan dalam pesan itu, gaya bahasa yang cukup asyik dan mungkin bagiku terkesan agak SKSD. Seorang ikhwan ternyata bisa seperti ini juga? batinku dalam hati. Aku balas pesang singkat dia, kali ini tidak sekaku seperti awal aku membalas pesan dia, pesan layaknya teman dengan teman. Singkat kata, semenjak saat itu aku semakin sering berkomunikasi dengan dia, terutama lewat situs jejaring sosial ini. Entah mengapa aku dan dia rasanya begitu nyambung jika sedang membicarakan sesuatu.

Wall to wall-ku ke dia bahkan sudah mencapai ratusan. Kami tak hanya membicarakan masalah organisasi, tapi melebar sampai ke lain-lain. Lambat laun aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku merasa aku telah melakukan hal yang kurang baik, terutama di hadapan ALLAH. Terlebih lagi ketika aku mulai mendengar gunjingan orang tentangku. Ya, tentangku dan dia, siapa lagi?

Ternyata komunikasiku dengannya di fb selama ini telah menyita perhatian banyak temanku. Masya ALLAH, aku merasa sungguh berdosa di hadapan ALLAH. Pantaskah aku disebut sebagai muslimah? Aku tahu, teman-temanku hanya bermaksud main-main saja dengan guyonan mereka. Tapi, tetap saja itu membuatku merasa tidak nyaman, bahkan aku semakin takut.

Aku takut, aku akan melakukan kesalahan sama seperti yang telah aku alami dulu. Hampir satu sekolah tahu akan ‘hubungan’ aku dan dia. Bukan hanya teman satu kelasku, tapi teman-teman di berbagai organisasi yang aku ikuti pun tahu. Mereka acap kali menggodaku, apalagi jika aku sedang jalan dengan teman-temanku dan bertemu dengan dia. Teman-temanku semakin senang menggodaku.

Satu hal yang sangat membuatku sakit adalah ketika piknik widya wisata ke Bali. Saat itu malam hari di bus menuju pelabuhan yang akan mengantarkan kami serombongan menyeberang melewati laut menuju pulau Bali. Di tengah perjalanan, ada temanku yang suka iseng mengerjai aku dan teman-temanku yang lain. Tepat saat itu giliran aku yang kena ulahnya. Sebelumnya ,dia sudah seringkali menggodaku, apalagi jika bukan berita tentang aku dan si dia. Temanku ini dengan isengnya membuka fb-ku dan membuka wall to wall-ku dengan si dia. Tak hanya membukanya, tapi juga membacanya, lebih tepatnya membaca dengan keras di hadapan seluruh teman-temanku di bis. Kalian bisa membayangkan betapa riuhnya di dalam bis kami? Terdengar sekali gelak tawa teman-temanku. Aku merasa sangat malu, entah malu atau marah aku tak tahu, tapi aku merasa untuk bersikap biasa ke teman-temanku. Sekali lagi aku menghibur diri sendiri, mungkin mereka hanya bermaksud main-main saja. Aku mencoba tersenyum walau dalam senyum itu hatiku sakit karena dipermalukan.

Rasanya aku merasakan banyak hal yang berubah semenjak ada gosip tentangku dengannya. Semakin hari aku semakin takut. Takut karena apa, entahlah aku sendiri masih bingung. Tapi, kedekatanku dengan si dia malah semakin dekat. Aku dan dia sering kali bertukar pikiran untuk berdiskusi, saling share jika salah satu di antara kami mempunyai masalah. Bahkan aku dan dia sering bersaing mendapatkan nilai terbaik di setiap ujian yang diadakan sekolah, tak lepas pula kami saling memberi semangat. Layar chatbox-ku setiap kali aku ol tak pernah lepas dari kotak chat dengannya. Kami selalu sepakat membuat janji untuk dapat saling chatting bersama. Saling cerita satu sama lain. Aku dan dia benar- benar dekat, dia bahkan telah hafal karakter-karakter aku, aku yang seperti apa dia tahu.

Kami memang dekat, tapi kami tak sampai ‘berpacaran’. Kami dekat layaknya kedekatan seorang sahabat. Kami sama-sama memiliki masa lalu yang cukup kelam, terlebih mengenai ‘pacaran’. Aku dan dia sama-sama sedang belajar. Belajar untuk menjadi lebih baik. Kami saling memotivasi, mengingatkan agar tidak terjebak lagi dalam hal-hal yang kurang baik seperti masa lalu.

Kian hari, semua yang terjadi antara aku dan si dia semakin terlihat indah. Tapi di balik keindahan itu, aku merasa itu hanya keindahan semu belaka. Rasa takutkku bahkan semakin menjadi-jadi. Ya ALLAH… tangisku dalam hati. Aku semakin gelisah dari hari ke hari, aku semakin bingung dengan apa yang aku pikirkan. Aku merasa aku menjadi hamba ALLAH yang begitu hina. Apa yang telah aku lakukan ya ALLAH? Apa aku telah melanggar janjiku pada-Mu? Aku takut.

Aku mencoba menenangkan diri, aku ingin bisa mencerna semua yang sedang terjadi secara jernih, aku ambil nafas yang cukup panjang, kemudian aku membuangnya. Aku kembali ambil nafas dan kembali membuangnya lagi. Berulang kali aku melakukan hal itu hingga aku merasa aku telah merasa lebih rileks. Dalam kondisi pikranku yang masih jernih, aku kembali mengingat semua yang telah terjadi selama ini. Tanpa kurasa air mataku jatuh, kalimat istighfar tiada henti aku lontarkan dari bibirku. Cukup. Aku salah. Tak seharusnya aku melakukan hal itu.

Aku terus saja menyalahkan diriku sendiri. Tapi, kemudian aku kembali berpikir, tak ada gunanya jika aku hanya terus menyalahkan diri sendiri, aku harus mencari solusi. Ya, solusi! Solusi atas segala permasalahan pelik yang sedang terjadi dalam hidupku. Bantu hamba, ya, Rabb… ibaku dalam tangis yang menderu.

Bukan hal mudah memang mencari solusi yang tepat dalam permasalahan ini. Aku kembali bingung. Otakku semakin keras berpikir, cara apa yang terbaik yang dapat aku lakukan. Semakin keras otakku berpikir, bukan aku mendapatkan solusi, melainkan kepalaku malah menjadi terasa sakit. Aku tidak sanggup, ya ALLAH.

Alhamdulillah, di tengah-tengah kebingunganku, ALLAH masih sayang padaku, ALLAH memudahkanku, Kawan! Aku berhasil mendapatkan solusi atas segala permasalahanku. Aku putuskan untuk segera memberitahu kepada si dia, mejelaskan semuanya bahwa apa yang telah terjadi antara kita bukan hal yang baik, ALLAH tak akan suka.

