Mar
13
Filed Under (CERPIS (CERITA PENDEK ISLAMI)) by PenYejuk haTi UntukmU on 13-03-2010

Penulis: Azzura Dayana
angkasa“Maret, kok berani banget kamu? Beneran baru kenal?” suaranya agak meninggi di telepon. Aku tahu dia bukan marah, tapi lebih kepada kaget.

“Iwyhaa…,” jawabku membenarkan, sambil mulutku terus mengunyah roti.

“Baru kenal di Facebook?” cecarnya lagi.

“Iwyhaa….” sahutku, kali ini langsung menelan kunyahan roti terakhirku.

“Hei, berhenti makan roti!” perintahnya.

Aku menjauhkan ponsel dari kupingku. Santai, dong!

“Ini juga udah selesai…,” aku mencibir.

“Nggak sopan, ngobrol sama orangtua kayak gitu…”

“Udah tua nih yee?” aku malah jahil.

Tak ada suara. Aku yakin dia jadi sedikit dongkol.

“Eh, sorry, Kang. Lanjut deh… lanjuuut,” kataku. Ya ya ya… bagaimana pun, laki-laki yang sedang berbicara di telepon ini adalah kakakku. Tadi siang, aku menulis status di Facebook seperti ini: ‘Kesampean juga mo naik Semeru lusa. Abis berselancar di Facebook, ketemu teman-teman yang punya rencana sama, akhirnya aku join deh… Asyiiik….’ Rupanya Kang Juni membaca statusku itu, dan sore ini ia melancarkan interogasi kepadaku.

“Apa kamu nggak khawatir? Kamu bakal naik gunung, Maret! Lebih dari sehari semalam bersama. Dan kamu bilang, kalian bertujuh, perempuannya cuma dua orang termasuk kamu?”

“Maksudnya, Kang Juni khawatir orang seperti apa lima cowok itu?”

“Bahkan aku mengkhawatirkan satu cewek itu juga. Gimana kalau ternyata mereka itu satu persekongkolan?”

Ciri-ciri orang yang over-protektif memang begini ini.

“Persekongkolan apa sih, Kang?”

“Persekongkolan apa saja. Yang pasti tujuannya tidak baik.”

“Maret yakin mereka cowok-cowok yang baik, Kang,” belaku.

“Tahu dari mana?”

“Dari tulisannya di Facebook, foto-fotonya…”

“Orang mana bisa dinilai baik buruknya cuma dari tulisan dan fotonya saja,” sambarnya, persis kayak petir.

Aku bersungut-sungut. Kang Juni memang pengganti orangtuaku yang telah tiada. Dia kakak pertamaku, bekerja di Jakarta dan sudah berkeluarga. Aku, si bungsu, tinggal bersama kakak perempuanku yang juga sudah berkeluarga di Bekasi. Tapi, Teh Mei tidak secerewet Kang Juni. Dia sih boleh-boleh saja aku naik gunung. Dulu aku menaklukkan puncak Gunung Gede saja bareng Teh Mei. Juga Gunung Papandayan di Garut yang sangat tinggi itu. Kalau Kang Juni sih, seumur hidup dia lebih suka bekerja indoor daripada melihat-lihat dunia.

“Kalau Kang Juni khawatir, ya Kang Juni ikut aja naik gunung nemenin Maret. Sekali-sekali ini…”

“Pekerjaanku banyak!” sahutnya cepat.

“Pekerjaan Maret juga banyak. Makanya mau refreshing bentar dengan naik gunung….”

“Refreshing kok caranya naik gunung?! Di mana-mana, yang namanya naik gunung itu, risikonya tinggi, rawan kecelakaan, pulangnya pegal-pegal, badan sakit semua, mesti ke tukang urut atau dokter, akhirnya bisanya tiduran melulu, besoknya izin nggak masuk kerja. Pekerjaan pun akhirnya numpuk, nggak selesai-selesai…”

Ciri-ciri orang yang nggak pernah naik gunung.

Mungkin naik gunung memang berisiko, tapi nggak seheboh itu deh kayaknya…

“Terus Maret harus gimana? Maret nggak mau ngebatalin naik Semeru…,” rengekku.

“Kamu harus bawa teman yang sudah kamu kenal baik. Minimal satu orang.”

“Yaah… siapa dong?”

