Jul
31
Filed Under (Sekilas Info) by PenYejuk haTi UntukmU on 31-07-2010

jalan-kakiJakarta - Demi keadilan bagi sang anak, apa pun akan dilakukan oleh seorang bapak. Demikian pula yang dilakukan oleh Indra Azwan. Pria berusia 51 tahun ini nekad jalan kaki dari Malang menuju Jakarta untuk menemui Presiden SBY. Indra ingin meminta keadilan atas kasus anaknya yang tewas ditabrak oknum Polri.

Ditemui detikcom saat beristirahat di sebuah SPBU di Kota Pemalang, Jawa Tengah, Selasa (20/7/2010), wajah Indra memang terlihat lelah. Namun di balik itu, tersirat semangat dan kebulatan tekad untuk tetap melanjurkan perjalanannya ke Jakarta.

“Apa pun yang terjadi saya tetap akan ke Jakarta untuk mencari keadilan atas kasus anak saya,” ujar Indra mantap.

Pria separuh baya ini kemudian bercerita tentang peristiwa kelam yang dialami buah hatinya. Menurut Indra, kisah duka itu terjadi sudah sangat lama, sekitar 17 tahun silam. Rifki, putra pertamanya yang berusia 7 tahun, tertabrak sepeda motor yang dikemudikan seorang anggota Polri ketika menyeberang jalan di depan rumahnya, Desa Watu Barat, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Rifki tewas seketika.

1738074pAwalnya, proses hukum kasus tersebut memang sempat berjalan, namun hanya sesaat. Beberapa lama kemudian, kabar proses hukum kasus ini bagai hilang ditelan bumi. Indra tidak pernah memperoleh kabar apa pun tentang perkembangan proses hukum kasus ini.

“Sampai akhirnya pada tahun 2008, anggota Polri itu disidang di PN Malang. Tapi anehnya, dia langsung divonis bebas oleh hakim,” ungkap Indra dengan nada tinggi.

Indra mengaku kesal dengan keputusan PN Malang tersebut. Dirinya merasa diperlakukan tidak adil oleh majelis hakim yang memimpin jalannya persidangan.

“Polisi itu sampai sekarang masih dinas di Polda Jatim,” ketus Indra.

Indra mengaku sudah melakukan berbagai upaya untuk memperoleh keadilan. Namun sampai saat ini, harapan untuk mendapatkan keadilan hanya angan-angan belaka. Sampai akhirnya dia nekat melakukan aksi jalan kaki Malang-Jakarta untuk menemui Presiden SBY.

“Saya berharap sekali Presiden SBY mau bertemu dan membantu rakyat kecil seperti saya mencari keadilan,” ujar pria berkacamata itu.

Saat ditemui detikcom, Indra tampak mengenakan baju kaos putih dan bercelana loreng. Dia juga berkalung potongan kain yang pada bagian depan tertera tulisan ‘Aksi Jalan Kaki Malang-Jakarta’. Sedangkan di bagian punggung atau belakangnya tertera tulisa ‘Korban Mafia Hukum’.

sumber : detiknews.com

Jul
29
Filed Under (BERITA TIMUR TENGAH) by PenYejuk haTi UntukmU on 29-07-2010

Rancang bangun RS Indonesia membutuhkan beberapa penyesuaian. Akan membuat perkiraan biaya pembangunan menjadi 2 kali lipat  Hidayatullah.com — Setelah cukup lama menunggu, akhirnya rencana pendirian RS Indonesia di Gaza Palestina semakin menemui titik terang. Upaya-upaya keras yang dilakukan oleh Tim MER-C ini sudah sampai tahap realisasi. Kamis pekan lalu (15/07) Tim MER-C berhasil menembus Gaza melalui perbatasan Rafah di Mesir. Rombongan dari Indonesia tersebut terdiri dari 6 MER-C relawan dan 4 jurnalis. Ketua Tim MER-C dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, mengatakan dalam kunjungannya tersebut, pihaknya telah berhasil melakukan beberapa pertemuan dengan pejabat dan berbagai pihak di Gaza, termasuk PM Palestina Ismail Haniya. “Semua menyatakan dukungan penuh mereka terhadap program RS Indonesia di Gaza. Dua relawan telah kembali ke tanah air, sementara tiga relawan lainnya sudah siap bertugas di Gaza sampai pembangunan RS Indonesia ini selesai,” kata Joserizal ketika berbicara dalam Press Confrence di Kantor MER-C, Jl. Kramat Raya Senen Jakarta Pusat, Senin (26/07). Adapaun keenam relawan MER-C tersebut adalah dr. Joserizal Jurnalis, SpOT (Ketua Tim), Ir. Faried Thalib, Dr. Arief Rachman, Ir. M. Baagil, Ir. Nur Ikhwan Abadi, dan Abdillah Onim. Tiga nama terakhir, Nur Ikhwan Abadi, Arief Rahman, dan Abdillah Onim, masih tinggal di Gaza sampai RS. Indonesia selesai dibangun. Joserizal menjelaskan, ide pembangunan RS Indonesia tercetus lebih dari satu tahun lalu dengan penandatangan MOU antara Tim MER-C mewakili rakyat Indonesia dengan Menteri Kesehatan Palestina di Gaza, dr. Bassim Naim. PM Palestina Ismail Haniya pun menyatakan dukungannya dan memberikan sebidang tanah waqaf yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Pemerintah Indonesia pun concern dalam memantau proyek ini. Dukungan pemerintah ditandai dengan pernyataan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada saat pertemuannya dengan Presiden Palestina, Mahmoud Abbas di Istana Negara pada hari Sabtu, 29 Mei 2010 yang menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia akan membantu Rp 20 milyar untuk Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. “Sekarang di MER-C sudah ada dana 13 milyar dari masyarakat, murni dari rakyat Indonesia. Tidak ada dana asing. Dengan adanya tambahan dana 20 milyar dari pemerintah, proyek berdirinya RS Indonesia akan semakin nyata,” jelas Joserizal ketika berbicara dalam Press Confrence di Kantor MER-C, Jl. Kramat Raya Senen Jakarta Pusat, Senin (26/07). Dalam kunjungannya bulan lalu, Ketua DPR RI dan rombongan juga berhasil berkunjung ke Gaza dan melakukan prosesi peletakan batu pertama pembangunan RS Indonesia di Bayt Lahiya. Selama berada di Gaza sejak 15 Juli 2010 lalu, selain kepada PM Palestina, Tim MER-C juga telah melakukan pertemuan dan koordinasi dengan Menteri Kesehatan Palestina di Gaza dr. Bassim Naim, Dirjen Kerumahsakitan Kementrian Kesehatan dr. Mohammad Alkasyaf, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Dr. Yousef Muhammad Elmansi, Kepala Departemen Teknik RS Asy Syifa, Fakultas Teknik Sipil Universitas Gaza, Subkontraktor di Gaza serta sejumlah lembaga. Tim juga segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi tanah waqaf di Bayt Lahiya dan melakukan soil investigation yang dibantu oleh Fakultas Teknik Sipil di Gaza untuk mengukur dan menilai kontur tanah. Dari hasil pertemuan-pertemuan tersebut, rancang bangun RS Indonesia akan membutuhkan beberapa penyesuaian, yaitu ruang bawah tanah (basement) dan struktur pondasi untuk 4 lantai. Penyesuaian ini, lanjut Joserizal, akan membuat perkiraan biaya pembangunan bisa menjadi 2 kali lipat. Kabar yang menggembirakan adalah tersedianya sejumlah bahan bangunan sehingga diharapkan pembangunan Rumah Sakit ini bisa segera dimulai. “Alhamdulillah, bahan-bahan bangunan seperti semen dan besi pancang sudah tersedia. Itu semua didrop lewat terowongan bawah tanah,” papar Joserizal. Untuk melaporkan progress awal pembangunan RS Indonesia di Gaza, Tim MER-C sudah mengajukan permohonan audiensi kepada Presiden RI dan Ketua DPR RI. Sebelumnya, dua relawan MER-C yang sudah keluar dari Gaza, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib, juga sudah menemui Dubes RI untuk Mesir, AM. Fachir, guna melaporkan perkembangan yang terjadi di dalam Gaza dan mengusulkan beberapa hal dalam rangka mempermudah aliran masuk bantuan dan tenaga relawan dari Indonesia menuju Gaza. Di samping itu, MER-C juga akan terus ikut mengkampanyekan pembukaan blokade atas Gaza. Bersama sejumlah negara dan lembaga, insya Allah pada bulan Oktober 2010 nanti MER-C, VoP (Voice of Palestine), lembaga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Indonesia untuk Palestina dan elemen bangsa Indonesia lainnya, akan berpartisipasi mengirimkan satu kapal buatan nusantara, yakni “Kapal Phinisi” untuk turut berlayar menembus blokade Gaza melalui Jalur Laut. [ain/www.hidayatullah.com]

Jul
29
Filed Under (CERPIS (CERITA PENDEK ISLAMI)) by PenYejuk haTi UntukmU on 29-07-2010

Penulis: Nurainun

“Allahu Akbar… Allahu Akbar!”

Alunan azan membahana dari masjid seantero kota Surabaya. Udara pagi terasa menelusuk tulang hingga mendorong tanganku menarik selimut dan menyempurnakan posisiku, menutupi seluruh bagian tubuhku.

“Allahu Akbar… Allhu Akbar!”

Seruan itu kembali mengoyak telingaku. Akhh… mataku terasa berat sekali. Kurasakan lelah yang mendera di sekujur tubuh. Kututup kedua telingaku dengan bantal. Aku tak hendak mendengarkan seruan itu.

“Asyhadu anlaa ilaaha illalloh…!” Aku tak sanggup lagi. Mataku telah tergembok rapat. Semalaman aku berkencan dengan seabrek tugas kantor yang harus kuselesaikan hari kemarin. Keadaan seperti ini sering terjadi saat aku sedang kelelahan tak bisa mengahantarkan tubuhku ke kedinginan air yang menyergapku. Aku kalah pada keadaan. Sebenarnya tidak juga begitu. Aku terserang penyakit malas. Karena kesibukanku yang makin menggila. Aku rasa, aku butuh istirahat yang cukup.

***

Kriiingg… kring…! suara jam weaker mengejutkanku hingga aku terbangun dari tidur yang tak begitu nyaman. Pukul tujuh. Artinya, aku harus segera bersiap-siap pergi ke kantor. Aku harus lekas menemui relasi dan klien-klienku, tak boleh terlambat. Tak lama kemudian, hand phoneku berdering.

“Hallo… dengan Rio, ada apa menghubungi saya pagi-pagi begini?”

“…………”

“ Baik saya segera ke kantor!”

Dalam sekejap BMW-ku melaju melewati jalanan kota yang mulai dilanda macet dan berbaur dengan aroma CO2. Udara yang seharusnya masih segar dan sehat sepagi ini, telah dilalap kentalnya kadar karbondioksida yang membanjiri Surabaya. Namun aku sudah bersahabat dengan segala keadaan ini, karena mencari uang adalah hidupku. Kesibukan duniawi yang membawaku kepada kenyamanan lahir, telah membuatku puas.

Dulu, waktu Ibu masih hidup, aku selalu dibanjiri oleh nasihatnya agar aku tak meninggalkan shalat. Tapi nikmatnya dunia kini membuatku berpikir, untuk apa aku shalat? Toh rezeki itu aku yang kejar sendiri. Ia tak akan datang ketika aku hanya berdiam diri dan shalat di rumah. Kalau aku begitu, jadilah aku orang yang miskin, yang hanya mengharap belas kasihan orang lain untuk dapat makan barang sehari. Tak mungkin uang akan turun dari langit seperti hujan. Mustahil. Dan jadi orang miskin itu hanya merusak martabat manusia. Membuat aib saja.

“Assalamualaikum! Selamat pagi, Bos!” sapa seorang karyawan.

“Pagi..” aku menjawab tanpa menoleh. Aku menerobos ruang dan waktu, berjalan angkuh layaknya seorang bos. Itulah hari-hariku. Ya, seperti yang aku ceritakan sebelumnya. Aku puas dengan semua kecukupan yang aku miliki sekarang. Limpahan harta. Kesenangan dunia membuatku perlahan melupakan bahkan tak merasa ada orang yang telah melahirkanku dulu. Bagiku, itu memang sudah takdir. Dan sekarang aku bisa mengubah takdir dengan tanganku. Haahh… aku senang dengan hidupku.

***

Ruang kantorku sengaja dirancang kedap suara, karena aku menginginkan kenyamanan ketika berada di dalamnya. Aku tak mau terganggu oleh deru mesin kendaraan yang berlalu hilir mudik di sekitar kantorku. Memang, letak kantorku sangat strategis. Dan aku tak sadar, bangunan seperti itu juga telah melalaikanku dari mendengarkan suara azan. Tiba-tiba ada perasaan tak nyaman hinggap di bagian tubuhku yang paling dalam. Menyeringai, menelusuk relung hatiku. Aku merasakan ketaknyamanan tak bertepi. “Jangan lupa sholat Nak!…” sekelebat bayangan wanita 50 tahun-an lewat di ruang otakku. Namun segera kuenyahkan perasaan dan bayangan itu.

“Tok..tok..tok!”

Partikel-partikel pada daun pintuku bergerak menghasilkan gelombang bunyi yang berfrekuensi tinggi dan mengejutkanku.

“Masuk!” jawabku sekenanya.

“Pak Rio, saya minta izin 15 menit keluar dulu…!”

“Sari kemarin kok izan, izin… Bapak tidak lihat apa kantor kita sedang banyak orderan?! Baru setahun jadi karyawan di sini sudah berani sering-sering izin!”

“Iya, saya tau, Pak… insya Allah nanti setelah saya kembali, saya selesaikan tugas saya.”

“Baiklah! Sepuluh menit!” Aku marah.

Entah apa yang membuatku marah. Mungkin rasa berkuasalah yang selama ini telah mengalahkanku. Selama ini memang aku selalu sensitif jika sedang berhadapan dengan karyawan-karyawanku. Aku selalu memposisikan diriku sebagai bos. Aku merasa bahwa aku berkuasa atas hidup mereka. Aku merasa hidup mereka ada di tanganku. Kapan pun aku bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan. Dan selama ini, jika ada karyawan yang ku-PHK, banyak dari mereka yang memohon-mohon padaku untuk dikembalikan pekerjaannya.

Tapi kurasakan keanehan kini, aku merasa tak enak hati setelah memarahi Pak Halim, seorang karyawan yang setiap pukul 12.00 dan 15.00 meminta izin untuk keluar sejenak. Yang mukanya selalu teduh menghadapi keegoisanku. Selalu sabar menghadapi luapan emosiku yang kerap meledak-ledak di hadapannya.

Setahuku dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku juga tahu dia mempunyai potensi yang besar untuk memajukan perusahaanku. Karena itulah, aku tetap mempertahankannya di perusahaanku. Pun ia tak pernah melalaikan tugasnya. Ia sangat bertanggung jawab. Lantas apa yang membuat aku marah-marah padanya hari ini dan tak jarang pada hari-hari lain?

“Lama sekali orang ini!” Aku membatin sambil menunggu Pak Halim yang sudah hampir setengah jam tak muncul- muncul juga di hadapanku.
Aku tahu, Pak Halim izin keluar hanya untuk menunaikan shalat; yang seharusnya aku pun melakukannya. Namun karena sering melalaikannya, aku jadi terbiasa tidak melaksanakan shalat. Aku tak merasa berdosa. Aku membiasakan diriku tuk tidak mendengarkan hatiku.

“Maaf, Pak! Tadi saya harus…”

“Ah… Alasan saja Anda ini! Mulai besok, Anda tidak boleh duduk di kursi itu lagi!”

Pak Halim paham apa maksud ucapanku dan ia lalu berpamitan setelah mengucapkan terima kasih.

***

Sejak kejadian itu, aku kini sering merenung. Aku sendiri kini yang harus memikirkan nasib perusahaanku. Dalam kondisi diriku yang seperti ini, bayangan wanita tua yang selalu mengingatkanku akan shalat pun selalu muncul setiap kali aku membutuhkan konsentrasi untuk memikirkan nasib perusahaan. Keputusan yang kuambil tak pernah tepat kini. Alhasil, perusahaanku pun gulung tikar. Utang di mana-mana.

“Aghhhhrrrhhh…!” Aku marah pada diriku sendiri. Aku terlalu egois. Kalau saja Pak Halim masih mendampingiku, aku tak akan sesusah ini. Ah… aku menyesal.

Kustarter BMW-ku, mesin berbunyi halus. Tanpa konsentrasi yang penuh, aku melaju.. Kali ini tak tahu aku akan pergi ke mana. Aku tak tahu, ingin aku kembali ke kampung halaman, meminta maaf pada ibuku, menziarahi kuburnya, aku malu. Pun begitu juga kepada saudara-saudaraku. Pak Halim, yang terkadang menjadi tempat curhatku, kini tak ada lagi di sampingku.

“Nak, bagaimanapun, jangan tinggalkan shalat! Itu adalah ibadah yang pertama kali dihisab.” Tiba-tiba bayangan Ibu muncul lagi di kaca depan mobilku. Menghalangi pandanganku ke depan.

“Nak! Kembalilah kejalan Tuhan-Mu!” Kali ini keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku menggigil. Perasaanku tak karuan.

“Nak! Ingatlah… semua harta benda hanya titipannya… kembalilah!”

“Tidaakk…!” Klakson dari mobil belakangku membuat konsentrasiku makin membuyar. Sorotan cahaya lampu dari mobil yang berlawanan arah denganku menyilaukan pandangan ini, saat bayangan Ibu hilang, yang kulihat hanya cahaya terang. Terang sekali, hingga aku tak nyaris buta. Klakson dari belakang terus beriringan.

“Ciiitttt! Brakkkk!!”

“Aduhh…” kurasakan nyeri yang tak terperi di bagian kepalaku. Cairan hangat mengalir dari kedua telingaku. Aku tak dapat menahan rasa nyeri yang amat sangat ini. “Bu,… maafkan aku…!”

“Ini peringatan buatmu, Nak! Kembalilah!” itu adalah kalimat terakhir ibu yang masih dapat kudengar dan kuingat. Ingatanku hilang seiring hilangnya bayangannya.

***

“Di mana aku? Mana Ibu ..?” Samar-samar kulihat wajah yang tak asing itu duduk di sampingku.

“Pak Halim? Kau kah yang membawaku ke rumah sakit ini?!”sembari bertanya-tanya pada diriku sendiri, mulutku terus berkomat-kamit.

Pak Halim hanya memandangiku haru. Air matanya mengalir. Sesekali ia seperti mengucapkan sesuatu kepadaku. Tapi aku tak mendengar apa-apa. “Astaghfirullohal’azhiim…!!!” ku berteriak mengharapkan ampunan dari Allah. Namun lagi-lagi, aku tak mendengar teriakanku sendiri. Tiba-tiba telingaku sakit. Dan aku baru sadar, kecelakaan malam itu membuatku tak dapat mendengar dan mungkin juga tak dapat berbicara. Aku tuli.

Tak ada yang lain yang bisa kulakukan. Hanya jeritan dalam hati yang mampu aku teriakkan. Tubuhku menggigil, kurasakan ngilu di ulu hatiku, seperti ditusuk sembilu. Dalam dan semakin dalam. Aku ingin shalat. Jam di dinding kamar putih itu menunjukkan pukul dua belas siang, waktu yang aku gunakan untuk memarahi Pak Halim yang izin keluar untuk melaksanakan shalat. Waktu ketika aku sering mengunci rapat-rapat telingaku dari suara azan yang mengalun syahdu. Dan kini suara itu benar-benar tak dapat lagi kudengar. Selama-lamanya.
sumber : majalah annida

Jul
29
Filed Under (Sekilas Info) by PenYejuk haTi UntukmU on 29-07-2010

Gaza telah banyak ditulis media massa sebagai pusat konflik. Di kota
kecil yang padat inilah lahir ratusan pejuang Palestina. Mengapa Israel
tak pernah bisa menaklukkannya?

Hidayatullah.com–Jalur
Gaza, adalah sebuah tempat yang menyiratkan kepedihan, namun juga
semangat perjuangan bagi banyak rakyat Palestina. Wilayah ini luasnya 
hanya 360 km² –separuh wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta–
dengan jumlah penduduknya sekitar 1.225.911 (2002).

Jalur Gaza
hanya sepetak tanah tandus di Palestina. Agak berbeda dengan Gaza City,
yang kini dijadikan sebagai ibu kotanya. Di Gaza City, sebagaimana
daerah Yerusalem, subur luar biasa. Gaza kumuh dan semrawut. Dokar,
mobil, motor dan kendaraan lainnya campur aduk.

Sudah miskin
teraniaya pula. Selain lokasinya yang berada di ujung dekat perbatasan
Mesir dan diapit oleh laut Mediterania, Israel menempatkan balok-balok
cor setinggi 9 meter (lebih tinggi dari tembok Berlin), meliputi Jalur
Gaza dari selatan, utara dan timur untuk membatasi ruang gerak warga. 
Tembok ini dilengkapi dengan sarana keamanan, alat penyergapan, tempat
pengintai, alat-alat komunikasi, deteksi peringatan, alat perekam, dan
alat-alat elektronik lainnya. Gaza ibarat akuarium hidup dan penjara
besar banga Palestina.

Daerah miskin ini semakin menderita
tatkala berbagai tekanan militer Israel terus diarahkan ke Gaza. Karena
itulah, Jalur Gaza hingga sampai saat ini tetap menjadi daerah berbahaya
bagi kalangan jurnalis. Di kota kecil yang kumuh inilah Presiden
Mahmoud Abbas pernah berkantor, sebelum Gaza dikuasai Hamas.

Gaza
merupakan wilayah yang masih belum terjamah oleh pendudukan Israel.
Keberadaannya sebagai akibat dari  perang Arab-Israel tahun 1948 dan
Perang Enam Hari pada 1967, yang efeknya berakhir pembagian batas-batas
wilayah antara Israel dan Palestina, yakni; Tepi Barat, Jalur Gaza, dan
Yerusalem Timur, akibat dari pencaplokan Semenanjung Sinai, Dataran
Tinggi Golan, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur  oleh Israel. Sejak itu,
Israel membangun dan memperluas koloni Yahudi di Tepi Barat dan Jalur
Gaza, serta menguasai lebih dari 50% teritori yang diduduki.
Zionis-Israel juga meluaskan aneksasinya ke wilayah Yerusalem Timur dan
Al-Aqsa, tempat suci yang pernah menjadi kiblat umat Islam sedunia.

Kini,
Gaza lebih dikenal sebagai tempat jutaan orang melarikan diri dan
tempat mengungsi. Anak-anak berlomba membantu orangtua mereka
mengumpulkan makanan dari pusat distribusi bantuan PBB, sementara para
perempuan berkumpul di dekat truk-truk, menunggu nama mereka di panggil
untuk menerima jatah makanan.

Sejak Hamas berhasil menguasai
Gaza, Israel dibantu Fatah langsung mengisolasi wilayah itu. Israel,
selain menyatakan perang terhadap Hamas, juga telah menutup
penyeberangan kunci perbatasan, menghentikan perdagangan, dan memaksa
ribuan warga Palestina mencari tempat perlindungan ke lembaga-lembaga
bantuan PBB.

Badan bantuan PBB untuk para pengungsi Palestina
mengatakan, hampir 825.000 orang dari 1,5 juta warga Gaza termasuk
kategori pengungsi.

Namun kondisi ini, sesungguhnya bukanlah
mencerminkan keadaan sebenarnya. Sebab, jika warga Palestina di Gaza
diberi kesempatan seperti yang lain, mereka bisa hidup secara baik.
Israel dan negara-negara Barat, adalah bagian tak terpisahkan sebagai
pencipta kekacauan ini.

Kesimpulan ini disampaikan oleh Shami
Shafi, seorang konsultan perusahaan di Jalur Gaza. “Penduduk di Gaza
punya peluang dan potensi untuk membangun perekonomian yang sukses, bila
mereka diperlakukan sebagai manusia. Bila mereka diizinkan untuk
bergerak. Kami bisa berkembang, tetapi kami harus bebas, bebas bergerak
dan dapat memanfaatkan peluang yang ada,” ujar Shafi yang tahun lalu
mendirikan perusahaan untuk memajukan perkembangan ekonomi di Gaza,
sebagaimana dikutip Islamonline.

Janji Syeikh Yasin

Gaza
adalah saksi hidup berbagai peristiwa, termasuk berbagai luka bangsa
Palestina. Banyak pejuang Islam lahir dari kota kecil ini, seperti  Dr.
Mahmud el Zehhar dan Ismail Haniyah, Perdana Menteri Palestina yang
dipecat Presiden Mahmoud Abbas (meski tetap bekerja sebagaimana biasa).
Termasuk di antaranya adalah Muhammad bin Idris al-Syafi‘e atau yang
kita kenal dengan Imam Syafii.  

PBB pernah menyampaikan, Gaza
adalah tempat paling  dilematik. Lokasi ini, katanya, sebagai lokasi
paling rawan nomor lima sedunia. Namun di tempat ini pula,  ”Harakah
al-Muqawamah al-Islamiyah” (Gerakan Perlawanan Islam) atau Hamas
didirikan pertama kali.

Gaza, adalah sisa dari tempat untuk
mengumpulkan semangat perlawanan para pejuang Palestina melawan
penjajah. Khalid Mishaal,  Kepala Biro Politik Hamas kepada pers, pernah
mengatakan, strategi Hamas di Gaza sebagai ”Strategi Nafas Panjang”.

“Nafas
panjang” itulah yang kini sedang diperlihatkan Hamas di saat sudah
mulai tak mempercayai Presiden Mahmoud Abbas dan gerakan Al-Fatah, yang
kini, justru lebih memilih dekat dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).
 

Almarhum Syeikh Yasin, yang juga pendiri Hamas pernah berjanji
akan menjaga Gaza. ”Saya tegaskan kepada penjajah Israel bahwa memasuki
wilayah Jalur Gaza tidaklah mudah seperti pergi ber-rekreasi; militer
Israel harus membayar mahal dan akan menderita kerugian yang sulit
dibayangkan,” ujarnya suatu hari, dikutip Palestine Information Center pada tahun 2002.

Gaza, Sesudah Hamas Berkuasa

Dunia
terperanjat ketika Hamas secara tiba-tiba menduduki kantor Kepresidenan
Mahmoud Abbas di Gaza, awal 14 Juni 2007 lalu. Hamas telah menguasai
sepenuhnya Jalur Gaza, beberapa jam setelah Presiden Mahmoud Abbas
membubarkan parlemen dan menyatakan keadaan darurat.

Kisah ini,
adalah akhir dari gesekan antara dua pejuang pembebasan Palestina, Hamas
dan Fatah, pimpinan Mahmoud Abbas. Kabarnya, akibat konflik tak ada
ujungnya itu, sedikitnya telah menewaskan 100 warga Palestina.

Sehari
Hamas berkuasa, sepanjang malam, bendera Hijau (bendera Hamas) berkibar
sebagian wilayah Gaza. Para pendukung Hamas merayakannya di
jalan-jalan. Sementara itu, serdadu Fatah terlihat diikat dan dibawa
dengan mobil.

“Semua markas di layanan keamanan Jalur Gaza berada
di bawah kontrol Brigade Izuddin al-Qassam, termasuk kompleks
presiden,” kata seorang jurubicara sayap bersenjata Hamas kepada kantor
berita AFP. Brigade Izuddin al-Qassam adalah sayap militer bentukan Hamas paling ditakuti Israel.

Keputusan
Hamas menguasai markas presiden adalah cara terakhir mencari
konsilisasi dengan Fatah, setelah beberapa kali usaha menyatukan
pandangan tak berhasil. Namun Ismail Haniyah menolak anggapan
terpisahnya Gaza dan Tepi Barat. “Jalur Gaza merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dan bagian integral dari ibu pertiwi rakyat Palestina,”
tuturnya.

Liputan media massa asing kontan seragam. Bahkan, media
massa Indonesia –yang sering hanya mengutip pers Barat—lebih membela
Mahmoud Abbas dan kelompok Fatah yang justru berlindung pada Amerika dan
Israel.

Karena Jalur Gaza adalah tempat paling rawan bagi
wartawan, tempat ini nyaris tak terberitakan secara fair oleh banyak
media. Di antara media lokal yang secara baik memberitakan kondisi
tempat itu adalah Mafkarah Al Islam, yang memiliki koresponden di Gaza dan Palestina.

Sebagaimana dikutip Mafkarah Al Islam,
kondisi Gaza pascapertempuran jauh berbalik 180 derajat. Sebelum
pecahnya pertempuran antara Fatah dan Hamas yang berakhir dengan
menyingkirnya Fatah dan pasukannya, kondisi jalur Gaza amat parah untuk
bisa diceritakan. Kevakuman keamanan, rasa takut, dan serangkaian
kekacauan terjadi di mana-mana. Kecemasan dirasakan sepanjang waktu,
tatkala Fatah berkuasa.

Aktivitas kejahatan seperti perampokan,
aksi penculikan terhadap para ulama, dan imam masjid penghafal Al
Qur’an, serta pecahnya baku tembak karena masalah-masalah remeh –yang
terjadi antarkelompok, pribadi, atau antarkeluarga—setiap saat terjadi.

Kekacauan
merembet pada ketiadaan hukum. Termasuk permusuhan terhadap pengadilan,
yaitu dengan cara membebaskan para tertuduh dengan paksa dari tuduhan,
serta melepaskan orang-orang yang telah divonis kurungan dan
pengintimidasian terhadap para hakim supaya mau melepaskan pekerjaanya.

Dr.
Shalih Raqab, Wakil Kementerian Wakaf dari jalur Gaza menyatakan,
sembilan ulama terbunuh di tangan sempalan revolusi. Biasanya, mereka
menjadikan orang-orang berjenggot dan mereka yang terlihat sebagai
aktivis Islam sebagai sasaran.

Puluhan kaum muslim yang
berjenggot telah menjadi korban penyiksaan sempalan pengikut Ahmad
Dahlan, salah satu pengikut Fatah. Dan kekejaman yang paling buruk dari
pengikut Mahmoud Abbas ketika menculik Hisam Abu Qainash, kemudian
melemparkannya dari lantai lima belas. Namun situasi itu terhenti
tatkala Hamas menguasa Gaza.

Minuman Keras dan Prostitusi

Semenjak Jalur Gaza dikuasai Brigade Izzuddin Al-Qasam, kota kecil yang padat ini nyaris terkendali.

Sejumlah
pendunduk dari berbagai tingkatan mengungkapkan dengan gembira
ketenangan yang mereka rasakan, yang telah hilang sejak beberapa tahun. 
Adalah Syakir Ashfur dari Khan Yunis Gaza selatan yang juga mahasiswa
di Universitas Islam Gaza, bisa aktif kembali untuk pergi ke universitas
setelah sebelumnya hal itu tidak bisa ia lakukan karena ia berjenggot.
Selain itu, ujarnya, posisi Universitas Islam Gaza sendiri berada di
tengah-tengah titik konflik.

“Aku menghadapi kesulitan yang amat
sangat ketika pergi untuk melaksanakan shalat Subuh dan isya di masjid.
Aku merasa tidak akan kembali dalam keadaan hidup setelah shalat, kami
merasa tidak aman sama sekali.”

Namun kekhawatiran itu ternyata
tak terjadi. Yang terjadi adalah hancurnya kelompok Dahlani. Yang
dimaksud dengan Dahlani adalah pengikut setia pasukan Ahmad Dahlan,
kelompok bersenjata di bawah Presiden Mahmoud Abbas.

Menurut
Ashfur, hancurnya sempalan Dahlani adalah bentuk murka Allah terhadap
mereka karena pembangkangan mereka terhadap Allah, ulama, dan para imam
masjid.

Sebuah Organisasi Independen untuk Hak-Hak Penduduk
Palestina dalam data statistiknya pada tahun 2007 menunjukan bahwa dalam
satu bulan rata-rata 54 orang tewas di jalur Gaza karena perselisihan
keluarga, pencurian, dan sebab-sebab lainnya yang menyebabkan hilangnya
rasa aman.

Setelah dua minggu Gaza di bawah kontrol Al-Qasam,
beberapa sumber dari kalangan medis menyebutkan bahwa seluruh rumah
sakit yang berada di penjuru Gaza tidak didatangi seorang pasien pun
yang sakit atau terluka akibat hilangnya kontrol keamanan.

Pagi
hari, setelah al-Qasam mengumumkan menguasai jalur Gaza, Milisi al-Qasam
mendatangi pusat-pusat penjualan minuman keras. Di antaranya, tempat 
terkenal  At Tahliyah di daerah Khan Yunis, Gaza selatan. Tempat itu
bisa dikuasai seluruhnya oleh Al-Qasam dan dibunuhnya tiga “dedengkot”
penjual dan produsen obat-obatan terlarang, kemudian memusnahkan barang
haram ini dengan jumlah yang amat besar.

Al-Qasam juga mendatangi
rumah-rumah bordir dan tempat praktik prostitusi yang sebelumnya
dilegalkan oleh pihak yang bertanggung jawab. Sekarang sudah tidak
ditemukan lagi di Jalur Gaza. Sudah banyak diketahui bahwa di tempat
inilah Israel menciptakan “tentara” dengan jumlah amat besar dari
orang-orang Palestina sendiri, yaitu dengan mengambil gambar ketika
mereka melakukan perzinaan dan mengancam akan menyebarkan gambar itu
jika ia enggan membantu Israel. Biasanya, pria-pria yang direkam
gambarnya ini lantas diperas agar bersedia menjadi ”mata-mata” Israel.

Mudah-mudahan ketaatan pada agama ini bisa menjadi sumber kekuatan tidak terputus bagi pejuang Palestina di Gaza.  [Thoriq/cha/www.hidayatullah.com]

Jul
29
Filed Under (CERPIS (CERITA PENDEK ISLAMI)) by PenYejuk haTi UntukmU on 29-07-2010

Penulis: Wahyu Amir

Kupu-kupu itu selalu menghinggap di atas nisan tanpa nama itu. Nisan dari kayu lapuk yang tepat di bagian timur makam Bapak. Kupu-kupu yang pernah aku lihat dulu. Agaknya memang tiap aku ziarah ke makam Bapak ia sengaja muncul menemuiku. Mengisyaratkan agar aku mengingat masa lalu.

Raut muka yang berseliweran di depan rumahku bukan tampak biasa. Tak wajar. Tegang. Sekitar delapan sampai lima belasan orang berjaga di jalan. Masing-masing memegang gagang kayu sebesar lengan orang dewasa. Mereka bersiap jika ada serangan tak terduga. Bapak ada disitu. Beberapa jam yang lalu, tetanggaku dilempar batu sebesar batok kelapa tepat di dadanya. Akibatnya ia dilarikan ke rumah sakit, entah bagaimana keadaannya. Waktu itu usiaku amat belia. Aku ingat betul aku masih duduk di tahun terakhir Madrasah Ibtidaiyah, atau kalau kamu tak paham istilah itu kamu bisa menyebutnya Sekolah Dasar.

Begini. Kumulai kisahku dengan sebuah Langgar Atau mungkin orang di tempatmu menyebutnya mushola, surau, atau pondok. Di seberang jalan. Sekitar lima menit berjalan kaki dari rumahku. Tempat itu yang kini tak kujumpai lagi jika kupulang kampung. Tempatku mengaji dulu. Pula tempat pertama kali Bapak mengantarku pada ustadz Zuhdi. Kuingat, Persis di depan rumah ustadz Zuhdi, guru ngaji pertamaku itu langgar yang paling awal berdiri sebelum bertengger langgar-langgar lainnya. Hanya dipisahkan jalan yang membentang panjang di antara langgar dan rumahnya. Tentu tak sesepi tempat-tempat ngaji yang ada sekarang. Anak-anak kampung sebelah banyak juga yang berduyun ngaji disitu.

Tapi sekarang tak mungkin bisa kau saksikan lagi langgar itu berdiri di kampungku. Berderet-deret bangunan baru begitu membuat pangling. Puing pondasinya pun telah berdiri di atasnya sebuah ruko milik turunan orang Cina. Tiap aku berdiri di depan toko milik orang Cina itu samar-samar ingatanku membayang ustadz Zuhdi. Ada dimana beliau sekarang? Jika masih hidup, mungkin kini ia telah bercucu pinak. Namun bila telah tiada dari dunia, maka dimana pusaranya kini?

Rumahnya telah tak lagi terhuni. Sepi. Genting-gentingnya masih utuh di beberapa bagian. Jendelanya tersisa kaca-kaca tajam terkena lemparan batu. Di bagian yang lain retak membentuk alur yang tak beraturan. Di berbagai sudut hampa kamar rumah itu yang bisa ditemui hanya gelap pengap yang memenuhinya. Di bagian muka, dulu ada taman yang lumayan luas dengan bunga-bunga yang berwarna-warni, milik istri ustadz Zuhdi. Sekarang hanya rerumputan galak yang tampak tak asri. Bangunan itu terlihat menyeramkan.

Di seberang jalan di depan rumah itu dulunya langgar itu berdiri. Jelang maghrib, kami akan sudah disitu. Berlomba meletakkan mushaf Qur’an di dampar agar mendapat giliran setoran ngaji paling awal. Menunggu maghrib tiba, halaman rumah ustadz Zuhdi akan terdengar reriangan. Kaki-kaki yang berlarian mengepulkan debu. Ada teriakan dan canda. Mengejari kupu-kupu di antara pohon jambu air dan pohon sawo kecik. Kupu-kupu yang cantik warnanya. Putih, bergurat biru, juga sedikit warna kuning. Jarang kumenemukan selain di halaman rumah itu.

Kupu-kupu  itu menemani sore kami. Seperti pernik-pernik yang berwarna-warni. Kepakan sayap kecilnya bergerak dalam suara hampa. Sekejap ia akan terbang entah kemana. Kemudian kembali lagi. Membawa kupu-kupu yang lain, mungkin anak-anaknya atau keluarganya. Beberapa ada yang berdiam dalam kepompong, menggantung di dahan bunga kana.

Lalu ada yang berlarian menuju tepi jalan.

Teriakan-teriakan konvoi pemuda itu seperti tak menghiraukan terik yang begitu membuat kulit kering keriput. Ribuan orang tumpah ruah di jalanan. Ada begitu banyak motor yang meraung sehingga suara bisingnya begitu lama singgah di gendang telinga. Juga ibu-ibu dan orang-orang yang telah sepuh memenuhi mobil bak terbuka. Berpuluh ribu peluh tak mengeluh kepanasan. Suara-suara gas knalpot diiiringi bunyi klakson. Nyanyian mereka khas sekali. Konvoi itu gaduh. Seperti suara panggilan yang membius warga berkumpul di sisi-sisi jalan. Membentuk pagar manusia.

Menyaksikan ribuan orang berlalu melewati jalan adalah pemandangan yang menarik buatku dan teman-temanku saat itu. Wajar. Sesusiaku menyukai hingar-bingar yang tak biasa kusaksikan tiap hari.  Apalagi pakaian yang mereka kenakan di jalanan. Begitu menarik, ijo royo-royo. Muka-muka pemuda itu coreng-cemoreng hijau juga. Hijaunya hijau muda. Teman-temanku menyebut itu pawai Partai Ijo Muda. Bapak juga ikut partai itu. Kutahu sebab di muka halaman rumahku di sisi jalan tertancap tiang berlambang Partai Ijo Muda.

“Itu partai bapakku!” tunjuk Sapto bangga.

“Bapakku juga!” kubilang.

“Aku juga!” lalu yang lain menyahut.

“Sssst..nanti ustadz Zuhdi dengar,” bilang yang lainnya lagi.
“Iya, Sssstt…” aku melirik Sapto.

Tetanggaku Partai Ijo Muda. Pamanku Partai Ijo Muda. Pak Lik, Bu Lik, Pak dhe Partai Ijo Muda. Hampir seluruh keluargaku pengikut partai ijo muda. Seluruh desa partai ijo muda. Di kampungku cuma Ustadz Zuhdi yang di depan halamannya berkibar bendera partai yang berbeda dari yang dianut orang-orang kampung. Partai Ijo tua, bukan ijo muda. Partai ijo muda bergambar seperti kotak kapur sedangkan partai ijo tua bergambar bulatan bumi.
Tiap saat yang dibicarakan pasti bahasan yang sama. Tidak di pasar, di warung, di emper-emper rumah, bahkan di pengajian rutinan pun. Pasti pembicaraannya tentang pawai, kampanye, konvoi, partai, itu-itu saja. Pedagang berunding dengan pembeli, serius masalah partai. Bapak dan anak musyawarah keluarga, ngurusi partai. Kyai berdalil di depan khalayak juga singgung-menyinggung partai.
Tidak habis pikirnya, partai dipuja bagai juru selamat. Kalau tidak masuk partai itu tidak masuk surga katanya. Entah dalil dari mana itu. Pernah, dulu, kuikut bapak berkonvoi di jalanan. Membawa bendera dan mengenakan kaos hijau muda bergambar lambang seperti kotak kapur.
Bangga rasanya sebab tidak semua anak seusiaku mendapat izin orang tuanya mengikuti pawai sepertiku. Para orang tua mereka itu bukannya tak mau menuruti kehendak anaknya. Bukan pula menolak hingar-bingar dan sorak-sorai keramaian. Tetapi para orang tua khawatir keramaian itu kadang membawa petaka. Maksudku, kerusuhan sering terjadi jika antar partai berpapasan. Mungkin karena adu gengsi. Sok menunjukkan siapa yang terkuat. Sok saling tunjuk calon pemimpinnyalah yang paling kuat. Dan ujung-ujungnya tawuran. Masuk rumah sakit. Masuk penjara. Ironisnya lagi nyawa melayang demi membela seorang pemimpin yang mereka sendiri tak tahu jika terpilih kelak apa masih ingat pengorbanan mereka.

Saat itu aku tak ahu dari mana mulanya, jika Partai Ijo muda bertemu Partai Ijo tua maka dipastikan yang terjadi perseteruan. Aku sendiri tak mengerti, kedua partai itu basisnya islam, sama-sama berasal dari organisasi islam terbesar di Indonesia –seperti yang dulu pernah kudengar dari orang-orang-. Tapi mengapa begitu mudahnya mereka saling memusuhi. Saling memaki. Bahkan berusaha saling membunuh. Bukankah sesama muslim itu saudara? Bukankah pula sesama muslim itu mesti saling tolong-menolong?

Agaknya itu tak berlaku di tempatku.

Fanatisme yang berlebihan telah meracuni pemikiran masyarakatku. Otak mereka telah dicuci. Jika tidak memilih yang mereka pilih maka jangan harap dianggap manusia di masyarakatku.  Mereka saling cegat-mencegat. Jegal-menjegal adalah hal yang wajar. Kata-kata makian jadi umbaran yang halal bagi juru kampanye yang mengaku ulama itu. Waktu itu pernah kudengar dari kampanye -yang mereka sebut itu pengajian sebab yang berkampanye itu para kyai- , ulama-ulama juru kampanye itu memaki ulama lain yang tak sealiran dengannya, yang lebih ironis lagi yang diumpatnya waktu kampanye itu malah kelak jadi kepala Negara mereka.

Suatu pagi, seperti hari sebelumnya. Bola raksasa yang mengawang di angkasa mengawali putarannya. Tak pernah terpikirkan akan berapa lama lagi bola raksasa itu akan kehabisan energinya. Bahkan belum terpikirkan jika suatu pagi matahari akan lenyap dan berhenti bersinar sedangkan akal manusia belum mampu menjangkau untuk mencari energi yang bisa menggantikan matahari. Matahari yang sinarnya memancar ke banyak bagian yang berbeda. Matahari yang digunakan untuk patokan waktu di seluruh dunia. Mereka gunakan pula untuk menamai musim yang terjadi. Matahari yang dibutuhkan ibu jika akan menjemur pakaianku dan pakaian bapak. Matahari yang dicari para petani untuk mengeringkan gabah-gabahnya. Dan pula matahari yang digunakan nelayan untuk mengeringkan ikan asinnya.

Jalanan di hari itu tak semeriah hari lalu. Kabarnya hari itu akan ada kampanye Partai Ijo Tua. Tratak telah berdiri. Kursi-kursi plastik di tata berjajar rapi. Podium telah berdiri gagah. Banser dan pasukan yang terdiri dari orang-orang tegap berjaga di situ. Suasana tampak akan ada yang hajatan di tempat itu.

“Hancurkan kemusyrikan….Hancurkan syaiton..!” Teriakan itu memecah lengang. Disusul konvoi lelaki bercadar putih. Hanya mata yang saling memandang. Mata tanpa nama itu berkerumun membawa senjata yang siap untuk menyabet siapa saja yang akan menghalangi niatnya.

“Kalian terkutuk! Kalian bukan islam!” di bagian lain dari konvoi itu meneriaki orang-orang yang berada di pengajian itu.

“Kalian lebih terkutuk lagi!” jawab seorang dari pengajian itu.

Seorang dari kelompok pengajian itu menunjukkan nyalinya. Sendirian ia melangkah maju. Setelah menengadahkan tangan, ia membuat pagar ghaib. Kekuatan yang tak terlihat itu mampu mementalkan tiap barisan konvoi yang mencoba mendekati laki-laki tersebut. Salah satu pemimpin konvoi bercadar itu pun seperti tersulut amarahnya. Ia turun, entah melakukan ritual seolah keduanya saling berperang ghaib. Sesekali salah satu dari keduanya ada yang terpental. Tak beberapa lama ia mengomandoi naka buahnya.

“Maju! Jangan takut, kita di jalan yang benar!”

“Allahu Akbar!”

Dari belakang kerumunan terlempar bom molotof yang menjatuhi sebuah motor. Api pun langsung menyala-nyala memakan motor itu. Melahap bagian demi bagian yang terlapisi minyak tanah. Ratusan orang bergerak merangsek menenteng apa saja yang bisa digunakan untuk melukai. Bahkan bila perlu untuk membunuh.

Bagai drama perang kolosal masa lalu, tak ada mulut yang berbicara. Sabetan pedang dan celuritlah yang mewakili cakap mereka. Sahut-sahutan asma Allah seakan tak ada maknanya. Tak ada yang mampu berpikir jernih di situasi itu. Satu sama lain saling mengklaim yang benar. Saling mengaku merekalah sebenar-benarnya muslim. Partai telah membutakan mata mereka. Mereka pun tak peduli lagi jika yang mereka hadapi adalah saudara kandungnya. Mereka putus begitu saja ukhuwah yang terjalin ribuan tahun lalu.

Asap pekat membumbung ke angkasa. Belasan kendaraan menjadi korban keberingasan. Dibakar dan dimasukkan ke dalam sumur. Puluhan orang terluka. Langgar dan rumah pun tak luput dari amarah. Mereka lempari dengan batu. Mereka robohkan atap-atapnya. Mereka jarahi apa yang bisa mereka anggap sebagai barang berharga.

Malamnya, aku tak bisa lagi mengaji lagi ke Langgar. Langgar kami telah rata. Bapak melarangku pergi kemana- mana. Ibu-ibu dan anak-anak tak diperkenankan di luar rumah. Para pemuda dan orang tualah yang berjaga. Sayup-sayup dari dalam rumah kudengar mereka bercengkerama. Kudengar dengan jelas mereka menyebut nama Ustad Zuhdi. Guru ngajiku itu menghilang sejak peristiwa yang menghanguskan langgarnya. Sebagian yakin jika Ustad Zuhdi telah tewas terbantai. Lainnya berargumen, ustad Zuhdi menghilang bersama istrinya. Satu sama lain saling ngotot.

Setelah kejadian itu memang tak lagi ada yang tahu dimana Ustad Zuhdi. Banyak korban berjatuhan dari peristiwa itu. Dari yang terluka hingga hilang nyawanya. Kampung kami sedang berkabung. Berkabung karena matinya akal sehat, juga karena matinya ajaran ukhuwah yang selalu diajarkan Rasulullah. Kami menyesal pikiran-pikiran jahiliyyah kembali hadir di zaman se modern ini.

Sekitar lima jenazah menjadi korban peristiwa itu. Satu dari partai Ijo Muda, tiga dari partai Ijo Tua. Satu lagi korban tak dikenal identitasnya. Jenazah itu telah tak berupa manusia lagi. Sekujur tubuhnya hangus terbakar hingga tak terkenali. Jenazah itu lah yang mereka yakini jenazah Ustad Zuhdi. Guru ngajiku. Mayat-mayat itu dimakamkan dengan nisan tanpa nama. Tak ada yang tahu benar apakah itu Ustad Zuhdi. Sampai saat ini pun.

Tiap aku pulang kampung dan ziarah ke makam Bapak, kupu-kupu itu selalu hadir di penglihatanku. Ada ikatan batin yang sulit diungkap antara aku dan kupu-kupu itu. Kupu-kupu itu seperti merekam sebuah ingatan. Dalam senja yang ramah angin terkadang luruh seakan meniupkan kenangan. Sebuah andai yang ingin kembali terjadi. Tak ada hal lain yang kukenang jika tengah berdiri menatap kepakan lentik dari warna yang begitu membuat bayangan masa lalu muncul kembali. Tak tahu dari mana munculnya. Pernah kucoba menelusuri asalnya. Tapi niatanku begitu saja pupus saat bertemu kenyataan kesehariaanku.

Jepara, Juni 2010, untuk mengenang peristiwa 1999 di kotaku
sumber : majalah annida

Jul
29
Filed Under (CERPIS (CERITA PENDEK ISLAMI)) by PenYejuk haTi UntukmU on 29-07-2010

Penulis: Ana Atari

Degup jantung Arjuna mulai naik turun, keringat dingin pun mulai membasahi kulit putihnya. Mulutnya bagai terkunci, pikirannya tiba-tiba saja hilang. Sosok cinta yang ditatapnya dengan tidak sengaja itu, langsung menancap di dasar isi hatinya, padahal sudah sekuat tenaga dia menahan untuk tidak melihatnya. Tapi apalah daya, di saat dia mendongakkan kepalanya perlahan. Cinta menatapnya dengan pekat, dia memperhatikan dengan serius, tanpa bicara.

“Arjuna…? Kamu sedang sakit?” Miss Stefinaky yang saat itu menjadi moderator tiba-tiba menepuk bahunya. Tak lama terdengar suara riuh mahasiswa Universitas Tokyog, yang saat itu sedang mengikuti lomba Ikebana—merangkai bunga yang diadakan setahun sekali untuk menyambut Hinami—perayaan musim semi di Jepang. Mereka tertawa dan geli melihat kecanggungan teman terpintar mereka. Arjuna makin gelagapan, cinta melihatnya, kini dia tertawa.

Oh Tuhan…cantik sekali. Arjuna melupakan bunga yang sedang dirangkainya. Pagi itu tiba-tiba saja menjadi hal yang membosankan dan melelahkan bagi Arjuna Dwitama, cowok impian semua mahasiswi di Universitas Tokyo, darah Indonesia itu sering kali menjadi bahan obrolan mahasiswi-mahasiswi karena ketampanan dan keramahan dia. Apalagi Arjuna adalah salah satu nominasi terbaik yang karya Ikebananya sering mengilhami mahasiswa untuk mencintai alam dan bunga-bunga. Dan kini ia sedang dilanda virus merah jambu kepada Cinta yang saat itu sedang duduk tepat di depannya.

“Maaf, Miss…anuu…saya….eeh…”

”Kebelet nih, Jun!” Tawa riuh kembali menghiasi seisi ruangan, membuat Arjuna merah padam. Tapi, bukan itu.. sungguh bukan itu, dia malu.. bukan karena ditertawai oleh teman-temannya. Sekali lagi, bukan itu—Cinta sedang tersenyum padanya. Oh God! Biarkan waktu berhenti—benaknya memohon.

“Aku bingung, Tamaki!” ucap Arjuna sedikit menerawang ke arah langit-langit kantin yang mulai terlihat bocor akan tetesan air hujan akhir-akhir ini.

Tamaki Ikazura cuek sambil manggut-manggut, mulutnya penuh dengan oden hangat—masakan lobak, mie rebus, dengan campuran telur rebus, bekal makanannya siang ini, katanya sih—pacarnya khusus membuatkan untuknya untuk menghangatkan tenggorokannya—yang katanya sedang terlanda flu.

“Apa ini yang namanya cinta?” lanjutnya lagi.

Tamaki menyeruput kopi hangat tanpa aba-aba. Kembali dia menyantap oden-nya dengan buas. Sekarang tanpa manggut-manggut, kini dia geleng-geleng. Mengangkat tangannya serta pundaknya sedikit. Arjuna memperhatikan mie yang terurai dalam oden Tamaki yang sedang akan dimasukkan ke dalam mulut sobat satu asramanya ini. Mie panjang seperti rasa penasaranku pada cinta. Rasa inginku ingin memilikinya. Yah, seperti mie itu. Tapi, sepanjang itu pula rasa maluku untuk bilang padanya— oh.. Tamaki bagaimana ini?—benak Arjuna melompat-lompat, cemas.

Tamaki bukannya menjawab, malah serius bercerita tentang bekal makan siangnya yang tak mengugah hati Arjuna untuk makan bersamanya. Arjuna menghela napas panjang.

Dia baru tahu beginilah kalau sedang jatuh cinta. Padahal jujur saja, dia tidak percaya dengan cinta beserta embel-embelnya. Tapi gara-gara waktu itu, waktu dia mencoba menyendiri dengan mengikuti mata kuliah dari jurusan lain tanpa disibukkan dengan pekerjaan mata kuliah yang menumpuk, ataupun proposal yang harus naik “banding” dengan direktur tersayang, dia tak sengaja menangkap sosok alami Cinta yang menyadarkannya dari puluhan tahun, puasa naksir cewek. Padahal Cinta sudah lama di kampusnya. Hanya saja dia baru sadar kalau ternyata Cinta itu ada.

“Maaf, ini bangku saya…” Sosok gempal itu menghampiri Arjuna yang sedang lesu duduk di bangku belakang. Arjuna memperhatikan sejenak. Suaranya lembut namun tegas—seorang gadis, dengan jilbab putih berbadan subur dihiasi dengan wajah oval mirip sekali dengan bola kesukaan Andi, adik kesayangan Arjuna yang kini berada di Kalimantan.

”Maaf, memangnya di sini ada nama kamu, Dut?” ucap Arjuna cuek. Tak biasa memang ia bersikap angkuh. Hanya saja waktu itu dia sedang kehilangan sifat ramahnya karena tersandung dengan mood yang tumpang tindih akibat urusan proposal yang hampir di-drop out dengan bagian administrasi staf kampus. Langsung saja ia mengejek tanpa alasan.

Seakan tersinggung, dadis yang ada didepannya itu mendelik, dengan marah.

”Kalau tidak mau member ya jangan menghina!” Ia pun beranjak dari tempat duduk Arjuna, kemudian keluar dengan menenteng sebuah kursi. Suasana ruang kuliah Jurusan Lecture Art Japan itu tiba-tiba riuh dengan tawa seisi ruangan, ketika gadis berbadan subur tadi masuk dengan menenteng kursi.

Arjuna ternganga.

”Oh.. Ma…af…” suaranya lirih, tersedak di tenggorokan. Baru kali ini dia tidak sengaja menghina seorang wanita di depan mahasiswa-mahasiswa—gawatnya lagi, dia baru sadar dia tidak lagi sendirian di ruangan itu karena jurusannya sudah bubar hampir satu jam yang lalu.

Dia tidak sadar kalau Cinta itu adalah gadis yang berbadan subur yang barusan ia hina. Peristiwa itu terjadi saat Arjuna mencoba meminta maaf dengan gadis itu yang ternyata namanya adalah Yumiko Shafa. Namun, Arjuna senang memanggilnya Cinta.

”Saya memang sering dihina. Saya maklum,” ucap Yumi—gadis imut—berjilbab lebar dengan lesung pipit di pipinya yang oval apel itu.

”Bukan itu maksud aku. Aku tuh…”

”Anda tidak pantas berteman dengan saya!” kata-kata terakhir Yumi ini yang menepuk otaknya dengan keras. Hatinya pedih.

Tamaki cekikikan mendengar cerita Arjuna dengan raut wajah yang sebentar-bentar berubah jadi galak, kaget, tersipu-sipu, dan sedih.

”Kalau aku jadi kamu, Jun, cuekin ajalah, seperti nggak ada yang lain saja. Bukankah cewek-cewek di sini cakep semua, kenapa kamu malah kepincut sama cewek model seperti itu?”

”Namanya Cinta, Tamaki!”
”Ho-oh.. Terus apa istimewanya?”

“Ya, dia istimewa. Dia itu beda, karena….”

Ucapan Arjuna terhenti. Dia mulai mengerlingkan matanya, aneh. Oh, God! Dia baru sadar kalau selama ini dia menyukai Cinta—tanpa alasan.

”Karena…?” Mata dan mulut Tamaki pun mengikuti gerakan mulut sahabatnya tersebut. Arjuna tak berbicara sepatah kata pun. Entahlah. Kata-kata itu hanya sampai di ujung tenggorokannya. Tamaki menyeruput kopi hangatnya lagi, sambil diaduk-aduknya. Kemudian cengegesan tiba-tiba, dijulurkan lidahnya dengan sok centil. ”Karena dia endut ya? Ha..ha..ha!” celetukan Tamaki langsung dibalas dengan jitakan maut Arjuna.

”Sembarangan!”

”Orang Indo memang unik!” cengir Tamaki menyindir Arjuna. Ia hanya mencibir dengan memburu jitakan ke arah kepala Tamaki.

***

Dari obrolan gila Tamaki, Arjuna mulai memikirkan alasan apa dia menyukai Cinta. Yumiko—aku sering lupa kalau itu namanya—aku lebih suka dengan panggilan Cinta untuknya. Seorang gadis berketurunan dua negara—dengan Ayah keturunan Arab dan ibunya keturunan Jepang— berwajah oval, berlesung pipit dua dengan mata birunya yang saat berbicara seperti memberi kilatan pada orang yang melihatnya. Cinta itu memiliki wajah yang indah, senyumnya jarang diumbarnya, tapi sekali tersenyum seperti bidadari. Dia unik. Belum lagi, kata-katanya yang singkat, tapi jelas sekali. Arjuna mulai ingat, pernah suatu hari dia berpapasan dengan Cinta saat di dalam lab komputer kampus.

”Hai, lagi sibuk ya?” Arjuna menggaruk-garuk kepalanya—menyembunyikan raut wajahnya yang memerah.

”Ya.” Cinta tak berkedip sedikit pun dari layar komputernya.

”Oh, lagi ngapain?” Kini Arjuna mulai memberanikan diri menatap Cinta di sampingnya—walau sedikit-sedikt.

”Ngetik!”

”Buat apaan?”

”Tugas.”

”Oh…siapa pengajarnya?”

“Prof. Tatsuro.”

”Ohh…Kamu apa kabar nih?”

”Baik.”

”Masih marah ya, soal yang waktu itu?”

”Enggak.”

”Serius nih?, aku minta maaf deh.”

”Iya.”

Mati kutu deh! Pelit banget ngomongnya, Non…

Mengingat itu Arjuna jadi sering tertawa sendiri. Tapi begitulah Cinta—dia memang beda. Dan Arjuna tidak usah repot-repot mencari alasan mengapa dia mencintai Cinta. Lagian, Arjuna sekarang mulai mencari-cari informasi mengenai cintanya. Bahasa yang terlantun dari mulut Cinta kadang-kadang beraksen Inggris yang mempunyai struktur bahasa halus dan mudah dimengerti, nada bicaranya yang tegas, membedakan ia dengan perempuan-perempuan Jepang yang sering mendekati Arjuna ataupun para perempuan Indonesia.

Usut-usut punya usut. Si Cinta ini adalah perwakilan keputrian di remaja masjid di Universitas Tokyo. Arjuna mulai berpikir, jika dia ingin mendapatkan hati Cinta maka dia harus mengubah penampilannya menjadi seorang pemuda masjid; yang memakai celana gantung di atas mata kaki, dan bahasanya pun mulai diperbaikinya dan selalumemakai peci ke mana pun ia pergi. Dan akhirnya, ia pun merelakan celana kesayangannya dipotong sepuluh centi, serta rela-relain berburu peci yang biasa dipakai pemuda mansjid, kecil, bulat dan bahan dasarnya dari kain di pasar-pasar tradisional. Hal ini tentu saja berbeda dengan kebiasaan Arjuna yang sangat anti dengan pasar tradisional, apalagi jalanannya becek, penuh dengan orang yang berjualan dengan tidak rapi, dan tak jarang berdesak-desakkan hanya untuk mendapatkan barang-barang yang murah dan bagus. Namun, demi cinta dia lakukan semuanya.

”Ya ampun, Jun.. kamu salah makan apa? Kamu kesurupan hantu ya, Jun?” Itulah ekspresi pertama Tamaki—yang tidak percaya, sahabat Indonesia kerennya itu berubah.

Arjuna cuek saja, berapa orangpun menertawakan penampilannya yang baru. Dia tidak peduli. Yang pasti, dengan seperti ini, Cinta akan mulai menyukainya. Walaupun, berubah seperti ini—Arjuna banyak berkorban—banyak organisasi yang terbengkalai—karena dia terlalu aktif di masjid kampusnya.

Tiga bulan sudah dia memasuki dunia “lain” dari kehidupannya. Dia mulai tahu, kalau Cinta tidak menyukai pacaran.
”Wanita itu suka sama lelaki yang bertanggung jawab dengan amanahnya, serta taat beribadah…” ceramah Senior Abdul Damyoji—ketua pemuda masjid di kampusnya itu—mulai menyesakkan hati Arjuna saat mentoring pengurus berlangsung. Soal bertanggung jawab sih, dia selalu tepat waktu hadir di masjid, organisasi yang lain sudah banyak ditinggalkannya agar tidak mengganggu rutinitasnya di keorganisasian masjid. Namun, kalau taat beribadah—hanya di sini ini saja dia sering shalat, mengaji—tapi kalau di rumah jarang— itu juga kalau ada mood. Oke deh kalau cinta memang menginginkan calon suami yang shaleh dan rajin beribadah, aku lakukan, pikir Arjuna.

”Apa? Menikah?” Mata Tamaki melotot, oden kesayangannya hanya menjadi pajangan setelah ia mendengar ucapan dari Arjuna.

Arjuna mengangguk, senang.

”Sama siapa…?”

”Cinta.”

”Ya ampun! Sama cinta yang ndut itu?”

”Hei! Dia calon istriku, Tamaki!”

”Baru juga calon! Kamu kok yakin banget. Memangnya kalian sudah jadian?”

Arjuna menggeleng, tapi raut wajahnya belum berubah—masih tersenyum.

”Gila!”

”Emang!”

Keputusan Arjuna sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat. Walaupun dia jarang berbicara dengan cinta, dia yakin Cinta seringkali juga melirik-lirik pandang ke arahnya. Apalagi, saat ada mentoring semua pengurus. Pertemuan mata mereka seringkali terjadi. Layaknya seorang pejuang di dalam salah satu acara reality show di televisi, Arjuna berusaha mencari tahu kesukaan Cinta. Sampai ke akar-akarnya. Karena cinta bukan dijadikannya seorang pacar, namun istri. Cinta yang satu ini benar-benar berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah ia kenal.

Mulailah ia hunting-hunting foto Cinta di kesekretariatan masjid. Setelah dapat, Arjuna langsung menempel foto itu di gabus-gabus yang telah ditempel dengan hiasan-hiasan love, perjalanan cintanya, pengalaman unik saat ia memendam rindu kepada cintapun ikut nongkrong yang ditempel di gabus-gabus tersebut.

Arjuna pun memberi tahu rencana ini kepada Tamaki. Awalnya, Tamaki sempat jantungan saat mendengar rencana yang akan dijalankan. Namun, karena sudah terbiasa dengan berita-berita “aneh” dari Arjuna, dia akhirnya menurut saja, tanpa komentar—pikir Tamaki—dari pada dia ikutan gila—menentang kemauan Arjuna.

Setelah persiapan telah selesai, entah kenapa degup jantung Arjuna berdetak kencang, seperti ingin keluar saja dari lapisan kulit. Tangannya sedang memegang rangkaian kelopak mawar dengan sakura—karyanya sendiri, disaat ia memikirkan Cinta—mulutnya komat-kamit, seakan menghapal kata-kata yang sedari tadi telah dipersiapkannya. Belum lagi, keringat dingin yang merayapi seluruh badannya. Ini selalu menjadi kebiasaannya—jika akan berdekatan dengan Cinta. Kalau bukan, karena ia teramat ingin memiliki cinta. Mungkin semua ini tidak akan dilakukannya—pikirnya, pasrah. Dan kini tiba saatnya, saat ia berkata jujur pada cinta.

”Kata temen-temen, Anda mencari saya?” suaranya lembut namun tegas kembali terucap. Bagai sebuah petir yang menyambar hati Arjuna— tak karuan.

”Oo.. anu.. iya,” jawab Arjuna pelan.

”Ada apa?”

”Ini buat kamu…” Arjuna mengulurkan rangkaian mawar dan sakura yang tadi dipegangnya kepada Cinta.

”Ini untuk apa?” Cinta menerima, segan.

Arjuna menghela napas, dalam. Kemudian melihat sekeliling. Terlihat teman-temannya yang membawa gabus yang tadi telah mereka hias. Arjuna meniti satu per satu tulisan yang ada. Sampai pada gabus yang dipegang oleh Tamaki, sahabatnya itu memegang gabus yang ”spesial” bertuliskan ”May you married me?” Jantung Arjuna makin kencang berdetak, saat melihat wajah cengegesan Tamaki, berubah menjadi pucat. Apa karena dia gugup juga?

”Tolong lihat yang dibawa oleh teman-temanku ini. Ini semua untuk kamu.”

”Sudah, terus?” Cinta mengernyitkan dahinya.

Arjuna yang tadi gugup, tiba-tiba merasa gemas. Masih saja ia keluarkan suara pelitnya dan kata-katanya yang super pendek, singkat dan padat itu—memangnya ngirim telegram—benak Arjuna berguman. Ingin ia cubit pipinya yang manis itu, melihat wajahnya ia berbenak mengoyangkan isi hatinya.

”Aku suka kamu,” ucap Arjuna kemudian dengan lantang.

Cinta heran, namun tak lama dia tersenyum tipis.

”Jadi?”

Arjuna tambah gemas.

”Kamu mau jadi pacarku?”

”Maaf…”

Kini, jawaban Cinta—membuat Arjuna riang. Dia sudah tahu jawabannya—dia pasti menolak kalau dijadikan pacar, namun jika ia ulangi lagi pertanyaannya—ia yakin Cinta tak akan berkutik lagi.

”Eeh.. maksudku, kamu mau jadi istriku?” Kata-kata Arjuna membuat Riuh teriakan mahasiswa-mahasiswa Universitas Tokyo yang sedari tadi sedang mengamati mereka. Ada rasa cemburu dari Mahasiswi-mahasiswi itu, ada siulan memberi semangat, ada yang berteriak histeris tidak percaya melihat apa yang diungkapkan pujaan mereka, orang Indo tampan terpencut hanya dengan seorang Yumiko Shafa, yang sama sekali tak ada sempurnanya—pikir mereka.

Cinta terdiam, sepertinya dia kaget dengan ucapan dari Arjuna.

”Sukron atas perhatiannya…” sahutnya lembut.

Arjuna menunduk, menyiapkan hatinya. Saat Cinta mengiyakan permohonannya. Mungkin dia akan berteriak sekuat-kuatnya agar seluruh dunia tahu, dia diterima oleh cinta. Karena sudah rahasia umum—seorang wanita seperti cinta sering disebut dengan akhwat— jika dilamar—tidak akan berani menolak—apalagi calonnya rajin nongkrong di masjid, Nehi mohabaten deh buat ditolak. Dan itu akan menjadi suatu kenyataan pada saat ini. Akhirnya pengorbanan lahir dan bathin seorang Arjuna tidak akan sia-sia. Setelah ini dia akan ber-Hinami bersama gadis ini di bawah dedaunan sakura yang indah dan sejuk menatapnya. Bayangan Arjuna sedikit lagi akan berbunga-bunga.

Yumiko mengernyit perlahan, melihat ekspresi Arjuna yang berbinar-binar.

”Tapi saya tetap tidak bisa menerima lamaran Anda…”

Arjuna keget bukan main, dia menonggak dengan cepat. Tamaki saja tidak percaya—gadis seperti Yuniko itu menolak Arjuna yang sering dijadikan rebutan cewek-cewek di kampus. Bukannya menikah adalah satu-satunya cara untuk mendekati Cinta.

”Loh, kok bisa? Bukankah kamu memang gak suka pacaran? Dan kamu pengennya langsung menikah khan? Apa karena kamu masih kuliah, jadi kamu menolak menikah?”

Cinta—Yumiko menggeleng pelan, dibarengi dengan senyuman manisnya. Ini senyuman kesukaan dari Arjuna—cantik sekali.

”Bukan, saya menghargai semua usaha-usaha Anda. Selain saya belum begitu mengenal Anda…”

”Oh.. kalau itu, tenang saja—aku bisa bikin kamu cepat kenal sama aku. Aku orang baik-baik kok, orang Indonesia yang ramah…penyuka bunga, lain kali aku pasti akan tiap hari merangkaikan bunga untukmu.” Arjuna mengedipkan matanya, centil. Cinta manyun, aneh.

”Iya, tapi saya tidak berniat untuk menikah lagi, jadi maafkan saya…”

”Hah? Maksudnya?” Mulut Arjuna tergangga. Tamaki dan mahasiswa yang lain pun tercekat tidak percaya. Menikah lagi?

”Afwan, saya sudah ada yang punya, karena saya sudah menikah.”

”Apaa??!!” Serentak semua mahasiswa berucap.

”Sudah menikah? Sama si…apa?” tanya Arjuna, kelu—Ia pikir kenapa pertama kali Cinta berbicara dengan panjang dan tidak pelit kata-kata akan membahagiakan tapi nyatanya malah menyakitkan hati. Ingin rasanya ia menangis di situ. Tapi jelas saja ia tidak melakukannya karena seorang Arjuna tidak boleh menangis dan tidak boleh kalah. Duh, tapi tetap saja, aku terlihat bodoh sekali—pikir Arjuna, merana.

Cinta mengangguk, ”Senior Abdul Damyoji adalah suami saya.”

Apaaa!!!

Wajah Arjuna merah padam. Senior Damyoji? Oh God! Aku benar-benar kalah total—pikirnya serentak. Kini pengorbanannya seakan sia-sia. Menjadi saleh, rajin beribadah, selalu memakai peci, berkorban waktu menyusuri pasar-pasar tradisional yang becek, bau, serta merelakan berdesak-desakkan hanya untuk mencari peci-peci yang biasa dipakai oleh pemuda-pemuda masjid. Belum lagi usaha Arjuna yang merelakan memotong celana kesayangannya di atas mata kaki— hanya karena ingin dekat dengan Yumiko.

Mata Arjuna perih. Kepalanya mulai terasa berat—kali ini malunya menusuk hulu hatinya. Hinami—berjalan menyusuri taman sakura di musim semi ini kian memudar. Air bening mulai menggenangi kelopak matanya.

11 April 2010

*Kadang sebuah pengakuan tak diperlukan for my rain dalam ”satu kata”

sumber : majalah annida

Jul
29
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 29-07-2010

Bicara tentang cinta pasti nggak pernah ada habisnya. Akan selalu ada cerita. Beragam cerita tentang berbagai versi cinta di dalamnya. Cerita bahagia. Cerita sedih. Cerita tentang kemarahan. Cerita tentang kerinduan. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sahabat. Cinta kepada saudara. Cinta kepada kekasih. Cinta kepada kekuasaan. Cinta kepada kekayaan.

Tapi, adakah cinta sejati di antara semua itu? Cinta yang dapat membuat pengorbanan dilakukan tanpa penyesalan. Cinta yang mampu melahirkan sejatinya kebahagiaan. amai orang berlomba mencari cinta yang sesungguhnya. Mereka mencari, kita mencari, menapaki jalannya masing-masing dengan caranya sendiri. Ada yang dengan memperturutkan hawa nafsu, menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya penentu. Sehingga tidak  heran bertebaranlah cinta rela mati ala Romeo dan Juliet atau ala Jack ‘n Rose. Sehingga lahirlah perayaan berhala cinta ala Juno Februata atau ala Dewa Zeus dan Hera. Cinta liar. Cinta tanpa akal. Cinta tanpa perenungan. Lalu bagi kita,  cinta sejati seperti apakah yang akan kita perjuangkan? Cinta sejati seperti apakah yang layak kita miliki dan bagi?

Cinta sejati yang terabai
Manusia ada karena diciptakan oleh Sang Penguasa Alam Semesta, Allah Swt. Allah telah ciptakan manusia dengan rasa butuh. Manusia membutuhkan makanan-minuman, pakaian dan tempat tinggal untuk bisa tetap menjalani kehidupan. Manusia membutuhkan perlindungan untuk bisa hidup dengan aman. Manusia membutuhkan pendidikan agar mampu berkembang.

Allah ciptakan manusia dengan kemampuan merasa: haru, marah, suka, takut, sedih, takjub, kecewa, cinta. Sehingga hidupnya bisa dijalani dengan lebih berwarna.
Allah ciptakan manusia dengan menyediakan segala isi bumi dan langit diperuntukkan bagi manusia. Allah curahkan air dari langit sebagai penyubur tanaman. Allah ciptakan laut dan sungai beserta makhluk di dalamnya. Allah telah ciptakan padang rumput untuk manusia bisa gembalakan hewan ternak bagi kepentingannya. Allah telah ciptakan pepohonan sehingga manusia bisa berteduh dan membuat tempat tinggal.

Allah telah ciptakan padi, gandum, jagung, ketela untuk mengenyangkan perut manusia. Allah telah ciptakan api dan barang tambang sehingga manusia bisa hidup lebih nyaman. Air, api, udara, tanah, Allah sudah serahkan semuanya bagi manusia. Allah telah hadirkan akal pada manusia sehingga mampu selalu memajukan hidupnya. Dan itu yang teristimewa. Namun, apa yang telah manusia perbuat untuk membalas cintaNya?

Cinta Allah dibalas dengan pendustaan terhadap perintah dan laranganNya. Cinta Allah dibalas dengan penolakan untuk berhukum berdasarkan aturanNya. Yang halal tidak dipedulikan! Yang haram dilanggar! Cinta Allah dibalas dengan pelalaian, pembohongan, dan keengganan untuk taat sepenuhnya, untuk mengabdi sepenuh jiwa. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. hanya dipakai sesekali, tidak untuk dikaji lagi dan ditaati. Ironis. Miris.

Cinta sejati tak akan pernah menyakiti
Cinta Allah kepada makhlukNya adalah ampunan dan nikmatNya atas mereka, dengan rahmat dan ampunanNya, serta pujian yang baik kepada mereka. Cinta Allah kepada kaum mukmin adalah pujian, pahala, dan ampunan bagi mereka (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, hlm.: 42)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari hadist Anas bin Malik r.a. Dia berkata: “Rasulullah saw bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabnya.  Dia berfirman : ‘….Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku menjadi matanya yang ia gunakan untuk memandang. Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang. Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. DenganKu ia mendengar, denganKu dia memandang, denganKu dia memegang, denganKu dia berjalan.  Seandainya ia meminta kepadaKu, niscaya Aku benar-benar memberikan kepadanya permintaanya, dan seandainya dia berlindung kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya….”

Dari Anas r.a., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:”Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tidak suka kembali kepada kukufuran sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke Neraka.(Mutafaq ‘alaih)

Indah. Teramat indah cinta yang Allah Swt. anugerahkan kepada manusia. Cinta yang melebihi cinta semua makhluk di seluruh jagad raya. Kalau kita membalas cinta itu dengan tulus dijamin tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan, bahkan balasannya melebihi apa yang kita mampu perkirakan.
Itulah cinta Allah, cinta sejati. Cinta yang nggak akan pernah menyakiti.

Cinta tanpa koma
Cinta Allah bagi para hambaNya sudah sangat jelas tidak akan pernah lekang oleh jaman. Nggak pernah habis digerus kondisi, situasi, dan waktu. Lalu bagaimana sebaliknya? Balasan seperti apa yang sepatutnya kita persembahkan bagi Allah? Pastinya cinta haruslah dibalas dengan cinta. Cinta yang seperti apa? Al Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridlo terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.”

Di sebuah kisah, Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bertamu ke rumah Ali. Di sana mereka dijamu oleh Fathimah, putri Rasulullah sekaligus istri Ali bin Abi Thalib. Fathimah menghidangkan untuk mereka semangkuk madu. Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mereka. Rasulullah segera meminta para sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut. Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka, turut membuat perumpamaan, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik.  Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” Allah Ta’ala, pun membuat perumpamaan dengan firmanNya dalam hadits Qudsi, “SurgaKu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surgaKu itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surgaKu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Sabili No.09 Th.X)

Cinta kita kepada Allah akan mampu membuat kita rela berkorban apa saja demi Dia, membuat kita akan terus mengingatNya, tunduk terhadap segala tuntunanNya, dan bersabar atas segala ujian dariNya. Tanpa kita was-was kalau cinta kita tidak berbalas. Allah sendiri yang menjanjikan seperti yang termaktub dalam hadist Qudsi di atas. Surga. Memang akan selalu muncul rintangan di tengah perjalanan. Akan ada jalan terjal menuju ke  sana. Namun Allah sudah pastikan surga itu nyata ada buat kita.

Cinta kepada Allah memang harus diletakkan di atas segalanya. Namun, bukan berarti cinta kita kepada manusia yang lain tersingkirkan. Cinta seperti itu seharusnya tetap ada dan memang akan terus ada karena secara alami Allah telah ciptakan bagi kita. Namun, harus dipastikan bahwa iman yang menjadi satu-satunya sandaran. Sandaran bagi cinta. Sandaran bagi benci kita.

Allah berfirman dalam hadist Qudsi:”KecintaanKu pasti akan diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling mengunjungi karenaKu. Kecintaanku berhak diperoleh olah orang yang saling memberi karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang yang saling menjalin persaudaraan karenaKu.”

Keindahan cinta seperti itu pernah ditunjukkan oleh Suhail bin Amr, Ikrimah bin Jahal, dan Al Harist bin Hisyam.  Ketiganya  adalah syuhada di Perang Yarmuk tahun 15 H.  Saat itu mereka bertiga mengalami dahaga yang luar biasa. Para sahabat yang mengetahui itu segera membawakan  air kepada Ikrimah. Namun Ikrimah menolak karena dia melihat Suhail merasakan yang sama. Ikrimah meminta para sahabat memberikan air itu kepada Suhail. Rasa haus sudah mencengkeram kerongkongan, namun di titik nafas penghabisan itu Suhail melihat Al-Harits bin Hisyam juga sedang kehausan. Dia  meminta air itu diberikan kepada Al Harits. Ketika air itu tiba, ternyata Al Harits sudah tiada. Air itu segera dibawa ke Ikrimah kembali, ternyata dia pun sudah tidak bernafas lagi. Sahabat langsung membawakan air kepada Suhail, ternyata kondisi Suhail pun sama, sudah gugur menjadi syuhada. Akhirnya mereka bertiga syahid dalam pengorbanan dan kesetiaan kepada saudara seiman, seakidah, dan tentunya wafat dalam berjuang di jalan Allah, jihad fisabilillah.

Jangan sampai iman pudar lalu hawa nafsu yang menang. Ketika itu yang terjadi maka cinta Allah yang agung tidak akan pernah bisa diindera, dirasa. Cinta antar manusia pun hanya akan berbuah malapetaka. Keinginan kita menuju surgaNya akan sirna.

“Betapa buruk pemuda yang memiliki budi pekerti

dipaksa mengorbankan adab karena nafsu diri
kehinaan didatangi padahal ia mengetahuinya
kehormatannya terkoyak dan kehinaan dijaga
kesadarannya bangkit tatkala dia jatuh terjerembab
dia menangis  tatkala tak mampu lagi bangkit” (Syair Abu Bulaf al-Ajly)

Bro en Sis, Allah Swt. masih memberikan kesempatan bagi kita untuk mencintaiNya dan kita masih memiliki peluang untuk menerima curahan kasih sayangNya. Lalu  mengapa kita tidak berusaha mewujudkan itu pada diri kita?  Jangan sampai ada rasa sesal di kemudian hari karena kesempatan yang berharga telah hilang dari diri.
Cinta Allah akan senantiasa mengalir bagi para hambaNya. Siang. Malam. Saat manusia terjaga. Saat manusia terlelap. Ketika manusia ingat. Ketika manusia khilaf. Tiap detik helaan nafas. Tiap hentakan langkah yang kita buat. Tiap waktu cinta Allah hadir selalu. Cinta tanpa titik akhir. Tanpa jeda. Cinta tanpa koma. Kita pun wajib membalasnya dengan upaya sekuat tenaga untuk memgkokohkan iman, memelihara perjuangan, tentunya diiringi doa dan ketulusan. [nafiisah:  http://nafiisahfb.co.cc]

SUMBER : www.dudung.net