Tapi, aku kembali dilanda bingung, jemariku rasanya seakan mati kaku ketika akan meng-klik tombol send pada layar hape-ku. Padahal, aku telah mengetik pesan panjang berisikan teks yang telah aku rancang sedemikian rupa untuk memberikan penjelasan padanya. Ya ALLAH, ada apa lagi ini? Pikiranku berkecamuk. Apa aku sanggup, ya ALLAH? Kenapa aku takut? Apa aku takut pesan yang aku tulis akan membuat dia sakit hati? Tapi, mengapa akau harus takut dia akan sakit hati? Ya ALLAH… apa ini yang sedang aku rasakan? Mengapa aku merasa tak sanggup jika harus membuat dia sakit hati? Astaghfirullah…

Apakah seperti ini yang dinamakan cinta? Engkau bilang cinta itu suatu yang indah, bukan? Tapi, mengapa aku merasa ini bukan suatu yang indah? Lebih banyak aku merasakan sakit. Seperti inikah rasanya cinta yang bukan haq? Istighfar terlontar terus, keluar dari bibirku. Kembali aku merasa kepalaku begitu pening dan aku kembali ambruk.

Di sepertiga malam aku terbangun. Aku bersegera mengambil air wudlu dan bergegas melaksanakan tahajud. Selesai sholat, air mataku tumpah seketika. Sajadahku telah basah oleh linangan air mata. Aku tak kuasa menahan rasa sakit yang telah berhari-hari aku alami. Aku mengadu pada Sang Maha Kuasa, aku meminta segala petunjuk dari-Nya. Aku memohon ampun atas segala dosa yang telah aku perbuat selama ini. Aku tak lain hanyalah hamba yang hina. Aku tak tahu, apakah aku masih pantas meminta belas kasihan-Mu? Meminta pertolongan-Mu? Tapi, jika bukan Engkau, siapa yang dapat membantuku, ya ALLAH? Aku tak hentinya menangis dan terus menangis. Malam itu seakan menjadi saksi bisu atas segala permasalahan yang aku adu kepada Sang Illahi. ALLAH ternyata masih sayang padaku, selesai aku mengadu kepadaNya, aku merasakan ketenangan yang luar biasa. Rasanya hati begitu tenteram setelah aku adukan semua padaNya. Terima kasih, ALLAH.

sumber : majalah annida

Sep
08
Filed Under (Sekilas Info) by PenYejuk haTi UntukmU on 08-09-2011

Pasar Blackberry Malaysia cuma sepersepuluh Indonesia.

VIVAnews - Pemerintah geram terhadap produsen BlackBerry, Research In Motion Company, atas pembangunan pabrik mereka di Malaysia. Sebab, pasar BlackBerry Malaysia jauh lebih sedikit dibandingkan Indonesia. “Tapi kenapa membangun pabrik di Malaysia?” Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Wirjawan mempertanyakan, saat ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Rabu 7 September 2011.

Gita mengatakan pasar telepon pintar asal Kanada itu di Indonesia sangat besar. Di Indonesia tahun ini saja RIM menargetkan penjualan 4 juta unit dengan harga rata-rata US$300 per unit. Sedangkan di Malaysia, RIM tak akan mampu menjual lebih dari 400 ribu unit. “Cuma sepersepuluhnya Indonesia,” katanya.

Selain BlackBerry, pemerintah juga kesal terhadap produsen peralatan rumah tangga asal Jerman, Bosch, yang juga membangun pabrik solar panel di Malaysia, sedangkan pasar terbesarnya justru di Indonesia. “Ini yang perlu disikapi,” ujar Gita.

Atas masalah ini pemerintah tengah mengkaji pemberian disinsentif kepada perusahaan yang memiliki pangsa besar di Tanah Air, namun tidak membangun pabrik di Indonesia. “Menteri Perindustrian sudah mengambil sikap,” katanya.

Hingga kini, menurut Gita, pemerintah saat ini masih terus menginventaris produk-produk yang dikonsumsi dengan skala besar, namun tidak memiiliki pabrik di Indonesia. “Tidak ada alasan mereka tidak produksi di Indonesia,” katanya. (kd)

Apr
21
Filed Under (Sekilas Info, Tahukah Kamu) by PenYejuk haTi UntukmU on 21-04-2011

Fatwa Liga Muslim Dunia mengaitkan Ahmadiyah dengan imprealisme dan Zionisme. Di Indonesia, fatwa ini semakin menemukan kebenarannya di saat para budak Zionis berjuang mati-matian agar Ahmadiyah tak dibubarkan. Konferensi Liga Muslim Dunia (Rabithah Al-Alam Al-Islami) yang berlangsung di Makkah Al-Mukarramah pada 6-10 April 1974 M/14-18 Rabiul Awwal 1394 H, yang dihadiri oleh 140 delegasi dari berbagai negara Muslim dan organisasi-organisasi Islam dunia, menjadi perhelatan penting sejak organisasi ini didirikan pada tahun 1962. Konferensi pada tahun 1974 itu begitu penting, karena dalam pertemuan itu Rabithah Al-Alam Al-Islami mengeluarkan fatwa tentang kekafiran Ahmadiyah dan menyerukan kepada seluruh dunia Islam untuk mewaspadai organisasi yang menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setalah Nabi Muhammad SAW ini.

Dalam fatwa yang dikeluarkannya, Rabithah Al-Alam Al-Islami menulis,

“Qadianiyah (Ahmadiyah, red) semula dibantu perkembangannya oleh imprealisme Inggris. Karena itu, Qadiani telah tumbuh subur di bawah bendera Inggris. Gerakan ini telah sepenuhnya berkhianat dan berbohong dalam berhubungan dengan umat Islam. Agaknya mereka setia kepada imprealisme dan Zionisme. Mereka telah begitu dalam menjalin kerjasama dengan kekuatan-kekuatan anti Islam dan menyebarkan ajaran khususnya metode-metode jahat berikut ini:

* 1. Membangun masjid dengan bantuan dari kekuatan anti Islam di mana pemikiran-pemikiran Qadiani yang menyesatkan ditanamkan ke masyarakat.

* 2. Membuka sekolah-sekolah, lembaga pendidikan dan panti asuhan di mana di dalamnya diajarkan dan dilatih untuk bagaimana agar mereka dapat lebih menjadi anti-Islam dalam setiap kegiatan-kegiatan mereka.

* 3. Menerbitkan versi Al-Qur’an yang merusak dalam berbagai macam bahasa lokal dan internasional.

Fatwa itu juga meminta kepada umat Islam untuk memposisikan Ahmadiyah sebagai golongan non-muslim yang telah keluar dari Islam, dan melarang keras bagi para anggota Ahmadiyah untuk pergi ke Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah. Selain itu, kepada umat Islam juga diserukan untuk tidak menjalin hubungan dengan Ahmadiyah, baik dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Tidak melakukan pernikahan dengan mereka, serta tidak boleh menguburkan orang Ahmadiyah di pekuburan Muslim. Dengan tegas fatwa itu kemudian menyebutkan, ”Seluruh negara-negara Muslim di dunia harus mengadakan pelarangan keras terhadap aktivitas para pengikut Mirza Ghulam Ahmad dan harus menganggap mereka sebagai minoritas non-Muslim serta melarang mereka untuk duduk dalam jabatan yang sensitif di pemerintahan.”

Menarik dalam fatwa tersebut, para tokoh delegasi yang hadir dari berbagai dunia Islam sepakat untuk memuat pernyataan, “Gerakan ini telah sepenuhnya berkhianat dan berbohong dalam berhubungan dengan umat Islam. Agaknya mereka setia kepada imprealisme dan Zionisme. Mereka telah begitu dalam menjalin kerjasama dengan kekuatan-kekuatan anti Islam…”

Liga Muslim Dunia mengaitkan keberadaan Ahmadiyah dengan imprealisme dan Zionisme. Ahmadiyah adalah proyek imprealis Inggris untuk memecah belah umat Islam dengan menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai boneka peliharaan.Dalam buku “Freemasonry Yahudi Melanda Dunia Islam” peneliti Zionisme A.D El-Marzededeq, menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmadiyah adalah seorang Mason yang diangkat oleh penjajah Inggris untuk mendirikan Gerakan Kemahdian dan mendakwakan dirinya sebagai Al-Masih Al-Mau’ud (Messias yang Dijanjikan). Marzededeq menyatakan, “Baik Ahmadiyah Qadian maupun Lahore keduanya berkaitan erat dengan gerakan Freemason.”

Sementara Prof. Ahmad Syalabi, ahli perbandingan agama-agama, dalam bukunya yang sudah diterjemahkan berjudul “Agama Yahudi” menyatakan bahwa kelompok-kelompok rahasia Yahudi juga berada dalam organisasi seperti Ahmadiyah Qadiani. (hal.347). Inggris sebagai negara imprealis yang menjadikan Ahmadiyah sebagai organisasi bonekanya adalah pusat gerakan Freemason pada masa lalu, dimana Grand Lodge of England, tempat berkumpulnya para Yahudi, berdiri pertama kali. Loge Freemasonry itu melahirkan kader-kader Mason yang kemudian berusaha memecah belah agama, untuk kemudian menghapuskannya sama sekali dari muka bumi.

Indonesia meskipun menjadi anggota Liga Muslim Dunia, namun sampai saat ini belum memberikan keputusan tentang pembubaran Ahmadiyah. Meski fatwa tentang kesesatan Ahmadiyah sudah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 1980 dan ditegaskan pada tahun 2005, namun sampai hari ini pemerintah belum mengeluarkan keputusan tentang pembubaran organisasi perusak akidah ini. Ketika kasus Ahmadiyah ramai, dan tuntutan pembubaran semakin kencang, negara-negara Eropa memberikan sinyal kuat kepada pemerintah SBY agar tidak coba-coba membubarkan Ahmadiyah.

Selain itu, LSM-LSM komprador yang selama ini bekerja dalam kucuran dollar dan majikan asing, seperti Jaringan Islam Liberal (JIL), The Wahid Institute, Ford Foundation, Liberal for All Foundation (LibforAll), dan lain-lain, melalui para pengasongnya berkoar-koar membela Ahmadiyah. Puncaknya, pada 1 Juni 2008, para jongos asing ini membentuk organisasi payung bernama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Mereka mengadakan Apel Siaga di Lapangan Monas untuk melindungi Ahmadiyah dari tuntutan pembubaran.

Sebelum apel siaga, mereka menebar propaganda dengan memuat iklan di beberapa media nasional, dengan tajuk “Mari Selamatkan Indonesia Kita”. Untuk mengingat lebih jelas iklan provokatif tersebut, berikut kutipannya:

“…belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhinekaan. Mereka juga menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat. Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan damai dengan umat lain. Pada akhirnya mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan konstitusi, dan menghancurkan sendi-sendi kebersamaan kita. Kami menyerukan, agar pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan keindonesiaan itu.”

Iklan provokatif tersebut disetujui oleh 289 nama tokoh yang tertera, diantaranya Abdurrahman Wahid, Ahmad Syafi’i Ma’arif, Amien Rais, Azyumardi Azra, Musdah Mulia, Rizal Mallarangeng, KH Mustofa Bishri, dan lain-lain. Siapa yang dimaksud dengan “mereka” dalam iklan tersebut? Tak perlu mengerutkan dahi dan mengerahkan intelijen hebat untuk menjawab pertanyaan itu. Tudingan itu jelas diarahkan kepada gerakan Islam yang sampai saat ini terus berupaya menegakkan syariat Islam dan membubarkan segala kelompok sesat yang menodai Islam.

Untuk membela Ahmadiyah, tak tanggung-tanggung, pentolan JIL, Ulil Abshar Abdalla, yang pernah menyatakan fatwa MUI konyol dan tolol, membuat tulisan berjudul “Doktrin-doktrin yang Kurang Perlu dalam Islam”. Ulil menyebut ada sebelas doktrin yang kurang perlu dalam Islam, diantaranya doktrin bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. “Doktrin ini jelas “janggal” dan sama sekali menggelikan. Setiap agama, dengan caranya masing-masing, memandang dirinya sebagai “pamungkas”, dan nabi atau rasulnya sebagai pamungkas pula. Doktrin ini sama sekali kurang perlu. Apakah yang ditakutkan oleh umat Islam, jika setelah Nabi Muhammad ada nabi atau rasul lagi?” tulis Ulil.

Pria yang saat ini menjadi salah seorang ketua di Partai Demokrat kemudian menambahkan,”Mengaku bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika tawadhu’ itu. Mengaku bahwa setelah Nabi Muhammad tidak ada nabi atau rasul lagi adalah berlawanan dengan etika tawadhu’,” begitu cerocos Ulil yang beberapa waktu lalu memberi masukan kepada SBY untuk membubarkan organisasi FPI.

Dari beberapa fakta di atas, makin jelaslah bahwa ada tangan-tangan asing, Zionis dan imprealis, yang berusaha agar Ahmadiyah tidak dibubarkan di Indonesia. Sebab, keberadaan Ahmadiyah di negeri dengan penduduk Muslim terbesar seperti Indonesia, menjadi nilai kebanggan tersendiri bagi para pengikut nabi palsu ini. Mereka akan semakin merasa menang, jika Indonesia, negeri yang dihuni mayoritas Muslim, tidak mampu membubarkan Ahmadiyah. Jika pemerintah SBY tak mampu atau tidak berani membubarkan Ahmadiyah, maka makin menguatkan dugaan banyak orang bahwa SBY adalah bagian dari kaki tangan asing.

 

Okt
16
Filed Under (BERITA TIMUR TENGAH) by PenYejuk haTi UntukmU on 16-10-2010

201010141103DEN HAAG – Puluhan pengacara dari lebih 20 negara akan menyiapkan gugatan terhadap Israel atas serangannya terhadap Freedom Flotilla to Gaza pada 31 Mei lalu. Hal ini diumumkan oleh Aliansi Armada Kebebasan (Freedom Flotilla) yang bertemu Senin lalu di Jenewa, Swiss.

Diberitakan PIC semalam, aliansi mengeluarkan pernyataan yang di antaranya menyebutkan, “Konvensi Jenewa, yang merupakan serangkaian aturan yang disepakati oleh masyarakat internasional untuk melindungi martabat dan nyawa manusia, terus saja dilanggar oleh Israel karena kekebalan totalnya.”

Para pengacara dari lebih 20 negara itu akan berada di Den Haag besok (14/10) untuk mengajukan tuntutan kepada jaksa penuntut umum di Mahkamah Pidana Internasional. Akan hadir bersama mereka sejumlah korban dalam serangan tersebut, keluarga mereka serta relawan kemanusiaan dari berbagai negara lainnya.

Menurut pernyataan itu, para pengacara ini juga akan memperkarakan kasus-kasus kejahatan sebelumnya yang pernah dilakukan Israel, meskipun Amerika Serikat berkali-kali menggunakan hak vetonya untuk menentang berbagai upaya penyelidikan PBB atas kejahatan Israel itu.

Nalan Dal dari Insani Yardim Vakfi (IHH), organisasi kemanusiaan Turki yang memotori Freedom Flotilla 1, mengundang para relawan yang Mei lalu diserang dengan brutal oleh tentara-tentara Israel, untuk hadir dalam media briefing esok di depan Mahkamah Pidana Internasional (Interntational Criminal Court) sesudah proses pendaftaran tuntutan tersebut.

Sementara itu, dalam perkembangan lainnya, Koalisi Freedom Flotilla 2 mengumumkan menunda keberangkatan ke Gaza hingga musim semi 2011. Konvoi tersebut semula dijadwalkan bertolak akhir 2010 ini.

Rami Abdo dari koalisi tersebut menjelaskan keputusan menunda diambil karena membengkaknya jumlah permohonan keikutsertaan dan membesarnya jumlah anggota koalisi ini. “Meskipun ancaman terus diterima koalisi Freedom Flotilla agar menghentikan rencana pelayarannya, kami tidak akan mundur, dan persiapan terus kami lakukan,” ungkap Abdo.

[Republika]

Jul
31
Filed Under (Sekilas Info) by PenYejuk haTi UntukmU on 31-07-2010

jalan-kakiJakarta - Demi keadilan bagi sang anak, apa pun akan dilakukan oleh seorang bapak. Demikian pula yang dilakukan oleh Indra Azwan. Pria berusia 51 tahun ini nekad jalan kaki dari Malang menuju Jakarta untuk menemui Presiden SBY. Indra ingin meminta keadilan atas kasus anaknya yang tewas ditabrak oknum Polri.

Ditemui detikcom saat beristirahat di sebuah SPBU di Kota Pemalang, Jawa Tengah, Selasa (20/7/2010), wajah Indra memang terlihat lelah. Namun di balik itu, tersirat semangat dan kebulatan tekad untuk tetap melanjurkan perjalanannya ke Jakarta.

“Apa pun yang terjadi saya tetap akan ke Jakarta untuk mencari keadilan atas kasus anak saya,” ujar Indra mantap.

Pria separuh baya ini kemudian bercerita tentang peristiwa kelam yang dialami buah hatinya. Menurut Indra, kisah duka itu terjadi sudah sangat lama, sekitar 17 tahun silam. Rifki, putra pertamanya yang berusia 7 tahun, tertabrak sepeda motor yang dikemudikan seorang anggota Polri ketika menyeberang jalan di depan rumahnya, Desa Watu Barat, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Rifki tewas seketika.

1738074pAwalnya, proses hukum kasus tersebut memang sempat berjalan, namun hanya sesaat. Beberapa lama kemudian, kabar proses hukum kasus ini bagai hilang ditelan bumi. Indra tidak pernah memperoleh kabar apa pun tentang perkembangan proses hukum kasus ini.

“Sampai akhirnya pada tahun 2008, anggota Polri itu disidang di PN Malang. Tapi anehnya, dia langsung divonis bebas oleh hakim,” ungkap Indra dengan nada tinggi.

Indra mengaku kesal dengan keputusan PN Malang tersebut. Dirinya merasa diperlakukan tidak adil oleh majelis hakim yang memimpin jalannya persidangan.

“Polisi itu sampai sekarang masih dinas di Polda Jatim,” ketus Indra.

Indra mengaku sudah melakukan berbagai upaya untuk memperoleh keadilan. Namun sampai saat ini, harapan untuk mendapatkan keadilan hanya angan-angan belaka. Sampai akhirnya dia nekat melakukan aksi jalan kaki Malang-Jakarta untuk menemui Presiden SBY.

“Saya berharap sekali Presiden SBY mau bertemu dan membantu rakyat kecil seperti saya mencari keadilan,” ujar pria berkacamata itu.

Saat ditemui detikcom, Indra tampak mengenakan baju kaos putih dan bercelana loreng. Dia juga berkalung potongan kain yang pada bagian depan tertera tulisan ‘Aksi Jalan Kaki Malang-Jakarta’. Sedangkan di bagian punggung atau belakangnya tertera tulisa ‘Korban Mafia Hukum’.

sumber : detiknews.com

Jul
29
Filed Under (BERITA TIMUR TENGAH) by PenYejuk haTi UntukmU on 29-07-2010

Rancang bangun RS Indonesia membutuhkan beberapa penyesuaian. Akan membuat perkiraan biaya pembangunan menjadi 2 kali lipat  Hidayatullah.com — Setelah cukup lama menunggu, akhirnya rencana pendirian RS Indonesia di Gaza Palestina semakin menemui titik terang. Upaya-upaya keras yang dilakukan oleh Tim MER-C ini sudah sampai tahap realisasi. Kamis pekan lalu (15/07) Tim MER-C berhasil menembus Gaza melalui perbatasan Rafah di Mesir. Rombongan dari Indonesia tersebut terdiri dari 6 MER-C relawan dan 4 jurnalis. Ketua Tim MER-C dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, mengatakan dalam kunjungannya tersebut, pihaknya telah berhasil melakukan beberapa pertemuan dengan pejabat dan berbagai pihak di Gaza, termasuk PM Palestina Ismail Haniya. “Semua menyatakan dukungan penuh mereka terhadap program RS Indonesia di Gaza. Dua relawan telah kembali ke tanah air, sementara tiga relawan lainnya sudah siap bertugas di Gaza sampai pembangunan RS Indonesia ini selesai,” kata Joserizal ketika berbicara dalam Press Confrence di Kantor MER-C, Jl. Kramat Raya Senen Jakarta Pusat, Senin (26/07). Adapaun keenam relawan MER-C tersebut adalah dr. Joserizal Jurnalis, SpOT (Ketua Tim), Ir. Faried Thalib, Dr. Arief Rachman, Ir. M. Baagil, Ir. Nur Ikhwan Abadi, dan Abdillah Onim. Tiga nama terakhir, Nur Ikhwan Abadi, Arief Rahman, dan Abdillah Onim, masih tinggal di Gaza sampai RS. Indonesia selesai dibangun. Joserizal menjelaskan, ide pembangunan RS Indonesia tercetus lebih dari satu tahun lalu dengan penandatangan MOU antara Tim MER-C mewakili rakyat Indonesia dengan Menteri Kesehatan Palestina di Gaza, dr. Bassim Naim. PM Palestina Ismail Haniya pun menyatakan dukungannya dan memberikan sebidang tanah waqaf yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Pemerintah Indonesia pun concern dalam memantau proyek ini. Dukungan pemerintah ditandai dengan pernyataan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada saat pertemuannya dengan Presiden Palestina, Mahmoud Abbas di Istana Negara pada hari Sabtu, 29 Mei 2010 yang menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia akan membantu Rp 20 milyar untuk Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. “Sekarang di MER-C sudah ada dana 13 milyar dari masyarakat, murni dari rakyat Indonesia. Tidak ada dana asing. Dengan adanya tambahan dana 20 milyar dari pemerintah, proyek berdirinya RS Indonesia akan semakin nyata,” jelas Joserizal ketika berbicara dalam Press Confrence di Kantor MER-C, Jl. Kramat Raya Senen Jakarta Pusat, Senin (26/07). Dalam kunjungannya bulan lalu, Ketua DPR RI dan rombongan juga berhasil berkunjung ke Gaza dan melakukan prosesi peletakan batu pertama pembangunan RS Indonesia di Bayt Lahiya. Selama berada di Gaza sejak 15 Juli 2010 lalu, selain kepada PM Palestina, Tim MER-C juga telah melakukan pertemuan dan koordinasi dengan Menteri Kesehatan Palestina di Gaza dr. Bassim Naim, Dirjen Kerumahsakitan Kementrian Kesehatan dr. Mohammad Alkasyaf, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Dr. Yousef Muhammad Elmansi, Kepala Departemen Teknik RS Asy Syifa, Fakultas Teknik Sipil Universitas Gaza, Subkontraktor di Gaza serta sejumlah lembaga. Tim juga segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi tanah waqaf di Bayt Lahiya dan melakukan soil investigation yang dibantu oleh Fakultas Teknik Sipil di Gaza untuk mengukur dan menilai kontur tanah. Dari hasil pertemuan-pertemuan tersebut, rancang bangun RS Indonesia akan membutuhkan beberapa penyesuaian, yaitu ruang bawah tanah (basement) dan struktur pondasi untuk 4 lantai. Penyesuaian ini, lanjut Joserizal, akan membuat perkiraan biaya pembangunan bisa menjadi 2 kali lipat. Kabar yang menggembirakan adalah tersedianya sejumlah bahan bangunan sehingga diharapkan pembangunan Rumah Sakit ini bisa segera dimulai. “Alhamdulillah, bahan-bahan bangunan seperti semen dan besi pancang sudah tersedia. Itu semua didrop lewat terowongan bawah tanah,” papar Joserizal. Untuk melaporkan progress awal pembangunan RS Indonesia di Gaza, Tim MER-C sudah mengajukan permohonan audiensi kepada Presiden RI dan Ketua DPR RI. Sebelumnya, dua relawan MER-C yang sudah keluar dari Gaza, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib, juga sudah menemui Dubes RI untuk Mesir, AM. Fachir, guna melaporkan perkembangan yang terjadi di dalam Gaza dan mengusulkan beberapa hal dalam rangka mempermudah aliran masuk bantuan dan tenaga relawan dari Indonesia menuju Gaza. Di samping itu, MER-C juga akan terus ikut mengkampanyekan pembukaan blokade atas Gaza. Bersama sejumlah negara dan lembaga, insya Allah pada bulan Oktober 2010 nanti MER-C, VoP (Voice of Palestine), lembaga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Indonesia untuk Palestina dan elemen bangsa Indonesia lainnya, akan berpartisipasi mengirimkan satu kapal buatan nusantara, yakni “Kapal Phinisi” untuk turut berlayar menembus blokade Gaza melalui Jalur Laut. [ain/www.hidayatullah.com]

Jul
29
Filed Under (CERPIS (CERITA PENDEK ISLAMI)) by PenYejuk haTi UntukmU on 29-07-2010

Penulis: Nurainun

“Allahu Akbar… Allahu Akbar!”

Alunan azan membahana dari masjid seantero kota Surabaya. Udara pagi terasa menelusuk tulang hingga mendorong tanganku menarik selimut dan menyempurnakan posisiku, menutupi seluruh bagian tubuhku.

“Allahu Akbar… Allhu Akbar!”

Seruan itu kembali mengoyak telingaku. Akhh… mataku terasa berat sekali. Kurasakan lelah yang mendera di sekujur tubuh. Kututup kedua telingaku dengan bantal. Aku tak hendak mendengarkan seruan itu.

“Asyhadu anlaa ilaaha illalloh…!” Aku tak sanggup lagi. Mataku telah tergembok rapat. Semalaman aku berkencan dengan seabrek tugas kantor yang harus kuselesaikan hari kemarin. Keadaan seperti ini sering terjadi saat aku sedang kelelahan tak bisa mengahantarkan tubuhku ke kedinginan air yang menyergapku. Aku kalah pada keadaan. Sebenarnya tidak juga begitu. Aku terserang penyakit malas. Karena kesibukanku yang makin menggila. Aku rasa, aku butuh istirahat yang cukup.

***

Kriiingg… kring…! suara jam weaker mengejutkanku hingga aku terbangun dari tidur yang tak begitu nyaman. Pukul tujuh. Artinya, aku harus segera bersiap-siap pergi ke kantor. Aku harus lekas menemui relasi dan klien-klienku, tak boleh terlambat. Tak lama kemudian, hand phoneku berdering.

“Hallo… dengan Rio, ada apa menghubungi saya pagi-pagi begini?”

“…………”

“ Baik saya segera ke kantor!”

Dalam sekejap BMW-ku melaju melewati jalanan kota yang mulai dilanda macet dan berbaur dengan aroma CO2. Udara yang seharusnya masih segar dan sehat sepagi ini, telah dilalap kentalnya kadar karbondioksida yang membanjiri Surabaya. Namun aku sudah bersahabat dengan segala keadaan ini, karena mencari uang adalah hidupku. Kesibukan duniawi yang membawaku kepada kenyamanan lahir, telah membuatku puas.

Dulu, waktu Ibu masih hidup, aku selalu dibanjiri oleh nasihatnya agar aku tak meninggalkan shalat. Tapi nikmatnya dunia kini membuatku berpikir, untuk apa aku shalat? Toh rezeki itu aku yang kejar sendiri. Ia tak akan datang ketika aku hanya berdiam diri dan shalat di rumah. Kalau aku begitu, jadilah aku orang yang miskin, yang hanya mengharap belas kasihan orang lain untuk dapat makan barang sehari. Tak mungkin uang akan turun dari langit seperti hujan. Mustahil. Dan jadi orang miskin itu hanya merusak martabat manusia. Membuat aib saja.

“Assalamualaikum! Selamat pagi, Bos!” sapa seorang karyawan.

“Pagi..” aku menjawab tanpa menoleh. Aku menerobos ruang dan waktu, berjalan angkuh layaknya seorang bos. Itulah hari-hariku. Ya, seperti yang aku ceritakan sebelumnya. Aku puas dengan semua kecukupan yang aku miliki sekarang. Limpahan harta. Kesenangan dunia membuatku perlahan melupakan bahkan tak merasa ada orang yang telah melahirkanku dulu. Bagiku, itu memang sudah takdir. Dan sekarang aku bisa mengubah takdir dengan tanganku. Haahh… aku senang dengan hidupku.

***

Ruang kantorku sengaja dirancang kedap suara, karena aku menginginkan kenyamanan ketika berada di dalamnya. Aku tak mau terganggu oleh deru mesin kendaraan yang berlalu hilir mudik di sekitar kantorku. Memang, letak kantorku sangat strategis. Dan aku tak sadar, bangunan seperti itu juga telah melalaikanku dari mendengarkan suara azan. Tiba-tiba ada perasaan tak nyaman hinggap di bagian tubuhku yang paling dalam. Menyeringai, menelusuk relung hatiku. Aku merasakan ketaknyamanan tak bertepi. “Jangan lupa sholat Nak!…” sekelebat bayangan wanita 50 tahun-an lewat di ruang otakku. Namun segera kuenyahkan perasaan dan bayangan itu.

“Tok..tok..tok!”

Partikel-partikel pada daun pintuku bergerak menghasilkan gelombang bunyi yang berfrekuensi tinggi dan mengejutkanku.

“Masuk!” jawabku sekenanya.

“Pak Rio, saya minta izin 15 menit keluar dulu…!”

“Sari kemarin kok izan, izin… Bapak tidak lihat apa kantor kita sedang banyak orderan?! Baru setahun jadi karyawan di sini sudah berani sering-sering izin!”

“Iya, saya tau, Pak… insya Allah nanti setelah saya kembali, saya selesaikan tugas saya.”

“Baiklah! Sepuluh menit!” Aku marah.

Entah apa yang membuatku marah. Mungkin rasa berkuasalah yang selama ini telah mengalahkanku. Selama ini memang aku selalu sensitif jika sedang berhadapan dengan karyawan-karyawanku. Aku selalu memposisikan diriku sebagai bos. Aku merasa bahwa aku berkuasa atas hidup mereka. Aku merasa hidup mereka ada di tanganku. Kapan pun aku bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan. Dan selama ini, jika ada karyawan yang ku-PHK, banyak dari mereka yang memohon-mohon padaku untuk dikembalikan pekerjaannya.

Tapi kurasakan keanehan kini, aku merasa tak enak hati setelah memarahi Pak Halim, seorang karyawan yang setiap pukul 12.00 dan 15.00 meminta izin untuk keluar sejenak. Yang mukanya selalu teduh menghadapi keegoisanku. Selalu sabar menghadapi luapan emosiku yang kerap meledak-ledak di hadapannya.

Setahuku dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku juga tahu dia mempunyai potensi yang besar untuk memajukan perusahaanku. Karena itulah, aku tetap mempertahankannya di perusahaanku. Pun ia tak pernah melalaikan tugasnya. Ia sangat bertanggung jawab. Lantas apa yang membuat aku marah-marah padanya hari ini dan tak jarang pada hari-hari lain?

“Lama sekali orang ini!” Aku membatin sambil menunggu Pak Halim yang sudah hampir setengah jam tak muncul- muncul juga di hadapanku.
Aku tahu, Pak Halim izin keluar hanya untuk menunaikan shalat; yang seharusnya aku pun melakukannya. Namun karena sering melalaikannya, aku jadi terbiasa tidak melaksanakan shalat. Aku tak merasa berdosa. Aku membiasakan diriku tuk tidak mendengarkan hatiku.

“Maaf, Pak! Tadi saya harus…”

“Ah… Alasan saja Anda ini! Mulai besok, Anda tidak boleh duduk di kursi itu lagi!”

Pak Halim paham apa maksud ucapanku dan ia lalu berpamitan setelah mengucapkan terima kasih.

***

Sejak kejadian itu, aku kini sering merenung. Aku sendiri kini yang harus memikirkan nasib perusahaanku. Dalam kondisi diriku yang seperti ini, bayangan wanita tua yang selalu mengingatkanku akan shalat pun selalu muncul setiap kali aku membutuhkan konsentrasi untuk memikirkan nasib perusahaan. Keputusan yang kuambil tak pernah tepat kini. Alhasil, perusahaanku pun gulung tikar. Utang di mana-mana.

“Aghhhhrrrhhh…!” Aku marah pada diriku sendiri. Aku terlalu egois. Kalau saja Pak Halim masih mendampingiku, aku tak akan sesusah ini. Ah… aku menyesal.

Kustarter BMW-ku, mesin berbunyi halus. Tanpa konsentrasi yang penuh, aku melaju.. Kali ini tak tahu aku akan pergi ke mana. Aku tak tahu, ingin aku kembali ke kampung halaman, meminta maaf pada ibuku, menziarahi kuburnya, aku malu. Pun begitu juga kepada saudara-saudaraku. Pak Halim, yang terkadang menjadi tempat curhatku, kini tak ada lagi di sampingku.

“Nak, bagaimanapun, jangan tinggalkan shalat! Itu adalah ibadah yang pertama kali dihisab.” Tiba-tiba bayangan Ibu muncul lagi di kaca depan mobilku. Menghalangi pandanganku ke depan.

“Nak! Kembalilah kejalan Tuhan-Mu!” Kali ini keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku menggigil. Perasaanku tak karuan.

“Nak! Ingatlah… semua harta benda hanya titipannya… kembalilah!”

“Tidaakk…!” Klakson dari mobil belakangku membuat konsentrasiku makin membuyar. Sorotan cahaya lampu dari mobil yang berlawanan arah denganku menyilaukan pandangan ini, saat bayangan Ibu hilang, yang kulihat hanya cahaya terang. Terang sekali, hingga aku tak nyaris buta. Klakson dari belakang terus beriringan.

“Ciiitttt! Brakkkk!!”

“Aduhh…” kurasakan nyeri yang tak terperi di bagian kepalaku. Cairan hangat mengalir dari kedua telingaku. Aku tak dapat menahan rasa nyeri yang amat sangat ini. “Bu,… maafkan aku…!”

“Ini peringatan buatmu, Nak! Kembalilah!” itu adalah kalimat terakhir ibu yang masih dapat kudengar dan kuingat. Ingatanku hilang seiring hilangnya bayangannya.

***

“Di mana aku? Mana Ibu ..?” Samar-samar kulihat wajah yang tak asing itu duduk di sampingku.

“Pak Halim? Kau kah yang membawaku ke rumah sakit ini?!”sembari bertanya-tanya pada diriku sendiri, mulutku terus berkomat-kamit.

Pak Halim hanya memandangiku haru. Air matanya mengalir. Sesekali ia seperti mengucapkan sesuatu kepadaku. Tapi aku tak mendengar apa-apa. “Astaghfirullohal’azhiim…!!!” ku berteriak mengharapkan ampunan dari Allah. Namun lagi-lagi, aku tak mendengar teriakanku sendiri. Tiba-tiba telingaku sakit. Dan aku baru sadar, kecelakaan malam itu membuatku tak dapat mendengar dan mungkin juga tak dapat berbicara. Aku tuli.

Tak ada yang lain yang bisa kulakukan. Hanya jeritan dalam hati yang mampu aku teriakkan. Tubuhku menggigil, kurasakan ngilu di ulu hatiku, seperti ditusuk sembilu. Dalam dan semakin dalam. Aku ingin shalat. Jam di dinding kamar putih itu menunjukkan pukul dua belas siang, waktu yang aku gunakan untuk memarahi Pak Halim yang izin keluar untuk melaksanakan shalat. Waktu ketika aku sering mengunci rapat-rapat telingaku dari suara azan yang mengalun syahdu. Dan kini suara itu benar-benar tak dapat lagi kudengar. Selama-lamanya.
sumber : majalah annida

Jul
29
Filed Under (Sekilas Info) by PenYejuk haTi UntukmU on 29-07-2010

Gaza telah banyak ditulis media massa sebagai pusat konflik. Di kota
kecil yang padat inilah lahir ratusan pejuang Palestina. Mengapa Israel
tak pernah bisa menaklukkannya?

Hidayatullah.com–Jalur
Gaza, adalah sebuah tempat yang menyiratkan kepedihan, namun juga
semangat perjuangan bagi banyak rakyat Palestina. Wilayah ini luasnya 
hanya 360 km² –separuh wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta–
dengan jumlah penduduknya sekitar 1.225.911 (2002).

Jalur Gaza
hanya sepetak tanah tandus di Palestina. Agak berbeda dengan Gaza City,
yang kini dijadikan sebagai ibu kotanya. Di Gaza City, sebagaimana
daerah Yerusalem, subur luar biasa. Gaza kumuh dan semrawut. Dokar,
mobil, motor dan kendaraan lainnya campur aduk.

Sudah miskin
teraniaya pula. Selain lokasinya yang berada di ujung dekat perbatasan
Mesir dan diapit oleh laut Mediterania, Israel menempatkan balok-balok
cor setinggi 9 meter (lebih tinggi dari tembok Berlin), meliputi Jalur
Gaza dari selatan, utara dan timur untuk membatasi ruang gerak warga. 
Tembok ini dilengkapi dengan sarana keamanan, alat penyergapan, tempat
pengintai, alat-alat komunikasi, deteksi peringatan, alat perekam, dan
alat-alat elektronik lainnya. Gaza ibarat akuarium hidup dan penjara
besar banga Palestina.

Daerah miskin ini semakin menderita
tatkala berbagai tekanan militer Israel terus diarahkan ke Gaza. Karena
itulah, Jalur Gaza hingga sampai saat ini tetap menjadi daerah berbahaya
bagi kalangan jurnalis. Di kota kecil yang kumuh inilah Presiden
Mahmoud Abbas pernah berkantor, sebelum Gaza dikuasai Hamas.

Gaza
merupakan wilayah yang masih belum terjamah oleh pendudukan Israel.
Keberadaannya sebagai akibat dari  perang Arab-Israel tahun 1948 dan
Perang Enam Hari pada 1967, yang efeknya berakhir pembagian batas-batas
wilayah antara Israel dan Palestina, yakni; Tepi Barat, Jalur Gaza, dan
Yerusalem Timur, akibat dari pencaplokan Semenanjung Sinai, Dataran
Tinggi Golan, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur  oleh Israel. Sejak itu,
Israel membangun dan memperluas koloni Yahudi di Tepi Barat dan Jalur
Gaza, serta menguasai lebih dari 50% teritori yang diduduki.
Zionis-Israel juga meluaskan aneksasinya ke wilayah Yerusalem Timur dan
Al-Aqsa, tempat suci yang pernah menjadi kiblat umat Islam sedunia.

Kini,
Gaza lebih dikenal sebagai tempat jutaan orang melarikan diri dan
tempat mengungsi. Anak-anak berlomba membantu orangtua mereka
mengumpulkan makanan dari pusat distribusi bantuan PBB, sementara para
perempuan berkumpul di dekat truk-truk, menunggu nama mereka di panggil
untuk menerima jatah makanan.

Sejak Hamas berhasil menguasai
Gaza, Israel dibantu Fatah langsung mengisolasi wilayah itu. Israel,
selain menyatakan perang terhadap Hamas, juga telah menutup
penyeberangan kunci perbatasan, menghentikan perdagangan, dan memaksa
ribuan warga Palestina mencari tempat perlindungan ke lembaga-lembaga
bantuan PBB.

Badan bantuan PBB untuk para pengungsi Palestina
mengatakan, hampir 825.000 orang dari 1,5 juta warga Gaza termasuk
kategori pengungsi.

Namun kondisi ini, sesungguhnya bukanlah
mencerminkan keadaan sebenarnya. Sebab, jika warga Palestina di Gaza
diberi kesempatan seperti yang lain, mereka bisa hidup secara baik.
Israel dan negara-negara Barat, adalah bagian tak terpisahkan sebagai
pencipta kekacauan ini.

Kesimpulan ini disampaikan oleh Shami
Shafi, seorang konsultan perusahaan di Jalur Gaza. “Penduduk di Gaza
punya peluang dan potensi untuk membangun perekonomian yang sukses, bila
mereka diperlakukan sebagai manusia. Bila mereka diizinkan untuk
bergerak. Kami bisa berkembang, tetapi kami harus bebas, bebas bergerak
dan dapat memanfaatkan peluang yang ada,” ujar Shafi yang tahun lalu
mendirikan perusahaan untuk memajukan perkembangan ekonomi di Gaza,
sebagaimana dikutip Islamonline.

Janji Syeikh Yasin

Gaza
adalah saksi hidup berbagai peristiwa, termasuk berbagai luka bangsa
Palestina. Banyak pejuang Islam lahir dari kota kecil ini, seperti  Dr.
Mahmud el Zehhar dan Ismail Haniyah, Perdana Menteri Palestina yang
dipecat Presiden Mahmoud Abbas (meski tetap bekerja sebagaimana biasa).
Termasuk di antaranya adalah Muhammad bin Idris al-Syafi‘e atau yang
kita kenal dengan Imam Syafii.  

PBB pernah menyampaikan, Gaza
adalah tempat paling  dilematik. Lokasi ini, katanya, sebagai lokasi
paling rawan nomor lima sedunia. Namun di tempat ini pula,  ”Harakah
al-Muqawamah al-Islamiyah” (Gerakan Perlawanan Islam) atau Hamas
didirikan pertama kali.

Gaza, adalah sisa dari tempat untuk
mengumpulkan semangat perlawanan para pejuang Palestina melawan
penjajah. Khalid Mishaal,  Kepala Biro Politik Hamas kepada pers, pernah
mengatakan, strategi Hamas di Gaza sebagai ”Strategi Nafas Panjang”.

“Nafas
panjang” itulah yang kini sedang diperlihatkan Hamas di saat sudah
mulai tak mempercayai Presiden Mahmoud Abbas dan gerakan Al-Fatah, yang
kini, justru lebih memilih dekat dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).
 

Almarhum Syeikh Yasin, yang juga pendiri Hamas pernah berjanji
akan menjaga Gaza. ”Saya tegaskan kepada penjajah Israel bahwa memasuki
wilayah Jalur Gaza tidaklah mudah seperti pergi ber-rekreasi; militer
Israel harus membayar mahal dan akan menderita kerugian yang sulit
dibayangkan,” ujarnya suatu hari, dikutip Palestine Information Center pada tahun 2002.

Gaza, Sesudah Hamas Berkuasa

Dunia
terperanjat ketika Hamas secara tiba-tiba menduduki kantor Kepresidenan
Mahmoud Abbas di Gaza, awal 14 Juni 2007 lalu. Hamas telah menguasai
sepenuhnya Jalur Gaza, beberapa jam setelah Presiden Mahmoud Abbas
membubarkan parlemen dan menyatakan keadaan darurat.

Kisah ini,
adalah akhir dari gesekan antara dua pejuang pembebasan Palestina, Hamas
dan Fatah, pimpinan Mahmoud Abbas. Kabarnya, akibat konflik tak ada
ujungnya itu, sedikitnya telah menewaskan 100 warga Palestina.

Sehari
Hamas berkuasa, sepanjang malam, bendera Hijau (bendera Hamas) berkibar
sebagian wilayah Gaza. Para pendukung Hamas merayakannya di
jalan-jalan. Sementara itu, serdadu Fatah terlihat diikat dan dibawa
dengan mobil.

“Semua markas di layanan keamanan Jalur Gaza berada
di bawah kontrol Brigade Izuddin al-Qassam, termasuk kompleks
presiden,” kata seorang jurubicara sayap bersenjata Hamas kepada kantor
berita AFP. Brigade Izuddin al-Qassam adalah sayap militer bentukan Hamas paling ditakuti Israel.

Keputusan
Hamas menguasai markas presiden adalah cara terakhir mencari
konsilisasi dengan Fatah, setelah beberapa kali usaha menyatukan
pandangan tak berhasil. Namun Ismail Haniyah menolak anggapan
terpisahnya Gaza dan Tepi Barat. “Jalur Gaza merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dan bagian integral dari ibu pertiwi rakyat Palestina,”
tuturnya.

Liputan media massa asing kontan seragam. Bahkan, media
massa Indonesia –yang sering hanya mengutip pers Barat—lebih membela
Mahmoud Abbas dan kelompok Fatah yang justru berlindung pada Amerika dan
Israel.

Karena Jalur Gaza adalah tempat paling rawan bagi
wartawan, tempat ini nyaris tak terberitakan secara fair oleh banyak
media. Di antara media lokal yang secara baik memberitakan kondisi
tempat itu adalah Mafkarah Al Islam, yang memiliki koresponden di Gaza dan Palestina.

Sebagaimana dikutip Mafkarah Al Islam,
kondisi Gaza pascapertempuran jauh berbalik 180 derajat. Sebelum
pecahnya pertempuran antara Fatah dan Hamas yang berakhir dengan
menyingkirnya Fatah dan pasukannya, kondisi jalur Gaza amat parah untuk
bisa diceritakan. Kevakuman keamanan, rasa takut, dan serangkaian
kekacauan terjadi di mana-mana. Kecemasan dirasakan sepanjang waktu,
tatkala Fatah berkuasa.

Aktivitas kejahatan seperti perampokan,
aksi penculikan terhadap para ulama, dan imam masjid penghafal Al
Qur’an, serta pecahnya baku tembak karena masalah-masalah remeh –yang
terjadi antarkelompok, pribadi, atau antarkeluarga—setiap saat terjadi.

Kekacauan
merembet pada ketiadaan hukum. Termasuk permusuhan terhadap pengadilan,
yaitu dengan cara membebaskan para tertuduh dengan paksa dari tuduhan,
serta melepaskan orang-orang yang telah divonis kurungan dan
pengintimidasian terhadap para hakim supaya mau melepaskan pekerjaanya.

Dr.
Shalih Raqab, Wakil Kementerian Wakaf dari jalur Gaza menyatakan,
sembilan ulama terbunuh di tangan sempalan revolusi. Biasanya, mereka
menjadikan orang-orang berjenggot dan mereka yang terlihat sebagai
aktivis Islam sebagai sasaran.

Puluhan kaum muslim yang
berjenggot telah menjadi korban penyiksaan sempalan pengikut Ahmad
Dahlan, salah satu pengikut Fatah. Dan kekejaman yang paling buruk dari
pengikut Mahmoud Abbas ketika menculik Hisam Abu Qainash, kemudian
melemparkannya dari lantai lima belas. Namun situasi itu terhenti
tatkala Hamas menguasa Gaza.

Minuman Keras dan Prostitusi

Semenjak Jalur Gaza dikuasai Brigade Izzuddin Al-Qasam, kota kecil yang padat ini nyaris terkendali.

Sejumlah
pendunduk dari berbagai tingkatan mengungkapkan dengan gembira
ketenangan yang mereka rasakan, yang telah hilang sejak beberapa tahun. 
Adalah Syakir Ashfur dari Khan Yunis Gaza selatan yang juga mahasiswa
di Universitas Islam Gaza, bisa aktif kembali untuk pergi ke universitas
setelah sebelumnya hal itu tidak bisa ia lakukan karena ia berjenggot.
Selain itu, ujarnya, posisi Universitas Islam Gaza sendiri berada di
tengah-tengah titik konflik.

“Aku menghadapi kesulitan yang amat
sangat ketika pergi untuk melaksanakan shalat Subuh dan isya di masjid.
Aku merasa tidak akan kembali dalam keadaan hidup setelah shalat, kami
merasa tidak aman sama sekali.”

Namun kekhawatiran itu ternyata
tak terjadi. Yang terjadi adalah hancurnya kelompok Dahlani. Yang
dimaksud dengan Dahlani adalah pengikut setia pasukan Ahmad Dahlan,
kelompok bersenjata di bawah Presiden Mahmoud Abbas.

Menurut
Ashfur, hancurnya sempalan Dahlani adalah bentuk murka Allah terhadap
mereka karena pembangkangan mereka terhadap Allah, ulama, dan para imam
masjid.

Sebuah Organisasi Independen untuk Hak-Hak Penduduk
Palestina dalam data statistiknya pada tahun 2007 menunjukan bahwa dalam
satu bulan rata-rata 54 orang tewas di jalur Gaza karena perselisihan
keluarga, pencurian, dan sebab-sebab lainnya yang menyebabkan hilangnya
rasa aman.

Setelah dua minggu Gaza di bawah kontrol Al-Qasam,
beberapa sumber dari kalangan medis menyebutkan bahwa seluruh rumah
sakit yang berada di penjuru Gaza tidak didatangi seorang pasien pun
yang sakit atau terluka akibat hilangnya kontrol keamanan.

Pagi
hari, setelah al-Qasam mengumumkan menguasai jalur Gaza, Milisi al-Qasam
mendatangi pusat-pusat penjualan minuman keras. Di antaranya, tempat 
terkenal  At Tahliyah di daerah Khan Yunis, Gaza selatan. Tempat itu
bisa dikuasai seluruhnya oleh Al-Qasam dan dibunuhnya tiga “dedengkot”
penjual dan produsen obat-obatan terlarang, kemudian memusnahkan barang
haram ini dengan jumlah yang amat besar.

Al-Qasam juga mendatangi
rumah-rumah bordir dan tempat praktik prostitusi yang sebelumnya
dilegalkan oleh pihak yang bertanggung jawab. Sekarang sudah tidak
ditemukan lagi di Jalur Gaza. Sudah banyak diketahui bahwa di tempat
inilah Israel menciptakan “tentara” dengan jumlah amat besar dari
orang-orang Palestina sendiri, yaitu dengan mengambil gambar ketika
mereka melakukan perzinaan dan mengancam akan menyebarkan gambar itu
jika ia enggan membantu Israel. Biasanya, pria-pria yang direkam
gambarnya ini lantas diperas agar bersedia menjadi ”mata-mata” Israel.

Mudah-mudahan ketaatan pada agama ini bisa menjadi sumber kekuatan tidak terputus bagi pejuang Palestina di Gaza.  [Thoriq/cha/www.hidayatullah.com]