“Siapa saja. Freza kek, siapa kek? Kalau perlu, kamu bayarin biar dia mau.”

What? Freza? Freza temanku yang ceking itu? Yang alergi minum susu dan pernah sekali nggak naik kelas waktu SD? Tapi… tidak masalah deh. Yang penting surat izin Kang Juni turun. Lagipula, sepertinya Freza cukup bisa diandalkan. Dulu kan dia pernah bilang rajin ikut karate.

Kalau Kang Juni tahu aku berangkat ke Jawa Timur naik kereta api ekonomi, dia pasti ngamuk-ngamuk lagi. Akhirnya, aku pun membujuk Teh Mei untuk merahasiakan hal itu dari Kang Juni. Jika Kang Juni bertanya, kami akan mengatakan bahwa aku dan teman-temanku naik kereta api eksekutif menuju Malang. Teh Mei cukup berjiwa backpacker, jadi ia tidak mempermasalahkan urusan perkeretaan itu. Ia malah berkata, andai ia belum punya bayi, ia mungkin sudah ikut aku ke Semeru.

“Seandainya edelweiss boleh dipetik, aku ingin titip petikkan satu. Tapi karena tidak boleh, aku titip foto bunga-bunga edelweiss saja, ya,” kata Teh Mei. Dia pernah sekali naik Semeru bersama teman-temannya. Dan ia sangat terkesan pada bunga edelweiss.

“Bereees!” kataku sambil mengelap lensa DSLR.

Jam satu siang, aku tiba di stasiun Senen bersama Freza. Freza ini adalah teman baikku sejak SD. Pada saat SMP dan SMA, sekolah kami berbeda. Tapi kami dipertemukan kembali ketika kuliah di sebuah universitas di Bekasi, meskipun berbeda fakultas.

Kami celingak-celinguk mencari rombongan enam orang Facebooker yang akan menjadi teman seperjalanan kami itu. Sebuah sms masuk, mengabarkan bahwa Hadi, si ketua rombongan telah menunggu kami di lobi. Tiket buat kami berdua juga sudah dibelikan. Aku penasaran bertemu mereka secara langsung. Kami baru sebatas saling melihat foto-foto di Facebook saja. Aku yakin begitu saja untuk bergabung dengan mereka, karena dari catatan, status, dan foto-foto mereka, dapat kusimpulkan bahwa sebagian dari mereka aktif di lembaga dakwah di kampus mereka di Jakarta. Sebagian lainnya aktif di Mapala, dan ada juga yang sudah bekerja di kantor, termasuk si perempuan satu-satunya bernama Rei. Ia mengenakan jilbab sebatas dada. Wajahnya manis dan ramah. Aku yakin, mereka orang baik-baik.

“Assalamualaikum, Maret, Freza, salam kenal…” sebuah suara mampir. Aku dan Freza menoleh. Satu sosok tinggi menjulang seolah sedang menghadang kami. Rambutnya gondrong, kulitnya coklat. Ia memperkenalkan diri sebagai Hadi.

“Keretanya sudah datang. Teman-teman sudah ada yang menunggu di kereta. Ayo!” ajaknya.

Aku menelan ludah. Beuuh… Bucek Depp berkulit cokelat!

Kami masuk. Ternyata rombongan itu sudah lengkap, tapi masih terpisah-pisah karena sebagian sudah duduk di kereta, sebagian lagi sedang shalat jamak di mushala stasiun. Hadi mengantar kami sampai ke tempat duduk kami di kereta. Rupanya kami menempati gerbong paling ujung dari kereta Matarmaja. Di sanalah aku berkenalan dengan empat orang yaitu Rei, Wildan, Bayu, dan Aros. Mereka rame dan kocak sekali. Setelah menaruh carrier dan ngobrol sebentar, muncul dua makhluk terakhir yang baru kembali dari mushala.

Salah satu dari mereka, Ben, pemuda bertubuh serupa Freza, tersenyum dan menyapa kami dengan gaya kemayunya. Teman-temannya tertawa-tawa meledek. Sedangkan pemuda yang satunya, langsung duduk di kursinya tanpa ekspresi. Hadi yang menegurnya, “Hei, Ang, nggak mau kenalan lu?”

Yang dipanggil cuek saja.

