Mar
13
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 13-03-2010

Kamu kudu berhati-hati sama penyakit yang satu ini! Nama bekennya su’udzon alias buruk sangka. Penyakit berbahaya ini bisa menginfeksi hati dan pikiran tanpa disadari layaknya virus. Akan tetapi, kalau virus flu burung dan flu babi paling banter membunuh jasad, virus su’udzon bisa memecah belah umat. Penyakit su’udzon juga disinyalir bisa mendatangkan dosa lebih besar daripada perzinahan. Oh ya?

Apa sih Bahayanya Su’udzon?Dampak yang dibawa oleh su’udzon sangat serius. Su’udzon dapat membutakan mata hati dari kebenaran, juga dapat memancing untuk berprilaku buruk pada orang lain. Apakah kamu tidak menyadarinya?

Di banyak negara, begitu sering perlakuan tidak senonoh diterima oleh kaum Muslim, mulai dari caci maki dan cap sebagai teroris, sampai tindakan penyiksaan fisik. Bukankah hal ini sebagian besarnya diawali dari penyakit buruk sangka yang kemudian tumbuh menjadi kebencian?

Ambil contoh yang tidak terlalu jauh, kalau kamu bertemu dengan seseorang kemudian kamu tersenyum padanya tapi ia tidak membalas senyummu, bukankah sering kali bibit su’udzon tersemai di hatimu? Ada bisikan yang mengatakan, sombong amat sih tuh orang, berjilbab sih berjilbab… juteknya amit-amit.

Inilah contoh ringan bahayanya su’udzon, secara tidak sadar kamu telah menanam prasangka buruk tentang orang itu, dan begitu kamu bertemu dengan ia lagi di lain waktu, bisa jadi kamu tidak lagi memberi senyuman padanya, karena di otakmu sudah ada sinyal, percuma kasih senyum sama orang sombong kayak dia. Kemudian kamu memberitahu perihal kejutekan orang berjilbab itu pada teman-temanmu yang lain, sampai mereka pun tahu kalau si fulanah itu sombong dan nggak ramah.

Su’udzon telah menutup hati dari kebenaran dan menimbulkan sikap buruk pada orang lain, kamu tidak tahu kalau ternyata gadis yang tidak membalas senyummu waktu itu memiliki rabun parah dan saat berpapasan denganmu ia sedang tidak mengenakan kacamatanya karena pecah. Kalau kamu tidak buru-buru bersu’udzon, bukankah hatimu akan jauh lebih sehat? Juga tidak perlu tersebar fitnah buruk yang merugikan orang lain.

Contoh lain su’udzon ada pada sebuah kisah menarik di buku Seven Habits for Teens karangan Sean Covey. Cerita singkatnya begini: Ada seseorang, anggap saja bernama A, sedang menunggu kedatangan pesawatnya di ruang tunggu keberangkatan bandara. Karena bosan, ia ingin sekali memakan snack yang ia beli tadi. Belum lagi ia makan, tiba-tiba seseorang mengambil snack dari tempat duduk di sampingnya dan tanpa minta izin langsung membuka dan melahap isi snack itu. Tentu saja A kaget luar biasa dengan tindakan tidak sopan orang tersebut, anggap saja ia bernama B.

A langsung merebut snack-nya dari tangan B, kemudian memakan snack-nya itu dengan emosi. Menjengkelkan, setelah itu si B masih dengan tidak tahu malunya mencomot isi snack itu dari tangan A, mukanya pun tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali, ia ikutan melahap isi snack tersebut. Mungkin ia terbiasa melakukan hal memalukan seperti itu. A kemudian meraup lebih banyak snack dan cepat-cepat menghabiskannya, sementara B masih asyik ikutan memakan snack itu sampai habis.

Begitu akhirnya pesawat tiba, dan A sudah duduk di dalamnya, alangkah terkejutnya ia ketika membuka tas, rupanya snack yang ia beli masih berada di dalam tasnya. Berarti, snack yang tadi ia makan adalah snack milik B. Oalah… siapa kini yang lebih memalukan? Prasangka buruk memang nggak ada bagus-bagusnya, namanya saja sudah buruk, cuma bikin malu. Makanya… jauh-jauh deh sama su’udzon!

Bentuk-bentuk Su’udzon

Sobat Nida, su’udzon ada berbagai macam, mulai dari yang remeh sampai yang skala gawat, yang jelas semuanya musti dihindari karena tidak ada yang membawa kebaikan. Allah sendiri telah memperingatkan kita untuk menjauhi buruk sangka, karena kebanyakan prasangka adalah dosa.

Beberapa bentuk su’udzon antara lain:
· Su’udzon Pada Allah Hati-hati! Su’udzon pada Allah bahkan bisa dilakukan tanpa disadari, ketika kamu mengeluh tentang nasibmu misalnya. Yang paling bahaya dari berprasangka buruk pada Allah: Su’udzon kamu akan dikabulkan oleh Allah, karena sesungguhnya Allah mengikuti prasangka hamba-Nya. So, hati-hati dengan prasangkamu!

· Su’udzon Pada Sesama Muslim

Su’udzon pada sesama Muslim mungkin merupakan hal yang paling sering kita lakukan, baik sadar ataupun tidak. Melihat seorang muslimah berjilbab yang berpakaian model jadul, hati kita merutuk… iih, memburukkan citra muslimah aja sih, kuno amat! Padahal bisa jadi beliau itu memang tidak mampu untuk membeli baju baru. Daripada su’udzon, kita kan bisa menanyakan langsung atau mengusulkan padanya untuk berpakaian lebih modis misalnya. Su’udzon pada saudara sendiri sama sekali nggak oke, sudahlah tidak membawa manfaat, kalau prasangka buruknya salah malah bikin tengsin.

· Su’udzon Pada Nonmuslim

Ada seorang bapak yang melarang putrinya untuk berteman dengan tetangga mereka yang nonmuslim, ngobrol pun nggak boleh, karena khawatir mendapat pengaruh buruk dari mereka. Duh, memangnya Rasul mengajarkan kita untuk seperti itu? Nggak kalee! Bahkan Rasulullah datang menjenguk seorang Yahudi yang sakit. Bukankah Islam adalah rahmat bagi seluruh alam? Kalau pada nonmuslim bawaannya su’udzon melulu, bagaimana kita bisa memperlihatkan keindahan Islam pada mereka?

Harus Gimana Doong?

Mungkin kamu jadi bingung, panik, dan bertanya-tanya, terus gue musti gimana? Secara… gue sering banget berprasangka tanpa gue sengaja. Sumpah deh…gue nggak sengaja su’udzon. Masa’ iya kalau nggak sengaja dapat dosa?

Oke, tenang! Tenang! Nida punya sedikit tips yang mudah-mudahan bisa membantumu mengurangi kebiasaan bersu’udzon:

1. Setiap ada prasangka negatif, istighfarlah sebanyak-banyaknya!
Bisa jadi prasangka itu datangnya dari setan yang pastinya berusaha menggelincirkanmu dari jalan ke surga. Makanya jangan diikuti! Kalau ada prasangka kurang bagus terhadap orang lain, langsung saja baca ta’awudz, minta perlindungan Allah dari godaan setan yang terkutuk! Apalagi kalau prasangka itu sangat kuat bercokol di benakmu.

2. Langsung cari informasi dari orang pertama.
Begitu timbul prasangka, cobalah untuk menanyakan langsung kebenarannya pada pihak yang terkait. Jangan ditunda-tunda dan jangan malah bertanya pada pihak lain yang bisa jadi malah mengembuskan pergunjingan!

3. Cari Prasangka Tandingan
Untuk menyelamatkan hatimu dari infeksi su’udzon, ketika prasangka buruk melanda sedangkan kamu tidak bisa menanyakan langsung kebenarannya pada pihak terkait, segera cari kemungkinan-kemungkinan lain tentang hal tersebut. Misalnya, kamu melihat seorang laki-laki berjenggot dengan perempuan jilbaban sedang menautkan kedua tangan mereka, romantis bak truk gandeng, tapi kamu tahu banget mereka berdua sama-sama single, dan nggak mungkin saudara kandung, warna kulitnya beda, bentuk muka beda, tampang nggak mirip sama sekali. Timbullah prasangka negatif di benakmu.

Coba deh cari prasangka tandingan, mungkin saja mereka saudara sepupu? Atau bisa jadi mereka saudara sepersusuan? Ada banyak kemungkinan yang bisa kamu pikirkan agar tidak terjerat su’udzon. Yang paling bagus sih coba langsung tanyakan kebenarannya pada pihak terkait! Kalau prasangka awalmu benar, kamu bisa sekaligus mengingatkan saudaramu dari kelalaian. Ya kan?

Su’udzon Jangan, Waspada Perlu!

Lho apa bedanya?
Su’udzon dan waspada memang terkesan mirip, tapi sebenarnya beda banget. Waspada itu muncul karena sudah memiliki ilmunya, sudah ada pengetahuan tentang hal terkait, dan bisa membuat diri jadi hati-hati, sedangkan su’udzon datang dari pemikiran sendiri, seringnya sih malah menghasilkan gunjingan.

Beda dengan su’udzon, waspada itu perlu! Contoh mudah, kamu sudah memiliki pengetahuan tentang hipnotis, ada orang yang bisa menghipnotis hanya dengan menggunakan asap rokok, dan modusnya biasanya dengan menanyakan sesuatu, entah itu menanyakan jam, alamat, dan sebagainya. Maka, ketika kamu sedang sendirian di tengah malam, kemudian didatangi oleh seseorang yang lagi mengisap rokok dan tiba-tiba menanyakan jam berapa, kamu perlu waspada… jangan-jangan orang itu punya niat kurang baik, dengan demikian kamu akan lebih berhati-hati.

Kalau Harus Su’udzon, Alamatkanlah Pada Diri Sendiri!

Kita seringkali terbalik, pada orang lain berprasangka buruk, sementara pada diri sendiri berprasangka baik. Ah, gue kan udah sering shalat tahajjud, dhuha, shalat lima waktu juga selalu tepat waktu, kalau ada muhasabah selalu bisa nangis, baca Quran sehari satu juz, insya Allah dosa-dosa kecil gue bakal diampuni Allah, yah… mudah-mudahan bisa jadi salah satu penghuni surga-lah.

Padahal kalau boleh su’udzon, kita seharusnya mengalamatkannya untuk diri sendiri. Ketika melihat ada pekerjaan yang tidak beres, cepat-cepat bersu’udzon… jangan-jangan gara-gara saya? Kalau sudah merasa dirimu dekat dengan Allah, setiap doamu langsung dikabulkan oleh-Nya, maka bersu’udzonlah pada dirimu! Barangkali Allah mengabulkan doa-doamu bukan karena bagusnya kualitas ibadahmu, melainkan untuk menguji sebaik apa rasa syukurmu. Dengan demikian, kita tidak akan pernah kegeeran dan memandang terlalu tinggi pada diri sendiri. [Syamsa]

Feb
01
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 01-02-2010

Jika kamu memancing ikan….
Setelah ikan itu terlekat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu….
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja….
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi
ia masih hidup.

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang…
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya….
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja….
Karena dia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya
selagi dia mengingatmu….

Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah
menganggap ia begitu teguh…. cukuplah sekadar keperluanmu….
Apabila sekali ia retak…. tentu sukar untuk kamu menambalnya semula….Akhirnya ia dibuang ….
Sedangkan jika kamu coba membaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi….

Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya….
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa….
Anggaplah dia manusia biasa.
Apabila sekali dia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya….
akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus hingga ke akhirnya….

Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi…
yang kamu pasti baik untuk dirimu. Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain..
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya.
Kamu akan menyesal.

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan….. yang kamu pasti membawa kebaikan
kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu.
Mengapa kamu berlengah, coba membandingkannya dengan yang lain.
Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan kehilangannya apabila dia menjadi milik orang lain.
Kamu juga yang akan menyesal.

————
-: Sarikata.com :-

Feb
01
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 01-02-2010

PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun
menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah
Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan
pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi,
kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit,
makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia
pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia
tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak
memerlukan hal2
seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua,
bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di
meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan
obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok
garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main
dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat
pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan
kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku
tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di
kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus
dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat
dia masih di ICU, seorang
perempuan datang menjenguknya. Dia
memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah
melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya
bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia
berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan
kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun
perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu
mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah
dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya
teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan
kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di
advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan
untuk perusahaan tempatnya
bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis
pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan
dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum
baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering
termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau
aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih
dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya
dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha
masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak
mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu dia
terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja
sepiring nasi itu sudah habis
ditangannya. Dan….aku tidak pernah
melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti
siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya,
tidak pernah sedetikpun !

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya
membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku.
Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku
melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau
memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada
sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami
kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu
komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha
begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan
membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang
mengajakku
nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang
lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati
bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang
bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah
menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun,
rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia
berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau
lihat surat papa buat tante Meisha ?”

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung
hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan
pada Rima. Aku mencintai Rima
karena kondisi yang mengharuskan aku
mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2
mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku
memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika
aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya.
Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa,
tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan
yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa
hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti
ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang
tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti
pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun
tumbuh dengan lebat secara alami.
Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik
orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen
pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa,
asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan
segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan
seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya
aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku
hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my
heart.

yours,
Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun
baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat
mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku.
Dia mencintai perempuan lain.

Aku
mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir
setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku
letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku
mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu
aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa
heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan
bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku
dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran,
sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak
pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga
seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ?
Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan
tidak
menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam
dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya
nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia.
Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan
pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai
perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku
akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah
pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

” Mario, suamiku….

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali
bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu
terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku
ketika aku tidak bertepuk sebelah
tangan. Aku mencintaimu, dan begitu
posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu
asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin,
ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si
puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu
dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja
untukku…..

Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan
kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman
kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ” kenapa, Rima ?
Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu
menjadi istriku ?”

Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah
bahagia
bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu.
Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,
Rima”

Di surat yang lain,

“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi
sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak
pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat
cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat
memandang Meisha……”

Disurat yang kesekian,

“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2
padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika
emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau
sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka
bertengkar dengan ibumu. Aku selalu
tersenyum menyambutmu pulang
kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih
hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak
kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur
disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena
penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan
tetap berusaha dan menantinya……..”

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata
indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini…

“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9.
Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan
memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling
enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya
dirumah Bude Tati, sampai
kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali,
dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran
dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya
tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan
hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar
kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi
dihatimu ?………”

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat
keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya
kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari
mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2
kepadaku, tapi aku selalu
menyayanginya. Mama memarkir motornya
diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat
dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya
terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak
lagi bergerak……” Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik
ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia
sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario
mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima
membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi
marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang
dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan
memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki
dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah
tanda2 aku mulai mencintainya ?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha.
Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan
mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana.
Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk
disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya
telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang,
ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Jakarta, 7 Januari 2009  (dedicated to my friend….may you rest in peace…)

Feb
01
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 01-02-2010

Seorang pecundang akan berkata “Ini mungkin, tapi sulit” sedangkan seorang pemenang akan berkata “Ini sulit, tapi mungkin

Sekarang kita tinggal memilih, kita akan menjadi siapa? Seorang pecundang atau seorang pemenang? Seorang pecundang yang hanya dengan melihat saja sudah menyerah, pasang kuda – kuda dan dalam hitungan ketiga lari menjauh. Seorang pecundang yang patah semangat, hilang kepercayaan diri, takut, dan percaya bahwa apa yang dilakukan akan percuma saja bahkan gatot (gagal total). Ataukah seorang pemenang, seorang pemenang yang percaya bahwa dia akan berhasil, dengan semangat, usaha, kerja keras, dan do’a dia percaya mampu menaklukkan dunia. Selanjutnya? Terserah anda!

Penulis yakin bahwa semua akan memilih menjadi seorang pemenang, karena memilih menjadi pemenang atau pecundang tidak sulit, sangat mudah hanya dengan memilih. Namun dalam pelaksanaan sulit untuk diterapkan.

Hidup adalah sumber masalah, pertempuran atau bahakan medan perang yang tidak akan pernah berhenti. Sejak kita lahir hingga membaca tulisan ini, semuanya pertempuran. Pertempuran melawan ketidakmampuan, ketidakberdayaan, dan juga pertempuran melawan ketidak maha tahuan kita.

Kita tercipta menjadi seorang pemenang sayangnya kita sendiri menjadikan diri kita seorang pecundang. Bagaimana tidak waktu kita kecil kita tidak mampu berbuat apa – apa, yang bisa kita lakukan hanya menangis. Lihatlah diri kita sekarang, kita bisa berjalan bahkan berlari, kita bisa makan bahkan membuat makanan, kita bisa berbicara bahkan bernyanyi. Coba banyangkan apa yang akan terjadi apabila sejak kita terlahir kita menjadi seorang pecundang yang takut belajar berjalan karena takut jatuh, yang takut makan sendiri karena takut belepotan dan ketakutan – ketakutan yang lain. Mungkin manusia akan punah karena tak mampu berbuat apa – apa.

Apabila kita tercipta menjadi seorang pemenang, mengapa kita rubah diri kita menjadi seorang pecundang. Pecundang yang mencari kambing hitam atas kesalahannya, pecundang yang bila diberi penghalang akan berbalik arah, pecundang yang selalu mencari jalan pintas atas semua kesulitan, pecundang yang ingin sukses tanpa kerja keras dan pecundang yang selalu menunggu keajaiban turun dari langit.

Salah satu rintangan akan kita hadapi [UAS, UAN, Ujian semester], satu rintangan yang sangat mudah dibandingkan rintangan – rintangan yang akan kita hadapi dihari yang akan datang. Inilah saatnya kita menentukan menjadi siapakah kita? Seorang pecundang atau menjadi seorang pemenang? Pemenang yang dengan sepenuh hati percaya bahwa dia akan menang, pemenang yang sadar bahwa keajaiban tidak datang dengan sendirinya melainkan dengan usaha dan kerja keras, pemenang yang tidak akan berbalik arah hanya karena ada penghalang didepannya, pemenang yang tidak akan bingung tuk mencari jalan pintas karena dia tahu dia berada di jalan yang benar, pemenang yang selalu menambah bekalnya untuk menemani perjalanannya, dan pemenang yang tidak akan membohongi diri sendiri dan orang lain tuk berbuat curang.

Jika kita memilih menjadi pemenang, masih ada waktu tuk menyiapkan semua bekal, masih ada waktu tuk menyingkirkan semua rintangan, masih ada waktu tuk mengubah pikiran kita terutama tentang apa yang kita pikirkan tentang diri kita.

And the last:
U ar what u think! So, u must believe that u ar the winner!! If u believe it, u’ll be the big winner!!
S’mangat!!

 dudung.net)

Feb
01
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 01-02-2010

Pertemuan adalah awal dari sebuah perpisahan”. Begitu pepatah mengatakan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di halaman sekolah, tak terbayangkan kalo suatu hari nanti, kita pun kudu rela angkat kaki darinya. Ketika pertama kali berkenalan dengan teman sekolah saat masa orientasi siswa, nggak kebayang kalo suatu saat kita pun mesti ikhlas melepas kepergian mereka. Ketika pertama kali mengenal guru yang mengajar dan membimbing kita layaknya orangtua, nggak kepikiran kalo tiga tahun akan datang, dengan berat hati kita lambaikan tangan pada mereka. Memang, nggak akan ada acara perpisahan kalo sebelumnya nggak pernah ketemuan. (hiks…hiks…hiks…. jadi bernostalgia).

Perpisahan sekolah, sebuah tradisi
Menjelang berakhirnya tahun ajaran, tiap sekolah tidak hanya disibukkan dengan persiapan penerimaan siswa baru, tapi juga acara perpisahan yang nggak boleh kelewatan. Mulai dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, atau SMA, semuanya ikut melestarikan momen spesial ini. Maklum, sudah tradisi!

Seperti penuturan Pak Hilman, salah staf pengajar di SMP PGRI 1 Ciawi Bogor, beliau menuturkan, acara perpisahan sekolah selalu ada di akhir tahun ajaran. Biasanya digelar di halaman sekolah pada pagi hingga siang hari yang diisi dengan pentas seni antar kelas atau angkatan serta pengumuman siswa berprestasi. Tujuannya, semata-mata untuk mendekatkan hubungan antar siswa sekaligus penyerahan kembali tanggung jawab pendidikan dari pihak sekolah pada orang tua.

Namun bagi Anindy, muslimah alumnus SMA Ibnu Aqil di Bogor tahun 2006, acara perpisahan di masanya cukup bikin bete. Lantaran acara bebas, nggak ada batasan antara siswa dan siswi. Jadinya campur baur deh alias ikhtilat. Padahal aturan Islam yang mulia udah ngatur tata cara pergaulan dengan lawan jenis. Nah, ikhtilat kan termasuk yang dilarang. Kondisi yang sama juga dihadapi Fida, muslimah alumnus SMAN 4 Kendari, Sulawesi Tengara, tahun 2000. Nggak heran kalo mereka nggak ikut ambil bagian dalam acara itu.

Tak hanya dalam negeri, acara perpisahan sekolah juga hadir di setiap negara dengan kekhasan budayanya. Seperti cerita Norhafidzah, siswi Kolej Matrikulasi Pahang, Malaysia, kepada penulis. Di negeri jiran, acara perpisahan sekolah lazimnya diisi dengan jamuan makan dengan tempat duduk terpisah antara putra en putri. Kadang ada juga yang meramaikannya dengan permainan cabutan bertuah atau kotak beracun alias kotak undian. Waduh! Apa yang dapet undian disuruh minum racun? “terpulang (tergantung).. suruh menyanyi.. melakonkan.. atau terkadang ada juga buat perkara2 yang tidak senonoh macam cium dinding (nyium tembok), cium kasut (nyium sepatu)” nah lho, nggak sekalian disuruh nyium aspal! Hehehe….

Terjebak budaya pesta
Derasnya arus informasi budaya sekular yang menyapa remaja kita, menginspirasi mayoritas pelajar muslim untuk lebih maksimal dalam menikmati hidup dengan bersenang-senang. Tak heran kalo gaya hidup yang berorientasi pada fun (hiburan/kesenangan), food (makanan—termasuk minuman), serta fashion (pakaian/penampilan) kian banyak digandrungi. Kondisi ini melekat sekali dalam budaya pesta remaja saat ini.

Jika budaya pesta udah ngecengin remaja, kondisi apapun bisa dijadikan alasan kuat untuk berhura-hura. Dapet kecengan baru, makan-makan. Mau merit, ngadain bachelor party alias pesta bujang. Putus cinta juga bisa jadi alasan untuk berpesta sebagai simbol kemerdekaan dari sebuah komitmen. Malah bisa jadi, pesta juga digelar demi merayakan keberhasilan mencabut gigi sakit yang udah berminggu-minggu menyiksa batin. Sampe segitunya. Ya iyalah, namanya juga maniak pesta!

Apalagi momen perpisahan sekolah, tentu nggak perlu ditanyain lagi kelayakannya sebagai alasan untuk bersenang-senang. Mulai dari aksi corat-coret pylox di baju seragam, hangout ke tempat wisata, hingga ngadain hajatan malam pesta dansa alias prom night. Parahnya nih ye, di Balikpapan, 13 pelajar merayakan perpisahan dengan teman-teman sekolahnya sambil berpesta miras sebelum diciduk polisi. (Pos metro Balikpapan, 15/05/07).

Sebagai pelajar muslim, tentu budaya pesta yang nggak ada manfaatnya (hura-hura dan maksiat) nggak layak mengisi hari-hari kita. Apalagi prom night yang jelas-jelas datang dari budaya Barat, bisa dipastiin steril dari aturan agama, apalagi aturan Islam. Mulai dari campur baur cewek-cowok, pamer aurat, hingga gaul bebas yang menjurus pada freesex. Budaya pesta hanya akan membuat hati kita membatu, egois bin individualis. Iya dong, coba tengok sekeliling kita. Tega bener kita berpesta-pora dengan menghambur-hamburkan uang sementara teman sekolah kita, tetangga, atau bahkan sodara kita kudu berjuang mati-matian demi mempertahankan hidup. Mana empati kita?

Perjalanan belum berakhir
Sobat, wajar aja kalo kita merasa senang bin gembira karena berhasil menyelesaikan masa pendidikan di tingkat menengah. Meski nilainya pas-pasan banget. Tapi bukan berarti boleh euphoria alias berlebih-lebihan dong. Apalagi sampe terjerumus dalam kegiatan pesta-pora. Nggak deh.

Inget Bro, lulus sekolah bukan berarti akhir dari perjalanan hidup kita. Lulus sekolah cuma sebagian kecil dari penggalan kisah kehidupan kita. Coba deh tarik napas dalam-dalam, keluarkan sedikit-sedikit dari mulut (bukan dari bawah), tenangkan hati, dan coba pikirkan hari esok. Di sana udah nunggu episode kehidupan baru yang bakal kita jalani lagi dari nol.

Yup, dari SMP kita akan masuk ke masa SMA dengan gejolak jiwa muda yang membara dan bisa membakar kita jika salah mensikapinya. Lulus SMA, kita pun disodorkan pilihan untuk melanjutkan pendidikan kita ke perguruan tinggi atau terjun ke dunia kerja. Kedua-duanya menuntut kesiapan mental dan jiwa kita selain materi. Lantaran kita akan berhadapan dengan wajah-wajah baru dengan berbagai karakter. Nah, yang jadi pertanyaan apa yang sudah kita persiapkan?

Setelah tamat perguruan tinggi, masyarakat pun telah menunggu kontribusi positif kita. Usai titel sarjana kita raih, apa yang akan kita perbuat? Menjadi bagian dari komunitas pencari kerja? Atau malah menambah deretan jumlah pengangguran intelek?

Sobat, mau dibingkai seperti apa masa depan kita jika budaya pesta-pora tanpa yang berbalut maksiat lebih kita minati dibanding belajar, berpikir, berdakwah, dan memberikan manfaat bagi semua? Tak tergiurkah kita dengan sabda Rasul: “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain “ (HR Bukhari)

Kemuliaan dalam kesederhanaan
Sobat, kalo kita nyadar bahwa potret masa depan telah kita bingkai sejak saat ini, tentu hidup sederhana dalam keseharian lebih keren dibanding terjebak dalam hingar-bingar kesenangan dunia belaka. Hidup sederhana yang kita maksud adalah membelanjakan harta dengan tidak berlebihan untuk memuaskan nafsunya serta nggak pelit dalam berbuat kebaikan. Allah Swt. berfirman:

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”(QS al-Isrâ [17]: 26-27)

Jadi, kalo punya harta berapa pun, kita ikhlas membaginya untuk berbuat kebaikan, nggak semuanya dilalap untuk memenuh hasrat belanja kita yang nggak ketulungan. Oya, kalo pun mo beli barang untuk memenuhi keperluan, ya disesuaikan dengan kebutuhan kita. Bukan dipaksa memenuhi keinginan kita yang gampang tergoda oleh iklan yang bombastis. Tetep kalem, Bro! Nggak usah tergesa untuk tergoda.

Untuk itu, kita bisa menauladani kehidupan Rasulullah saw. Umar Ibnu Khattab bercerita: “Aku pernah minta izin menemui Rasulullah, aku mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar, sebagian tubuh beliau berada di atas tanah, beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya, aku tidak sanggup menahan tangisku.

“Mengapa engkau menangis, hai putra Khaththab?” Rasulullah bertanya. Aku berkata, “Bagaimana aku tidak menangis, tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau. Engkau ini nabi Allah, kekasihNya, kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Padahal di tempat sana, Kisra dan Kaisar duduk di atas kastil emas, berbantalkan sutra”.

Nabi yang mulia berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir kita. Perumpamaanku dengan dunia seperti seseorang yang bepergian pada musim panas, ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya”. (Hayat al- Shahabah 2: 352)

Untuk mewujudkan pola hidup sederhana dalam keseharian, bisa kita mulai dengan: Pertama, jinakkan perasaan tidak puas terhadap kenikmatan yang udah Allah kasih buat kita. Hidup kita bakal dibikin tekor dunia dan akhirat kalo pikiran selalu terfokus pada apa yang belum kita miliki, bukan mensyukuri apa yang sudah kita punya.

Kedua, lejitkan rasa percaya diri dalam diri kita. Orang psikologi bilang, Orang yang punya merasa rendah diri akan mudah terjebak dalam pola hidup yang tidak sederhana dengan cara menipu diri -self deception (Hamacheck: 1987). Dia takut memunculkan identitas aslinya sehingga menipu dirinya dengan menghadirkan jati diri orang lain yang dipercaya bisa diterima oleh lingkungan dibanding dirinya. Maka, sebagai remaja muslim, kudu tetep confident dengan kesederhanaan hidup kita yang terbalut ridho ilahi. Nggak mesti jadi bebek kan? Nggak usah semangat ikut yang salah.

Nah sobat, alangkah indahnya jika kita bisa menghiasi hidup kita dengan kesederhanaan. Kita bisa ngasih nilai tambah pada momen perpisahan sekolah tanpa harus menyeretnya dalam budaya pesta berbalut maksiat. Kegiatan bakti sosial, foto bareng temen-temen sekelas di halaman sekolah, atau bikin buku angkatan yang berisi biodata singkat semua sohib satu angkatan dengan catatan dan harapan masing-masing, bisa jadi alternatif agenda di akhir tahun ajaran.

So, yang penting mari kita sama-sama belajar mencontoh kehidupan Rasulullah saw. maupun para sahabat yang sederhana dalam penampilan namun berlimpah dalam kebaikan serta memberikan manfaat bagi semua orang. Itu baru cool, calm, en confident as a moslem!  dudung.net)

Feb
01
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 01-02-2010

Kematian nggak pernah diketahui datangnya. Setiap orang pasti mati. Tapi semua orang tak pernah tahu kapan kematian menjemputnya. Itu sebabnya, kita kudu siap-siap sebelum datang hari di mana kita harus sudah pergi meninggalkan segala nikmat dunia. Kalo kita perhatiin, ada yang sebelum mati sempat ninggalin pesan tertentu kepada keluarganya. Tapi banyak juga yang pergi ninggalin dunia tanpa pesan. Banyak orang juga yang insya Allah saat ajal mendekat ia masih bisa beramal shalih. Khusnul khatimah alias baik di akhir hidupnya. Namun nggak sedikit yang saat ajal mendekatinya dan benar-benar menjemputnya ia sedang berbuat maksiat. Su’ul khatimah alias buruk di akhir hayatnya Naudzubillahi min dzalik.

Bro en Sis, ajal setiap orang udah ditetapkan waktunya. Udah dijatah sama Allah Swt. batas waktu ‘beredar’ setiap orang di dunia. Jangan lupa juga bahwa hidup kita dunia ini akan diuji, siapa yang terbaik amalnya. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Maha Suci Allah Yang di tanganNyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS al-Mulk [67]: 1-2)

Yup, ada ganjaran berupa pahala yang akan diberikan oleh Allah Swt untuk setiap ibadah yang kita lakukan. Begitu pula, Allah Swt. akan memberikan siksa bagi manusia manapun yang telah berbuat dosa dalam kehidupannya (atau bahkan selama hidupnya). Tentu itu adil dong ya. Mereka yang beriman dapat pahala, dan siapa saja yang berbuat maksiat diberikan siksa karena dosa-dosanya. So, emang nggak akan lepas dari pengawasan Allah Ta’ala. Waspadalah!

Terus, gimana kalo kita kadang berbuat maksiat? Ya, Allah Swt. udah ngasih jalan, yakni dengan cara bertobat alias minta ampunan. Setelah bertobat tentu harus ninggalin maksiat yang telah atau biasa dilakukannya sebagai wujud tobat yang sebenarnya-benarnya. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” [QS at-Tahriim [66]: 8]

Kita semua pernah berbuat dosa
Sobat muda muslim, siapa pun orangnya, pasti ia pernah melakukan dosa, kecuali Rasulullah saw. tentunya, karena memang beliau ma’shum (terbebas dari dosa dan kesalahan) dalam penyampaian risalah Allah ini. Itu sebabnya, saya waktu ngaji dulu, ustadz saya sering mengatakan bahwa, “Orang yang bertakwa bukanlah orang yang selalu benar dalam hidupnya. Tapi orang yang bertakwa adalah ketika berbuat dosa, kemudian menyadari dan segera memohon ampunan kepada Allah Swt.”

Rupanya ungkapan ustadz saya itu melumerkan kengototan saya waktu itu, yang menilai bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang selalu benar dalam hidupnya. Pernyataan ustadz saya ini juga semakin menumbuhkan keyakinan dalam diri saya bahwa meski kita tak boleh salah dalam hidup ini, bukan berarti kita akan lolos dari kesalahan. Karena yang terpenting adalah menyadari kesalahan tersebut dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi sambil mohon ampunan kepada Allah Swt.

Imam Ibnu Katsir menukil sabda Rasulullah saw.: “Seorang hamba tidak dapat mencapai kedudukan muttaqin kecuali jika dia telah meninggalkan perkara-perkara mubah lantaran khawatir terjerumus ke dalam dosa” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Boys and gals, menurut hadis ini, yang mubah saja bila perlu dihindari karena khawatir terjerumus dalam dosa, apalagi yang sudah jelas haram. Iya nggak sih? Oya, dalam keterangan lain, orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menjaga dan membentengi diri. Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwa muttaqin adalah orang-orang yang berhati-hati dan menjauhi syirik serta taat kepada Allah. Sedangkan Imam Hasan Bashri mengatakan bahwa bertakwa berarti takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah Swt. dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah Swt.. Berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sedangkan Ibnu Mu’tazz melukiskan sikap yang mesti ditempuh seorang muslim agar mencapai derajat muttaqin dengan kata-kata sebagai berikut: “Tinggalkan semua dosa kecil maupun besar. Itulah takwa. Dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di tanah yang penuh duri, selalu waspada. Jangan meremehkan dosa kecil. Ingatlah, gunung yang besar pun tersusun dari batu-batu kecil”.

Nah, kebayang banget kan kalo semasa hidupnya ada orang yang selalu maksiat. Duh, gimana tuh dosanya. Termasuk dalam hal ini adalah orang-orang yang ketika hidupnya selalu melecehkan kaum muslimin, menghina ajaran Islam, dan malah lebih memilih bersahabat dengan musuh-musuh Islam. Ih, dosanya pasti berlipat-lipat. Apalagi pas ajalnya datang nggak bertobat. Naudzubillahi min dzalik.

Memang sih urusan dosa Allah Swt. yang akan menghisabnya. Tapi kan kita juga diajarkan oleh Rasulullah saw. untuk menilai seseorang dalam berperilaku. Bahwa yang kita nilai itu adalah yang tampak dan sudah jelas dilakukan seseorang (“nahnu nahkumu bidzdzawaahir”, begitu kata Nabi saw.). Misalnya, ada orang yang ngomong bahwa demokrasi itu sistem yang lebih baik dari Islam (sambil dengan bangga menentang upaya perjuangan orang-orang yang ingin menegakkan Khilafah Islamiyyah), dia juga ngoceh bahwa pluralisme, sekularisme, dan liberalisme  lebih hebat ketimbang Islam, selain itu dia terang-terangan melecehkan kaum muslimin. Nah, untuk orang yang kayak gini tentu saja kita bisa menilai nih orang udah bermaksiat kepada Allah Swt. Tentu, berdosa dong ya.

Minta ampunan Allah Swt. yuk!
Sobat muda muslim, ampunan Allah jauh lebih besar dari murkaNya. Lagi pula, memohon ampunan Allah (bertobat) sekaligus mencerminkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah. Karena orang yang bertakwa salah satu cirinya adalah segera mohon ampunan kepada Allah jika dia sudah menyadari kesalahannya. Jadi, nggak usah malu untuk bertobat en nggak usah merasa ribet. Jalani aja sambil terus belajar supaya nggak kecebur ke dalam jurang yang sama. Karena dengan belajar kita jadi tahu dan yakin bisa menjalani hidup ini dengan tenang. Cobalah.

Rasulullah saw. memberikan pujian buat kita-kita yang takwa dan taat pada ajaran Islam. Apalagi sebelumnya kita ahli maksiat. Betul nggak? Indah nian ungkapan Rasulullah saw. empat belas abad yang lampau: “…ada kaum yang akan datang sesudah kalian (para sahabat r.a.). Mereka percaya kepada (sekadar) kitab yang dibendel, lalu percaya dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya. Mereka lebih utama daripada kalian. Mereka lebih besar pahalanya daripada kalian.” (HR Ibnu Mardawih yang dikutip dalam penjelasan di Tafsir Ibnu Katsir)

Bro en Sis, hidup ini penuh dinamika. Penuh warna, penuh liku, penuh lubang dan mendaki (Iwan Fals banget neh!). Kata orang bijak, hidup adalah untuk mati. Bisa dipahami, karena akhir dari kehidupan adalah kematian. Nggak salah-salah amat kok. Tapi, kita juga wajib ngeh, untuk apa kita hidup. Untuk apa kita ada dunia ini. Dan, akan ke mana setelah bersuka-cita, termasuk berduka-derita di dunia ini?

Kehidupan ini pasti akan berakhir. Wak Haji Rhoma Irama juga tereak: “Pesta pasti berakhir” (kalo disebut nama ini, kamu jangan langsung menggoyangkan jempol tangan dan kaki ya, hehehe…). Hidup di dunia ibarat menempuh sebuah perjalanan panjang dan melelahkan. Banyak sekali cerita terukir di sini. Cerita suka, duka, derita, bahagia, sedih, gembira, kecewa, optimisme, putus asa, peduli, kasih-sayang, cinta, dan seabrek pernak-pernik dan kerlap-kerlip kehidupan dunia yang melengkapinya.

Bro, perjalanan panjang di dunia ini pasti akan berakhir. Ada terminal akhir yang merupakan tempat kita berlabuh. Allah Swt. udah menyediakan dua tempat; surga dan neraka. Surga untuk para pengumpul pahala, sementara neraka adalah kelas ‘eksklusif’ para pendosa.

Nah, mumpung kita masih bisa bernapas, mumpung kita masih bisa tertawa, selagi kita masih punya kesempatan banyak, di saat kita masih muda usia, sebelum air mata penyesalan mengalir deras dari kedua mata kita, ada waktu untuk kita perbaiki diri. Jangan putus asa juga buat para pendosa. Yakinlah, selama hayat masih di kandung badan, kalian punya kesempatan yang sama untuk menuai pahala. Bertobat dari berbuat maksiat, itu keputusan tepat. Setelah itu mari belajar agama. Pahami, cermati, dan amalkan dalam kehidupan.

Sobat muda muslim, ‘qod qola’ Alvin Toffler, “Perubahan tak sekadar penting untuk kehidupan. Perubahan adalah hidup itu sendiri.” Paling nggak, kita berubah menjadi baik dari buruk adalah sebuah perubahan yang menentukan hidup kita sendiri.

Islam juga mengajarkan agar kita senantiasa berbuat baik. Jika kebetulan berbuat maksiat, bertobatlah segera. Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri ra. katanya: Nabi saw. bersabda: “Seorang lelaki dari kalangan umat sebelum kamu telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang manusia, lalu dia mencari seseorang yang paling alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang pendeta, dia terus berjumpa pendeta tersebut kemudian berkata: Aku telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang manusia, adakah taubatku masih diterima? Pendeta tersebut menjawab: Tidak. Mendengar jawaban itu, dia lalu membunuh pendeta tersebut dan genaplah seratus orang manusia yang telah dibunuhnya. Tanpa putus asa dia mencari lagi seseorang yang paling alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang ulama, dia terus berjumpa ulama tersebut dan berkata: Aku telah membunuh seratus orang manusia. Adakah taubatku masih diterima? Ulama tersebut menjawab: Ya! Siapakah yang bisa menghalangi kamu dari bertaubat? Pergilah ke negeri si fulan, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah. Kamu beribadahlah kepada Allah Swt. bersama mereka dan jangan pulang ke negerimu karena negerimu adalah negeri yang sangat hina. Lelaki tersebut berjalan menuju ke tempat yang dimaksud. Ketika berada di pertengahan jalan tiba-tiba dia mati, menyebabkan Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab berselish pendapat mengenai orang tersebut. Malaikat Rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah Swt. Namun Malaikat Azab juga berkata: Dia tidak pernah melakukan kebaikan. Lalu Malaikat yang lain datang dalam keadaan menyerupai manusia dan mencoba menengahi mereka sambil berkata: Ukurlah jarak di antara dua tempat. Mana yang lebih (jaraknya menuju negeri yang dituju), itulah tempatnya. Lantas mereka mengukurnya. Ternyata mereka dapati lelaki tersebut tempat meninggalnya lebih dekat kepada negeri yang ditujunya. Akhirnya dia diambil oleh Malaikat Rahmat” (HR Bukhari dalam Kitab Kisah Para Nabi, hadis no. 3211)

Oke deh, bertobat lebih hebat ketimbang tetap berbuat maksiat. Kamu bisa kok. Yakin deh.

Apa yang harus kita lakukan?
Pertama, menyesal. Tanpa penyesalan, rasanya sulit untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat. Penyelasan ini kudu benar-benar tumbuh dalam diri kamu. Minta maaf pula kepada orang yang kamu “kerjain”. Janji nggak bakal ngulangi lagi. Kedua, niat sungguh-sungguh. Kuatkan tekad kita untuk menghentikan kebiasaan maksiat. Ada pahala pula di balik niat yang sungguh-sungguh itu. Ketiga, cari lingkungan yang mendukung. Ini penting banget sobat. Sebab, kalo kamu belum bisa mengubah lingkungan, jangan-jangan kamu yang terwarnai. Kalo lingkungannya baik sih oke aja. Tapi kalo rusak? Bisa gawat kan? Jadi, gaul deh ama teman-teman yang udah baik-baik untuk membiasakan kehidupan kamu yang baru.

Keempat, tumbuhkan semangat untuk mengkaji Islam. Sobat, dengan mengkaji Islam, selain menambah wawasan, juga akan membuat kita tetap stabil dengan “kehidupan baru” kita. Maksiat? Sudah lupa tuh! Kelima, senantiasa berdoa. Jangan lupa berdoa kepada Allah, mohon dibimbing dan diarahkan, serta dikuatkan tekad kita untuk meninggalkan maksiat. “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan permohonanmu itu.” (QS al-Mukmin [40]: 60)

Yuk, mumpung masih ada waktu, kita mohon ampunan kepada Allah Swt. Bertobat dengan sebenar-benarnya bertobat. Tak mengulangi kemaksiatan yang telah dilakukan dan sebaliknya kita berlomba memperbanyak amal shalih. Semangat! [solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]

Des
25
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 25-12-2009

1
Begitulah kondisi guru itu. Dengan segala keterbatasannya BELIAU penuh semangat dan dengan dedikasi yg tinggi mengajar anak-anak di pemukiman/tempat kumuh. bahkan, MUNGKIN tidak mendapatkan bayaran/gaji.

2

3

4

5

6

7

8

Begitulah, seorang guru di CHINA, lalu bagaimana di INDONESIA…??

Des
22
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 22-12-2009

ibu1
�Cucianmu sudah ibu cuci, Ni!� Kata ibuku ketika aku baru saja sampai di rumah. Aku segera beranjak memasuki kamarku dan melihat tempat cucian kotorku sudah kosong. Ah ibu, aku berusaha pulang cepat hari ini agar aku bisa mencuci baju-baju kotorku. �Ibu tahu, kamu pasti lelah�. Aku hanya bisa tersenyum memandangi wajah renta ibuku.Diusianya yang lewat setengah abad, ibuku termasuk wanita yang sehat. Beliau masih mampu mencuci baju semua anggota keluarga. Bukan berarti kami malas mengerjakannya tapi karena ibuku punya kebiasaan unik yaitu tidak bisa melihat barang-barang kotor. Tangannya langsung bergerak membereskan apa saja yang tidak sedap dipandang.

�Apa ibu nggak cape jika tiap hari selalu beres-beres, aku menggaji orang saja ya biar ibu bisa istirahat� kataku suatu hari. Ibu memandangku, �Kamu nggak suka ya kalau bajumu ibu cucikan�. �Aku sayang sama ibu, aku nggak tega melihat ibu bekerja keras tiap hari�, aku berusaha membujuknya untuk menerima saranku. �Ibu senang kalau diusia ibu sekarang, ibu masih mampu mengurusmu, mencucikan pakaianmu dan adikmu atau menyiapkan sarapanmu tiap pagi�. Yah..aku tak pernah lupa, jika hari libur kantorku hari sabtu dan minggu, ibu selalu menyiapkan nasi goreng daun mengkudu dan telor ceplok kesukaanku.

Aku ingat sebuah pepatah �Seorang ibu bisa mengurus sepuluh orang anak, tapi sepuluh orang anak belum tentu mampu mengurus seorang ibu� . Aku termenung sendirian dikamarku, diusiaku yang beranjak dewasa, aku merasa belum pernah sekalipun membahagiakannya. Pernah suatu kali, aku membelikan pakaian untuknya, tapi ibuku malah balik bertanya �Kamu sendiri beli nggak? Kalau kamu nggak beli, baju ini untuk kamu saja. Baju ibu masih banyak kok�, ibuku tak mau menerima. Esoknya aku beli baju lagi agar ibu mau menerima pemberianku.

�Ibu sudah bahagia melihat anak-anak ibu berhasil� kata beliau suatu kali ketika aku menanyakan apa yang bisa aku perbuat untuk membuatnya bahagia. �Melihat kamu dan kakak-kakakmu bisa mencari uang sendiri dan kamu bisa rukun dengan saudara-saudaramu, itulah kebahagian ibu� Aku teringat kakak-kakaku, alhamdulillah mereka semua sudah mempunyai penghasilan sendiri, hanya adikku yang masih kuliah.

Kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang hayat . Apapun yang sudah kita buat belum apa-apa dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang telah diberikan pada kita.Ya Alloh , curahkan kasih sayang-Mu pada kedua orang tuaku, teramat khusus untuk ibu. Allahummaghfirlanaa wali-waalidainaa warhamhumaa kamaa rabbayanii shaghiiraa. Amiin

Untuk Ibunda tercinta, I always love you.

Des
13
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 13-12-2009

girlsellslonghairtosavemotherPengorbanan sang ibu sejak mengandung sang buah hati ketika dalam kandungan hingga merawat ketika bayi sampai membesarkannya, melindungi dan memberikan pendidikan pada anak-anaknya dengan penuh kasih sayang tidaklah mungkin bisa digantikan oleh seorang anak walau dengan apapun. Sebagai seorang anak gadis belia ini mencoba untuk memberikan pengorbanannya pada ibunda tercinta yang tengah sakit dan membutuhkan biaya yang sangat besar.

Itulah A’zhen gadis 17 tahun dari propinsi Guang’Xi dataran Cina yang mengiklankan diri secara online disebuah web untuk menjual rambutnya yang memiliki panjang 1,5 meter yang selama ini sudah dirawatnya dengan susah payah, rambutnya tersebut ditawarkan senilai RMB 20.000 atau sekitar Rp 25 juta. Seperti dikutip ruanghati.com dari harian China Daily mengatakan banyak yang meragukan pengakuan sang gadis tentang kondisi ibunya yang sakit keras tersebut karena A’Zhen tidak merinci jelas identitas sang ibu untuk alasan privasi.

Setiap hari di situs komunitas tersebut memang banyak semacam pgakuan yang dibuat untuk memohon donasi, namun sang pengelola situs Tianya Community tersebut susah memfilter mana pengakuan dan informasi yang sungguhan atau yang palsu.

Namun akhirnya seorang pengusaha kaya Wang Chengzhi dari Jiangsu mengaku telah mengkonfirmasi perihal kasus A’zhen ini dan mengontak rumah sakit tempat ibunya dirawat serta bersedia memberikan jaminan bantuan untuk pengobatan ibunya tersebut. Sang ibu yang berprofesi sebagai wartawan tersebut bernama Xiong Qian akhirnya dibantu oleh pengusaha tersebut senilai RMB 3.000 untuk mengobati sakitanya yang disebut sebagai gangguan Ginekologis yang dideritanya sejak bercerai dengan suaminya.

Menjelang hari ibu, sudahkah Anda mempersiapkan diri untuk mengungkapkan terima kasih kita pada sang ibunda yang telah membesarkan dan berkorban untuk kita?

sumber :ruanghati.com

Des
03
Filed Under (Renungan) by PenYejuk haTi UntukmU on 03-12-2009

tulisan ini hanyalah “menempel”kan dari email seseorang. Apabila sudah atau pernah, ya mohon maaf.  Sekedar berharap mudah2an ada pelajaran yang bisa kita ambil. Betul tidak gan…?

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesiyang akan digelutinya. “Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studiHukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.

Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang “selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami diameraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah”alif” dan huruf terakhir “ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia  6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya, “Tidakkah si Alif terlalu keciluntuk ditinggal-tinggal?” Dengan sigap Rani menjawab,”Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya.Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Ranitinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatanibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. “Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau diaminta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga
itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocahkecil ini “memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknyamewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orang tuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya “malaikat kecilku”. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tuanya supersibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. “Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkank eperluan kantornya.  Suaminya pun turut membujuk Alifagar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. “Bunda,mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan.Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karenaA lif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien,sang baby sitter. “Bu, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late.Allah SWT sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya. Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah,satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.

Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.

Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. “Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, “Ini sudah takdir,ya kan.  Sama saja, aku di sebelahnya ataupun diseberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?” Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannyakosong. “Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.

Tiba-tiba Rani berlutut. “Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali inisaya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. “Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja,Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup diatasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.

Note: Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong. Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengand unianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang2 di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu. Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada. Pelajaran yangs angat menyedihkan.