Aku duduk di dekat Rei yang rupanya adalah seorang cewek tomboy. Dari ceritanya aku tahu bahwa ia seorang karateka, kawan berlatih Hadi yang mantan ketua Mapala di kampusnya. Aros dan Bayu adalah aktivis dakwah kampus. Sedangkan Ben, sama seperti Hadi, adalah seorang pekerja kantor, dan Freza segera akrab dengan “kembarannya” yang satu itu. Rei masih aktif di Mapala, sedangkan Ang dulu juga aktif ketika masih kuliah.

Sosok Ang ini, mengingatkanku pada Kang Juni. Dingin!

Ya, sepanjang perjalanan, hanya dia yang tidak banyak terlibat dalam obrolan. Kesibukannya hanya dua hal: memencet-mencet Blackberrynya, atau membaca sebuah buku humor yang cukup tebal, tapi tidak cukup untuk membuatnya tertawa sedikit pun.

Ciri-ciri orang aneh.

Tapi aku cukup terhibur dengan ulah Hadi dan teman-teman yang selalu heboh dan mengesankan. Ben rupanya pandai menyanyi, jadi ketika Hadi kesulitan tidur di malam hari, ia dengan sukarela menyanyikan nina bobo. Suasana kereta yang ramai karena banyak penjual makanan mondar-mandir memang tidak kondusif untuk tidur.

Jam enam pagi, hari mulai terang, terlihat dari kaca jendela. Rei baru bisa tidur setelah semalam katanya hanya tertidur dua jam. Formasi lengkap, kecuali… Ya, hanya Ang yang tidak ada.

“Za, kita ke ujung kereta yuk. Teh Mei bilang, asyik ngeliat rel di belakang kereta yang lagi jalan,” kataku pada Freza. Anak itu setuju. Aku mengalungkan kameraku ke leher. Kami pun beranjak meninggalkan teman-teman kami yang masih tidur ayam-ayam.

Tak kusangka, di ujung kereta itu, Ang sedang berdiri sambil bersandar di pintu. Ia melihat kami, dan aku tersenyum kikuk ke arahnya.

“Oh, rupanya Mas Ang di sini…,” kata Freza. Ang cuma mengangguk kecil.

Rencanaku yang tadi ingin bergaya norak bin narsis dengan latar rel kereta jadi kuurungkan. Malu pada Ang yang cool itu. Akhirnya, aku harus berpuas diri memotret rel saja.

Aku dan Freza duduk di pintu sambil memandangi rel. Tapi lama-kelamaan, pusing juga melihat rel yang seolah bergerak cepat itu. Aku berdiri. Ang masih sibuk memencet BB-nya. Apa saja sih yang dipencetnya sepanjang hari, kok nggak beres-beres?

“Sudah pernah naik gunung?”

Hah? Si es kutub ini menyapaku? Omong-omong, ‘Es Kutub’ itu adalah sebutan Rei untuk Ang, ketika kutanyakan padanya mengapa cowok yang satu itu sangat pendiam.

“Oh, pernah. Sudah tiga kali.”

Dia mengangguk, tetap tidak menatapku. Lalu dia kembali menjadi es kutub.

Gila nih orang, cakep-cakep, nggak pinter ngomong. Kuamati dia sejenak. Baju kaos biru tuanya sangat keren. Ia memakai celana selutut dan sandal gunung. Rambutnya cepak, bertolak belakang dengan Hadi yang gondrong. Dan wajahnya…, mengapa aku seperti familiar?

“Mas Ang sudah pernah ke Semeru sebelumnya?” aku memberanikan diri. Ya, kapan lagi ngobrol dengan es kutub?

“Ini sudah yang ketiga kali,” jawabnya.

Wuiihh….

“Ooh… memang sudah sering naik gunung, ya?” tanyaku lagi.

“Lumayan.”

“Ooh… ke Rinjani sudah?” aku menyebutkan gunung tertinggi di Indonesia setelah Puncak Jayawijaya di Papua.

“Sudah.”

Mantap!

Aku menyebutkan nama gunung-gunung lainnya. Dan ternyata, hampir semua gunung yang sudah ada di Indonesia ini sudah pernah ia daki! Wah, Teh Mei akan bilang apa kalau kubilang aku bertemu climber keren yang sudah mendaki puluhan gunung di Indonesia? Dan bawa Blackberry pula ke gunung!

“Hebat sekali…” aku tidak bisa menyembunyikan ketakjuban.

“Bukannya kau sudah tahu itu?” tanyanya.

“Apa?”

“Bukannya kau sudah pernah menulis di wallku dan memujiku seperti tadi? Kau juga sering mengomentari catatan perjalanan yang kutulis dan foto-foto yang kuposting?”

Aku tentu saja kaget. “Masa sih? Memang nama Facebook Mas Ang apa?”

“Angkasa Maret. Itu nama lengkapku. Aku lahir di bulan Maret. Dan kalau tidak salah dengar, sepertinya namamu juga Maret…”

Aku terhenyak. Kaget lapis kuadrat plus malu. Aku kini ingat dengan Facebook itu, dan mengapa wajahnya kurasakan familiar. Aku—bisa dibilang fans dari catatan perjalanan dan foto-fotonya, meskipun kebanyakan foto yang ia posting adalah foto panorama, tentu. Aku memang kurang hafal dengan teman-teman Facebookku, karena sebagian juga adalah teman-teman yang asal kenal saja. Dan untuk akun Angkasa Maret, aku merasa istimewa, karena namaku ada di situ.

“Kau ingat?” tanyanya.

“Y-yya…,” aku berusaha menutupi kikuk. “D-dan kurasa… karena itulah aku yakin mau bergabung dengan rombongan kalian. Dari catatan perjalanan… dan foto-foto itu… aku yakin kalian teman-teman yang baik.”

“Orang tidak bisa dinilai baik buruknya cuma dari tulisan dan fotonya saja,” potongnya cepat.

Aku tertegun. Kok mirip banget sama perkataan Kang Juni?

Ciri-ciri orang mencurigakan, nih.

Ang berjalan masuk ke gerbong, sementara aku masih tertegun dan hanya bisa menatap punggungnya.

Hei hei… Maret, mengapa hanya diam? Bukankah kau baru saja bertemu dengan ksatria berkuda putih? Aku merutuki diri sendiri, tapi tetap belum berhasil menguasai kesadaranku.

Tiba-tiba Ang berhenti sebentar dan menoleh sedikit ke belakang, ke arahku, “Salam untuk Mei Anandia.”

Aku terbelalak. Dari mana dia tahu nama Teh Mei?

“Memang orang tak bisa dinilai baik buruknya hanya dari notes dan fotonya, seperti keyakinan Kang Juni,” lanjutnya. “Tapi aku tetap menyesal dengan perjodohan Mei. Oh, tidak. Katakan aku tidak menyesal, hanya… sedikit sedih.”

Tanganku memegang erat pintu gerbong. Aku teringat, Teh Mei pernah cerita tentang taaruf-nya yang gagal dengan seorang ikhwan, gara-gara Kang Juni tidak setuju. Kemudian Kang Juni menjodohkan Teh Mei dengan teman kerjanya. Dan aku yakin, dulu Teh Mei mendaki Semeru bersama rombongan teman-temannya, termasuk Angkasa ini.

“Seandainya edelweiss boleh dipetik, aku ingin menitipkan satu untuknya. Tapi karena tidak boleh, kutitipkan satu foto bunga-bunga edelweiss saja,” katanya lagi, lalu meninggalkan aku, dan Freza yang tertidur di dekat pintu gerbong.
(sumber : annida)


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?


Comments

   Algy raghiel on 13 September, 2010 at 10:35 #

Ceritanya ok juga tuch


   cherie on 15 Desember, 2010 at 10:15 #

saya minta ijin untuk dicopy dan diprint sebagai bahan kumpulan bacaan.
terimakasih.


   nurman on 14 Februari, 2011 at 20:25 #

ceritanya oke punya, kata2 enak dibaca. dan cerita tak terduga. pokeke cerita ini top markotop deh. trim


   achmad on 18 Maret, 2011 at 14:04 #

bagus bagus, dikembangkan ya ????


   kyrana on 15 Juli, 2011 at 13:13 #

ceritanya bgs.. i like it…


   giva on 14 Nopember, 2011 at 08:45 #

cerita.nya bagus :) ,, izin copy di fp saya iah :)


   Flowers26Agnes on 1 Februari, 2012 at 16:15 #

It’s hard to develop an original college essays completing organization, just because there are many literature essay corporations online and that’s not simple to struggle with them.


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: