Annida-Online–REPUBLIKA.CO.ID, Elizabeth Torres kehilangan delapan anggota keluarganya dalam serangan 11 September 2001 lalu. Beberapa tahun kemudian, ia menjadi seorang mualaf.
“Saya tak pernah menyalahkan agama apapun atas apa yang terjadi pada keluarga saya,” ujar Torres. “Islam tidak menyuruh kita untuk menghancurkan apapun. Orang-orang yang melakukan ini dimanipulasi, dicuci otaknya,” katanya lagi.
Elizabeth mengaku telah lama menjalani pencarian spiritual. Ia berpaling ke Islam setelah menikah dengan seorang warga Mesir. Ia mengganti namanya menjadi Safia El-Kasaby.
El-Kasaby mengaku mendapat tentangan dari keluarganya. Putrinya, Sylvia, yang bersuamikan seorang tentara yang gugur di medan perang menolak berhubungan kembali dengannya.
Putrinya yang lain, harus menghadapi komentar miring dari teman-temannya. “Mereka bilang, ‘Oh, ibumu teroris sekarang.’ Dan saya bilang, ‘Tidak, itu berbeda sama sekali dengan agamanya,” ujar Natalia Torres.
Tidak mudah bagi Elizabeth Torres untuk beralih agama pasca serangan 11 September. Kejadian 11 September tak pelak lagi membuat banyak kalangan memandang umat Islam dengan penuh curiga.
Bahkan survei terbaru Gallup menyebutkan setidaknya 48 persen warga Muslim Amerika pernah mengalami diskriminasi atau setidaknya perhatian negatif dari warga sekitar. Karena diskriminasi seperti itulah, Torres yang sempat mengenakan jilbab mengambil keputusan untuk menanggalkan penutup rambutnya.
“Yang penting adalah hubungan saya dengan Tuhan. Bila hati saya baik-baik saja dengan Dia, tidak penting apa yang orang lain katakan,” ujarnya.
Pada peringatan 10 tahun 11 September, mualaf ini kembali menyayangkan mengapa agama pilihannya ini dibajak oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam.
Pasar Blackberry Malaysia cuma sepersepuluh Indonesia.
VIVAnews - Pemerintah geram terhadap produsen BlackBerry, Research In Motion Company, atas pembangunan pabrik mereka di Malaysia. Sebab, pasar BlackBerry Malaysia jauh lebih sedikit dibandingkan Indonesia. “Tapi kenapa membangun pabrik di Malaysia?” Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Wirjawan mempertanyakan, saat ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Rabu 7 September 2011.
Gita mengatakan pasar telepon pintar asal Kanada itu di Indonesia sangat besar. Di Indonesia tahun ini saja RIM menargetkan penjualan 4 juta unit dengan harga rata-rata US$300 per unit. Sedangkan di Malaysia, RIM tak akan mampu menjual lebih dari 400 ribu unit. “Cuma sepersepuluhnya Indonesia,” katanya.
Selain BlackBerry, pemerintah juga kesal terhadap produsen peralatan rumah tangga asal Jerman, Bosch, yang juga membangun pabrik solar panel di Malaysia, sedangkan pasar terbesarnya justru di Indonesia. “Ini yang perlu disikapi,” ujar Gita.
Atas masalah ini pemerintah tengah mengkaji pemberian disinsentif kepada perusahaan yang memiliki pangsa besar di Tanah Air, namun tidak membangun pabrik di Indonesia. “Menteri Perindustrian sudah mengambil sikap,” katanya.
Hingga kini, menurut Gita, pemerintah saat ini masih terus menginventaris produk-produk yang dikonsumsi dengan skala besar, namun tidak memiiliki pabrik di Indonesia. “Tidak ada alasan mereka tidak produksi di Indonesia,” katanya. (kd)
Fatwa Liga Muslim Dunia mengaitkan Ahmadiyah dengan imprealisme dan Zionisme. Di Indonesia, fatwa ini semakin menemukan kebenarannya di saat para budak Zionis berjuang mati-matian agar Ahmadiyah tak dibubarkan. Konferensi Liga Muslim Dunia (Rabithah Al-Alam Al-Islami) yang berlangsung di Makkah Al-Mukarramah pada 6-10 April 1974 M/14-18 Rabiul Awwal 1394 H, yang dihadiri oleh 140 delegasi dari berbagai negara Muslim dan organisasi-organisasi Islam dunia, menjadi perhelatan penting sejak organisasi ini didirikan pada tahun 1962. Konferensi pada tahun 1974 itu begitu penting, karena dalam pertemuan itu Rabithah Al-Alam Al-Islami mengeluarkan fatwa tentang kekafiran Ahmadiyah dan menyerukan kepada seluruh dunia Islam untuk mewaspadai organisasi yang menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setalah Nabi Muhammad SAW ini.
Dalam fatwa yang dikeluarkannya, Rabithah Al-Alam Al-Islami menulis,
“Qadianiyah (Ahmadiyah, red) semula dibantu perkembangannya oleh imprealisme Inggris. Karena itu, Qadiani telah tumbuh subur di bawah bendera Inggris. Gerakan ini telah sepenuhnya berkhianat dan berbohong dalam berhubungan dengan umat Islam. Agaknya mereka setia kepada imprealisme dan Zionisme. Mereka telah begitu dalam menjalin kerjasama dengan kekuatan-kekuatan anti Islam dan menyebarkan ajaran khususnya metode-metode jahat berikut ini:
* 1. Membangun masjid dengan bantuan dari kekuatan anti Islam di mana pemikiran-pemikiran Qadiani yang menyesatkan ditanamkan ke masyarakat.
* 2. Membuka sekolah-sekolah, lembaga pendidikan dan panti asuhan di mana di dalamnya diajarkan dan dilatih untuk bagaimana agar mereka dapat lebih menjadi anti-Islam dalam setiap kegiatan-kegiatan mereka.
* 3. Menerbitkan versi Al-Qur’an yang merusak dalam berbagai macam bahasa lokal dan internasional.
Fatwa itu juga meminta kepada umat Islam untuk memposisikan Ahmadiyah sebagai golongan non-muslim yang telah keluar dari Islam, dan melarang keras bagi para anggota Ahmadiyah untuk pergi ke Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah. Selain itu, kepada umat Islam juga diserukan untuk tidak menjalin hubungan dengan Ahmadiyah, baik dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Tidak melakukan pernikahan dengan mereka, serta tidak boleh menguburkan orang Ahmadiyah di pekuburan Muslim. Dengan tegas fatwa itu kemudian menyebutkan, ”Seluruh negara-negara Muslim di dunia harus mengadakan pelarangan keras terhadap aktivitas para pengikut Mirza Ghulam Ahmad dan harus menganggap mereka sebagai minoritas non-Muslim serta melarang mereka untuk duduk dalam jabatan yang sensitif di pemerintahan.”
Menarik dalam fatwa tersebut, para tokoh delegasi yang hadir dari berbagai dunia Islam sepakat untuk memuat pernyataan, “Gerakan ini telah sepenuhnya berkhianat dan berbohong dalam berhubungan dengan umat Islam. Agaknya mereka setia kepada imprealisme dan Zionisme. Mereka telah begitu dalam menjalin kerjasama dengan kekuatan-kekuatan anti Islam…”
Liga Muslim Dunia mengaitkan keberadaan Ahmadiyah dengan imprealisme dan Zionisme. Ahmadiyah adalah proyek imprealis Inggris untuk memecah belah umat Islam dengan menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai boneka peliharaan.Dalam buku “Freemasonry Yahudi Melanda Dunia Islam” peneliti Zionisme A.D El-Marzededeq, menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmadiyah adalah seorang Mason yang diangkat oleh penjajah Inggris untuk mendirikan Gerakan Kemahdian dan mendakwakan dirinya sebagai Al-Masih Al-Mau’ud (Messias yang Dijanjikan). Marzededeq menyatakan, “Baik Ahmadiyah Qadian maupun Lahore keduanya berkaitan erat dengan gerakan Freemason.”
Sementara Prof. Ahmad Syalabi, ahli perbandingan agama-agama, dalam bukunya yang sudah diterjemahkan berjudul “Agama Yahudi” menyatakan bahwa kelompok-kelompok rahasia Yahudi juga berada dalam organisasi seperti Ahmadiyah Qadiani. (hal.347). Inggris sebagai negara imprealis yang menjadikan Ahmadiyah sebagai organisasi bonekanya adalah pusat gerakan Freemason pada masa lalu, dimana Grand Lodge of England, tempat berkumpulnya para Yahudi, berdiri pertama kali. Loge Freemasonry itu melahirkan kader-kader Mason yang kemudian berusaha memecah belah agama, untuk kemudian menghapuskannya sama sekali dari muka bumi.
Indonesia meskipun menjadi anggota Liga Muslim Dunia, namun sampai saat ini belum memberikan keputusan tentang pembubaran Ahmadiyah. Meski fatwa tentang kesesatan Ahmadiyah sudah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 1980 dan ditegaskan pada tahun 2005, namun sampai hari ini pemerintah belum mengeluarkan keputusan tentang pembubaran organisasi perusak akidah ini. Ketika kasus Ahmadiyah ramai, dan tuntutan pembubaran semakin kencang, negara-negara Eropa memberikan sinyal kuat kepada pemerintah SBY agar tidak coba-coba membubarkan Ahmadiyah.
Selain itu, LSM-LSM komprador yang selama ini bekerja dalam kucuran dollar dan majikan asing, seperti Jaringan Islam Liberal (JIL), The Wahid Institute, Ford Foundation, Liberal for All Foundation (LibforAll), dan lain-lain, melalui para pengasongnya berkoar-koar membela Ahmadiyah. Puncaknya, pada 1 Juni 2008, para jongos asing ini membentuk organisasi payung bernama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Mereka mengadakan Apel Siaga di Lapangan Monas untuk melindungi Ahmadiyah dari tuntutan pembubaran.
Sebelum apel siaga, mereka menebar propaganda dengan memuat iklan di beberapa media nasional, dengan tajuk “Mari Selamatkan Indonesia Kita”. Untuk mengingat lebih jelas iklan provokatif tersebut, berikut kutipannya:
“…belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhinekaan. Mereka juga menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat. Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan damai dengan umat lain. Pada akhirnya mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan konstitusi, dan menghancurkan sendi-sendi kebersamaan kita. Kami menyerukan, agar pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan keindonesiaan itu.”
Iklan provokatif tersebut disetujui oleh 289 nama tokoh yang tertera, diantaranya Abdurrahman Wahid, Ahmad Syafi’i Ma’arif, Amien Rais, Azyumardi Azra, Musdah Mulia, Rizal Mallarangeng, KH Mustofa Bishri, dan lain-lain. Siapa yang dimaksud dengan “mereka” dalam iklan tersebut? Tak perlu mengerutkan dahi dan mengerahkan intelijen hebat untuk menjawab pertanyaan itu. Tudingan itu jelas diarahkan kepada gerakan Islam yang sampai saat ini terus berupaya menegakkan syariat Islam dan membubarkan segala kelompok sesat yang menodai Islam.
Untuk membela Ahmadiyah, tak tanggung-tanggung, pentolan JIL, Ulil Abshar Abdalla, yang pernah menyatakan fatwa MUI konyol dan tolol, membuat tulisan berjudul “Doktrin-doktrin yang Kurang Perlu dalam Islam”. Ulil menyebut ada sebelas doktrin yang kurang perlu dalam Islam, diantaranya doktrin bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. “Doktrin ini jelas “janggal” dan sama sekali menggelikan. Setiap agama, dengan caranya masing-masing, memandang dirinya sebagai “pamungkas”, dan nabi atau rasulnya sebagai pamungkas pula. Doktrin ini sama sekali kurang perlu. Apakah yang ditakutkan oleh umat Islam, jika setelah Nabi Muhammad ada nabi atau rasul lagi?” tulis Ulil.
Pria yang saat ini menjadi salah seorang ketua di Partai Demokrat kemudian menambahkan,”Mengaku bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika tawadhu’ itu. Mengaku bahwa setelah Nabi Muhammad tidak ada nabi atau rasul lagi adalah berlawanan dengan etika tawadhu’,” begitu cerocos Ulil yang beberapa waktu lalu memberi masukan kepada SBY untuk membubarkan organisasi FPI.
Dari beberapa fakta di atas, makin jelaslah bahwa ada tangan-tangan asing, Zionis dan imprealis, yang berusaha agar Ahmadiyah tidak dibubarkan di Indonesia. Sebab, keberadaan Ahmadiyah di negeri dengan penduduk Muslim terbesar seperti Indonesia, menjadi nilai kebanggan tersendiri bagi para pengikut nabi palsu ini. Mereka akan semakin merasa menang, jika Indonesia, negeri yang dihuni mayoritas Muslim, tidak mampu membubarkan Ahmadiyah. Jika pemerintah SBY tak mampu atau tidak berani membubarkan Ahmadiyah, maka makin menguatkan dugaan banyak orang bahwa SBY adalah bagian dari kaki tangan asing.
Jakarta - Demi keadilan bagi sang anak, apa pun akan dilakukan oleh seorang bapak. Demikian pula yang dilakukan oleh Indra Azwan. Pria berusia 51 tahun ini nekad jalan kaki dari Malang menuju Jakarta untuk menemui Presiden SBY. Indra ingin meminta keadilan atas kasus anaknya yang tewas ditabrak oknum Polri.
Ditemui detikcom saat beristirahat di sebuah SPBU di Kota Pemalang, Jawa Tengah, Selasa (20/7/2010), wajah Indra memang terlihat lelah. Namun di balik itu, tersirat semangat dan kebulatan tekad untuk tetap melanjurkan perjalanannya ke Jakarta.
“Apa pun yang terjadi saya tetap akan ke Jakarta untuk mencari keadilan atas kasus anak saya,” ujar Indra mantap.
Pria separuh baya ini kemudian bercerita tentang peristiwa kelam yang dialami buah hatinya. Menurut Indra, kisah duka itu terjadi sudah sangat lama, sekitar 17 tahun silam. Rifki, putra pertamanya yang berusia 7 tahun, tertabrak sepeda motor yang dikemudikan seorang anggota Polri ketika menyeberang jalan di depan rumahnya, Desa Watu Barat, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Rifki tewas seketika.
Awalnya, proses hukum kasus tersebut memang sempat berjalan, namun hanya sesaat. Beberapa lama kemudian, kabar proses hukum kasus ini bagai hilang ditelan bumi. Indra tidak pernah memperoleh kabar apa pun tentang perkembangan proses hukum kasus ini.
“Sampai akhirnya pada tahun 2008, anggota Polri itu disidang di PN Malang. Tapi anehnya, dia langsung divonis bebas oleh hakim,” ungkap Indra dengan nada tinggi.
Indra mengaku kesal dengan keputusan PN Malang tersebut. Dirinya merasa diperlakukan tidak adil oleh majelis hakim yang memimpin jalannya persidangan.
“Polisi itu sampai sekarang masih dinas di Polda Jatim,” ketus Indra.
Indra mengaku sudah melakukan berbagai upaya untuk memperoleh keadilan. Namun sampai saat ini, harapan untuk mendapatkan keadilan hanya angan-angan belaka. Sampai akhirnya dia nekat melakukan aksi jalan kaki Malang-Jakarta untuk menemui Presiden SBY.
“Saya berharap sekali Presiden SBY mau bertemu dan membantu rakyat kecil seperti saya mencari keadilan,” ujar pria berkacamata itu.
Saat ditemui detikcom, Indra tampak mengenakan baju kaos putih dan bercelana loreng. Dia juga berkalung potongan kain yang pada bagian depan tertera tulisan ‘Aksi Jalan Kaki Malang-Jakarta’. Sedangkan di bagian punggung atau belakangnya tertera tulisa ‘Korban Mafia Hukum’.
sumber : detiknews.com
Gaza telah banyak ditulis media massa sebagai pusat konflik. Di kota
kecil yang padat inilah lahir ratusan pejuang Palestina. Mengapa Israel
tak pernah bisa menaklukkannya?
Hidayatullah.com–Jalur
Gaza, adalah sebuah tempat yang menyiratkan kepedihan, namun juga
semangat perjuangan bagi banyak rakyat Palestina. Wilayah ini luasnya
hanya 360 km² –separuh wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta–
dengan jumlah penduduknya sekitar 1.225.911 (2002).
Jalur Gaza
hanya sepetak tanah tandus di Palestina. Agak berbeda dengan Gaza City,
yang kini dijadikan sebagai ibu kotanya. Di Gaza City, sebagaimana
daerah Yerusalem, subur luar biasa. Gaza kumuh dan semrawut. Dokar,
mobil, motor dan kendaraan lainnya campur aduk.
Sudah miskin
teraniaya pula. Selain lokasinya yang berada di ujung dekat perbatasan
Mesir dan diapit oleh laut Mediterania, Israel menempatkan balok-balok
cor setinggi 9 meter (lebih tinggi dari tembok Berlin), meliputi Jalur
Gaza dari selatan, utara dan timur untuk membatasi ruang gerak warga.
Tembok ini dilengkapi dengan sarana keamanan, alat penyergapan, tempat
pengintai, alat-alat komunikasi, deteksi peringatan, alat perekam, dan
alat-alat elektronik lainnya. Gaza ibarat akuarium hidup dan penjara
besar banga Palestina.
Daerah miskin ini semakin menderita
tatkala berbagai tekanan militer Israel terus diarahkan ke Gaza. Karena
itulah, Jalur Gaza hingga sampai saat ini tetap menjadi daerah berbahaya
bagi kalangan jurnalis. Di kota kecil yang kumuh inilah Presiden
Mahmoud Abbas pernah berkantor, sebelum Gaza dikuasai Hamas.
Gaza
merupakan wilayah yang masih belum terjamah oleh pendudukan Israel.
Keberadaannya sebagai akibat dari perang Arab-Israel tahun 1948 dan
Perang Enam Hari pada 1967, yang efeknya berakhir pembagian batas-batas
wilayah antara Israel dan Palestina, yakni; Tepi Barat, Jalur Gaza, dan
Yerusalem Timur, akibat dari pencaplokan Semenanjung Sinai, Dataran
Tinggi Golan, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur oleh Israel. Sejak itu,
Israel membangun dan memperluas koloni Yahudi di Tepi Barat dan Jalur
Gaza, serta menguasai lebih dari 50% teritori yang diduduki.
Zionis-Israel juga meluaskan aneksasinya ke wilayah Yerusalem Timur dan
Al-Aqsa, tempat suci yang pernah menjadi kiblat umat Islam sedunia.
Kini,
Gaza lebih dikenal sebagai tempat jutaan orang melarikan diri dan
tempat mengungsi. Anak-anak berlomba membantu orangtua mereka
mengumpulkan makanan dari pusat distribusi bantuan PBB, sementara para
perempuan berkumpul di dekat truk-truk, menunggu nama mereka di panggil
untuk menerima jatah makanan.
Sejak Hamas berhasil menguasai
Gaza, Israel dibantu Fatah langsung mengisolasi wilayah itu. Israel,
selain menyatakan perang terhadap Hamas, juga telah menutup
penyeberangan kunci perbatasan, menghentikan perdagangan, dan memaksa
ribuan warga Palestina mencari tempat perlindungan ke lembaga-lembaga
bantuan PBB.
Badan bantuan PBB untuk para pengungsi Palestina
mengatakan, hampir 825.000 orang dari 1,5 juta warga Gaza termasuk
kategori pengungsi.
Namun kondisi ini, sesungguhnya bukanlah
mencerminkan keadaan sebenarnya. Sebab, jika warga Palestina di Gaza
diberi kesempatan seperti yang lain, mereka bisa hidup secara baik.
Israel dan negara-negara Barat, adalah bagian tak terpisahkan sebagai
pencipta kekacauan ini.
Kesimpulan ini disampaikan oleh Shami
Shafi, seorang konsultan perusahaan di Jalur Gaza. “Penduduk di Gaza
punya peluang dan potensi untuk membangun perekonomian yang sukses, bila
mereka diperlakukan sebagai manusia. Bila mereka diizinkan untuk
bergerak. Kami bisa berkembang, tetapi kami harus bebas, bebas bergerak
dan dapat memanfaatkan peluang yang ada,” ujar Shafi yang tahun lalu
mendirikan perusahaan untuk memajukan perkembangan ekonomi di Gaza,
sebagaimana dikutip Islamonline.
Janji Syeikh Yasin
Gaza
adalah saksi hidup berbagai peristiwa, termasuk berbagai luka bangsa
Palestina. Banyak pejuang Islam lahir dari kota kecil ini, seperti Dr.
Mahmud el Zehhar dan Ismail Haniyah, Perdana Menteri Palestina yang
dipecat Presiden Mahmoud Abbas (meski tetap bekerja sebagaimana biasa).
Termasuk di antaranya adalah Muhammad bin Idris al-Syafi‘e atau yang
kita kenal dengan Imam Syafii.
PBB pernah menyampaikan, Gaza
adalah tempat paling dilematik. Lokasi ini, katanya, sebagai lokasi
paling rawan nomor lima sedunia. Namun di tempat ini pula, ”Harakah
al-Muqawamah al-Islamiyah” (Gerakan Perlawanan Islam) atau Hamas
didirikan pertama kali.
Gaza, adalah sisa dari tempat untuk
mengumpulkan semangat perlawanan para pejuang Palestina melawan
penjajah. Khalid Mishaal, Kepala Biro Politik Hamas kepada pers, pernah
mengatakan, strategi Hamas di Gaza sebagai ”Strategi Nafas Panjang”.
“Nafas
panjang” itulah yang kini sedang diperlihatkan Hamas di saat sudah
mulai tak mempercayai Presiden Mahmoud Abbas dan gerakan Al-Fatah, yang
kini, justru lebih memilih dekat dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Almarhum Syeikh Yasin, yang juga pendiri Hamas pernah berjanji
akan menjaga Gaza. ”Saya tegaskan kepada penjajah Israel bahwa memasuki
wilayah Jalur Gaza tidaklah mudah seperti pergi ber-rekreasi; militer
Israel harus membayar mahal dan akan menderita kerugian yang sulit
dibayangkan,” ujarnya suatu hari, dikutip Palestine Information Center pada tahun 2002.
Gaza, Sesudah Hamas Berkuasa
Dunia
terperanjat ketika Hamas secara tiba-tiba menduduki kantor Kepresidenan
Mahmoud Abbas di Gaza, awal 14 Juni 2007 lalu. Hamas telah menguasai
sepenuhnya Jalur Gaza, beberapa jam setelah Presiden Mahmoud Abbas
membubarkan parlemen dan menyatakan keadaan darurat.
Kisah ini,
adalah akhir dari gesekan antara dua pejuang pembebasan Palestina, Hamas
dan Fatah, pimpinan Mahmoud Abbas. Kabarnya, akibat konflik tak ada
ujungnya itu, sedikitnya telah menewaskan 100 warga Palestina.
Sehari
Hamas berkuasa, sepanjang malam, bendera Hijau (bendera Hamas) berkibar
sebagian wilayah Gaza. Para pendukung Hamas merayakannya di
jalan-jalan. Sementara itu, serdadu Fatah terlihat diikat dan dibawa
dengan mobil.
“Semua markas di layanan keamanan Jalur Gaza berada
di bawah kontrol Brigade Izuddin al-Qassam, termasuk kompleks
presiden,” kata seorang jurubicara sayap bersenjata Hamas kepada kantor
berita AFP. Brigade Izuddin al-Qassam adalah sayap militer bentukan Hamas paling ditakuti Israel.
Keputusan
Hamas menguasai markas presiden adalah cara terakhir mencari
konsilisasi dengan Fatah, setelah beberapa kali usaha menyatukan
pandangan tak berhasil. Namun Ismail Haniyah menolak anggapan
terpisahnya Gaza dan Tepi Barat. “Jalur Gaza merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dan bagian integral dari ibu pertiwi rakyat Palestina,”
tuturnya.
Liputan media massa asing kontan seragam. Bahkan, media
massa Indonesia –yang sering hanya mengutip pers Barat—lebih membela
Mahmoud Abbas dan kelompok Fatah yang justru berlindung pada Amerika dan
Israel.
Karena Jalur Gaza adalah tempat paling rawan bagi
wartawan, tempat ini nyaris tak terberitakan secara fair oleh banyak
media. Di antara media lokal yang secara baik memberitakan kondisi
tempat itu adalah Mafkarah Al Islam, yang memiliki koresponden di Gaza dan Palestina.
Sebagaimana dikutip Mafkarah Al Islam,
kondisi Gaza pascapertempuran jauh berbalik 180 derajat. Sebelum
pecahnya pertempuran antara Fatah dan Hamas yang berakhir dengan
menyingkirnya Fatah dan pasukannya, kondisi jalur Gaza amat parah untuk
bisa diceritakan. Kevakuman keamanan, rasa takut, dan serangkaian
kekacauan terjadi di mana-mana. Kecemasan dirasakan sepanjang waktu,
tatkala Fatah berkuasa.
Aktivitas kejahatan seperti perampokan,
aksi penculikan terhadap para ulama, dan imam masjid penghafal Al
Qur’an, serta pecahnya baku tembak karena masalah-masalah remeh –yang
terjadi antarkelompok, pribadi, atau antarkeluarga—setiap saat terjadi.
Kekacauan
merembet pada ketiadaan hukum. Termasuk permusuhan terhadap pengadilan,
yaitu dengan cara membebaskan para tertuduh dengan paksa dari tuduhan,
serta melepaskan orang-orang yang telah divonis kurungan dan
pengintimidasian terhadap para hakim supaya mau melepaskan pekerjaanya.
Dr.
Shalih Raqab, Wakil Kementerian Wakaf dari jalur Gaza menyatakan,
sembilan ulama terbunuh di tangan sempalan revolusi. Biasanya, mereka
menjadikan orang-orang berjenggot dan mereka yang terlihat sebagai
aktivis Islam sebagai sasaran.
Puluhan kaum muslim yang
berjenggot telah menjadi korban penyiksaan sempalan pengikut Ahmad
Dahlan, salah satu pengikut Fatah. Dan kekejaman yang paling buruk dari
pengikut Mahmoud Abbas ketika menculik Hisam Abu Qainash, kemudian
melemparkannya dari lantai lima belas. Namun situasi itu terhenti
tatkala Hamas menguasa Gaza.
Minuman Keras dan Prostitusi
Semenjak Jalur Gaza dikuasai Brigade Izzuddin Al-Qasam, kota kecil yang padat ini nyaris terkendali.
Sejumlah
pendunduk dari berbagai tingkatan mengungkapkan dengan gembira
ketenangan yang mereka rasakan, yang telah hilang sejak beberapa tahun.
Adalah Syakir Ashfur dari Khan Yunis Gaza selatan yang juga mahasiswa
di Universitas Islam Gaza, bisa aktif kembali untuk pergi ke universitas
setelah sebelumnya hal itu tidak bisa ia lakukan karena ia berjenggot.
Selain itu, ujarnya, posisi Universitas Islam Gaza sendiri berada di
tengah-tengah titik konflik.
“Aku menghadapi kesulitan yang amat
sangat ketika pergi untuk melaksanakan shalat Subuh dan isya di masjid.
Aku merasa tidak akan kembali dalam keadaan hidup setelah shalat, kami
merasa tidak aman sama sekali.”
Namun kekhawatiran itu ternyata
tak terjadi. Yang terjadi adalah hancurnya kelompok Dahlani. Yang
dimaksud dengan Dahlani adalah pengikut setia pasukan Ahmad Dahlan,
kelompok bersenjata di bawah Presiden Mahmoud Abbas.
Menurut
Ashfur, hancurnya sempalan Dahlani adalah bentuk murka Allah terhadap
mereka karena pembangkangan mereka terhadap Allah, ulama, dan para imam
masjid.
Sebuah Organisasi Independen untuk Hak-Hak Penduduk
Palestina dalam data statistiknya pada tahun 2007 menunjukan bahwa dalam
satu bulan rata-rata 54 orang tewas di jalur Gaza karena perselisihan
keluarga, pencurian, dan sebab-sebab lainnya yang menyebabkan hilangnya
rasa aman.
Setelah dua minggu Gaza di bawah kontrol Al-Qasam,
beberapa sumber dari kalangan medis menyebutkan bahwa seluruh rumah
sakit yang berada di penjuru Gaza tidak didatangi seorang pasien pun
yang sakit atau terluka akibat hilangnya kontrol keamanan.
Pagi
hari, setelah al-Qasam mengumumkan menguasai jalur Gaza, Milisi al-Qasam
mendatangi pusat-pusat penjualan minuman keras. Di antaranya, tempat
terkenal At Tahliyah di daerah Khan Yunis, Gaza selatan. Tempat itu
bisa dikuasai seluruhnya oleh Al-Qasam dan dibunuhnya tiga “dedengkot”
penjual dan produsen obat-obatan terlarang, kemudian memusnahkan barang
haram ini dengan jumlah yang amat besar.
Al-Qasam juga mendatangi
rumah-rumah bordir dan tempat praktik prostitusi yang sebelumnya
dilegalkan oleh pihak yang bertanggung jawab. Sekarang sudah tidak
ditemukan lagi di Jalur Gaza. Sudah banyak diketahui bahwa di tempat
inilah Israel menciptakan “tentara” dengan jumlah amat besar dari
orang-orang Palestina sendiri, yaitu dengan mengambil gambar ketika
mereka melakukan perzinaan dan mengancam akan menyebarkan gambar itu
jika ia enggan membantu Israel. Biasanya, pria-pria yang direkam
gambarnya ini lantas diperas agar bersedia menjadi ”mata-mata” Israel.
Mudah-mudahan ketaatan pada agama ini bisa menjadi sumber kekuatan tidak terputus bagi pejuang Palestina di Gaza. [Thoriq/cha/www.hidayatullah.com]
JOHANNESBURG, KOMPAS.com — Penyerang Argentina, Lionel Messi, memang belum mencetak satu gol pun dari dua pertandingan fase grup Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Meski begitu, ia tetaplah nyawa permainan “Albiceleste”.
Di Piala Dunia ini, Argentina berada di Grup B bersama dengan Korea Selatan (Korsel), Yunani, dan Nigeria. Sejauh ini, mereka sudah bertemu Korsel dan Nigeria dengan rekor kemenangan seratus persen.
Pada pertandingan melawan Nigeria, Argentina menang 1-0 berkat gol bek Gabriel Heinze. Namun, sepanjang permainan, Messi bergerak begitu dinamis, indah, dan riang, baik untuk membuka ruang untuk rekan-rekannya maupun mencoba mencetak gol.
Tercatat, pada pertandingan itu, ia melepaskan empat tembakan tepat ke gawang dari delapan kali percobaan. Seandainya bukan karena kiper Vincent Enyeama, Messi mungkin mencetak setidaknya satu gol untuk timnya.
Pada pertandingan kedua, Argentina menang 4-1 atas Korsel. Meski tak menyarangkan bola ke gawang Jung Sung-ryong, Messi adalah kreator semua gol tersebut.
Gol pertama Argentina memang merupakan gol bunuh diri penyerang Park Chu-young pada menit ke-16. Gol itu terjadi karena Park Chu-young salah mengantisipasi tendangan bebas Messi.
Pada menit ke-32, Gonzalo Higuain menggandakan keunggulan Argentina menjadi 2-0. Gol itu bermula dari umpan Messi kepada Maxi Rodriguez. Maxi kemudian melepas umpan ke kotak penalti, yang dapat dijangkau dan diteruskan Nicolas Burdisso kepada Higuain, yang mengirimnya masuk ke gawang Korsel.
Argentina sempat kecolongan gol balasan Korsel yang dicetak Lee Chung-ryong pada menit ke-45. Namun, Argentina kembali berhasil menjauhkan diri berkat gol Higuain pada menit ke-76. Higuain mencetak gol kedua ini setelah memanfaatkan tembakan Messi, yang diblok Jung.
Empat menit kemudian, Higuain mencetak gol ketiganya yang membuat Argentina unggul 4-1. Gol kali ini bermula dari tendangan bebas Messi dari wilayah pertahanan sendiri kepada Sergio Aguero di wilayah musuh.
Begitu menguasai bola, Aguero menyodorkan bola kepada Higuain, yang langsung meneruskan bola kepada Messi. Messi kemudian kembali mengirim bola kepada Aguero. Begitu mengusai bola, Aguero meneruskannya kepada Higuain, yang kemudian melesakkan bola masuk ke gawang Korea.
Selain itu, Messi juga sempat melakukan sebuah aksi spektakuler, yaitu melewati lima pemain Korsel. Hal ini mengingatkan banyak kalangan kepada aksi legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona, yang pernah melakukan hal serupa saat melawan Belgia pada Piala Dunia 1986.
Bagi klubnya, Messi adalah mesin gol yang terus beroperasi dan berproduksi. Namun, di Piala Dunia ini, ia rela melepaskan egonya dan dengan penuh kesadaran, mengambil peran sebagai “pelayan”. Itu membuatnya tetap, atau bahkan mungkin semakin, besar, setidaknya di mata Maradona, yang kini menjadi pelatih Argentina.
“Saya ingin Messi berada sedekat mungkin dengan bola. Selama ia mendapatkan kesenangan, kami semua akan bersenang-senang. Sepak bola tak akan indah kecuali Messi menyentuh bola sepanjang waktu. Ia tampil ajaib hari ini di lapangan,” sanjung Maradona.
sumber : www.bola.kompas.com
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku ….
BJ.HABIBIE
PREMANISME politik benar-benar sedang berkembang di Gedung DPR Senayan. Setelah mengeroyok Sri Mulyani, kini para wakil rakyat menggerogoti APBN melalui cara legal konstitusional. Mereka resmi dan terbuka meminta jatah dari APBN.
Dalam Rapat Paripurna DPR pekan lalu (25/5), dengan agenda pemandangan umum fraksi-fraksi atas rencana kerja pemerintah dan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2011, Fraksi Partai Golkar mengusulkan agar mulai tahun 2011 setiap anggota DPR mendapat jatah Rp15 miliar. Dana itu dialokasikan ke daerah pemilihan masing-masing anggota dewan.
Ada 560 anggota DPR. Itu berarti, dana APBN akan tersedot Rp8,4 triliun. Uang yang banyak, sangat banyak. DPR memang berbakat menjadi peminta-minta. Pada pembahasan RAPBN-P 2010 yang lalu, Komisi XI DPR juga meminta jatah Rp2 triliun. Alasannya pun sama, yakni untuk daerah pemilihan bagi sekitar 50 anggota Komisi XI DPR.
Badan Anggaran DPR kemudian menolak permintaan Komisi XI itu. Akan tetapi, semangat meminta-minta semakin berkobar. Bahkan, permintaan Komisi XI itu memberi inspirasi secara kelembagaan. Buktinya, muncullah permintaan Partai Golkar agar tiap-tiap anggota dewan mendapat Rp15 miliar.
Sekali lagi, perlu ditekankan, lokomotif permintaan itu adalah Partai Golkar, pemimpin Sekber Koalisi, dan partai terbesar kedua setelah Demokrat. Dapat dipastikan tidak hanya gerbong koalisi yang akan setuju, tetapi semua fraksi dan segenap anggota dewan.
Sangat mengerikan menyaksikan kerakusan anggota dewan akan uang. Sangat memalukan, bahwa anggota dewan tidak lagi punya rasa malu. Lihat saja. Permintaan jatah Rp15 miliar untuk tiap anggota dewan itu disampaikan dalam rapat pleno DPR yang dihadiri tidak lebih dari seratus anggota dewan. Dari jumlah yang hadir itu pun hanya sedikit yang menyimak secara serius. Mereka lebih asyik main SMS atau bertelepon ria.
Bila dikabulkan, akan jadi apakah gerangan uang Rp15 miliar itu, di tangan anggota dewan yang malas, yang tidur saat sidang, yang sibuk main telepon genggam dan SMS saat rapat? Sudah banyak fasilitas yang diberikan negara kepada anggota dewan, tetapi tabiat mereka tidak juga berubah. Tetap malas dan membolos.
Yang pasti, dengan jatah Rp15 miliar itu, setiap anggota dewan otomatis memiliki uang yang banyak sekali untuk memelihara dukungan politik konstituennya secara gratis karena menggunakan uang negara.
Dan terbukalah lebar-lebar kesempatan anggota dewan untuk menjadi makelar anggaran atas dana jatah Rp15 miliar itu. Mereka bisa menjual proyek sekaligus menentukan siapa kontraktor pelaksana proyek. Anggota dewan kemudian menerima fee dari proyek tersebut.
Sebegitu jorokkah tabiat anggota dewan? Jawabnya, bukankah sejumlah anggota dewan dibui oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena membuka praktik sebagai calo anggaran?
TABIR misteri yang menyelimuti pengunduran diri Sri Mulyani Indrawati dari jabatan Menteri Keuangan mulai terkuak. Menkeu terbaik se-Asia versi majalah Euromoney (2006) mengatakan yang membuatnya hengkang ke Bank Dunia adalah tekanan politik.
“Apa pun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam suatu sistem politik,” kata Sri Mulyani dalam kuliah umum yang bertajuk Kebijakan Publik dan Etika Publik di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, tadi malam.
Tanpa tedeng aling-aling, ia menegaskan perkawinan kepentingan di Indonesia sangat dominan dan nyata. “Bahkan ada yang mengatakan itu kartel. Tapi saya lebih suka menggunakan kata kawin walaupun jenis kelaminnya sama,” imbuhnya.
Sri Mulyani mengenakan busana warna biru muda berlengan panjang. Ia tampil penuh semangat, suaranya kadang meninggi dengan penekanan pada kata-kata tertentu. Tepuk tangan hadirin pun seolah tak putus di ballroom hotel itu. Dengan lugas pula Sri Mulyani mengungkapkan buruknya kompromi kepentingan yang terjadi di Indonesia. Ia pun bercerita kala menghadiri rapat untuk membuat kebijakan yang berimplikasi kepada anggaran. “Orang-orang tersebut sama sekali tidak merasa risih.”
Alhasil, kata Sri Mulyani konflik kepentingan tersebut di anggap sebagai suatu kepalsuan yang wajar di Indonesia. Dia mencontohkan bahwa masih ada pengusaha yang mengaku telah meninggalkan dunia usahanya ketika menjadi pejabat publik. Namun ternyata, saudara-saudara mereka masih melakukan praktik usaha. “Itu gaya Orde Baru,” cetusnya.
Konflik kepentingan itu, lanjut dia, dimulai dari pemilihan seseorang untuk menjadi chief executive officer (CEO) Indonesia. Ongkos untuk membuat seseorang dipilih untuk menjadi pemimpin di Indonesia sangat besar.
“Di tingkat daerah saja tidak mungkin dipenuhi dengan gajinya. Apalagi untuk menjadi presiden,” katanya.
Salah satu solusi untuk menutupi biaya tersebut, lanjutnya, adalah dengan menjualbelikan kebijakan. Sri Mulyani mengaku, selama menjadi menteri, dia miskin apresiasi. Selama lima tahun menjabat menkeu, dia merasa semua orang memusuhinya.
Merasa menang
Dalam kuliah tersebut, Sri juga menegaskan bahwa kepergiannya menjadi managing director di Bank Dunia adalah suatu kemenangan. Pertama, kemenangan ketika dirinya tidak mengkhianati kebenaran. Kedua, dirinya tidak mengingkari hati nurani. Ketiga, dirinya bisa menjaga martabat dan harga diri.
“Maka di situ saya menang. Saya tidak bisa didikte siapa pun, termasuk mereka yang menginginkan saya tidak di sini,” ujarnya. Hadirin pun langsung standing applause.
Ikut hadir pada acara yang digelar Perhimpunan Pendidikan Demokrasi itu Pejabat Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, Ketua Bapepam-LK Fuad Rachmany, Raden Pardede, Wimar Witoelar, Marsilam Simanjuntak, dan putra keduanya, Adwin Haryo Indrawan. Juga hadir sejumlah tokoh lintas bidang.
Di Malaysia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan akan mengumumkan nama menkeu yang baru dalam satu dua hari.
(mediaindonesia)
DALAM tempo empat hari lagi, genap setahun kursi Gubernur Bank Indonesia (BI) dibiarkan lowong. Boediono yang kini wakil presiden sudah meninggalkan jabatan itu sejak 16 Mei 2009.
Dan, 1 Juni nanti Sri Mulyani Indrawati akan berhenti dari jabatan menteri keuangan. Jika melihat pengalaman Bank Indonesia, bisa-bisa kursi menteri keuangan dibiarkan kosong berlama-lama.
Toh, dalam kasus Bank Indonesia ternyata semuanya berjalan biasa-biasa saja. Indikator makroekonomi seperti nilai tukar rupiah, cadangan devisa, dan juga pengawasan perbankan tidak bergejolak.
Entah karena kepiawaian Pelaksana Tugas Gubernur BI Darmin Nasution atau sebab lain sehingga nyaris seluruh indikator ekonomi tidak terlalu terpengaruh. DPR juga tampak tenang-tenang saja melihat gejala itu sehingga tak terasa nyaris setahun kursi Gubernur BI tidak berpenghuni.
Sempat muncul spekulasi bahwa kursi itu dibiarkan lowong untuk diisi Sri Mulyani. Tapi spekulasi itu terpatahkan setelah Sri disetujui 100% oleh Presiden SBY menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia.
Karena itu, bukan sekadar kursi Gubernur BI yang lowong. Posisi menteri keuangan pun sebentar lagi berganti penghuni.
Kini, barulah publik dan pasar bereaksi. Mereka melihat ada gelagat tidak beres dari mudahnya SBY menyetujui Sri Mulyani ke Bank Dunia.
Padahal, banyak yang mafhum sepak terjang Sri Mulyani dalam menata birokrasi di Kementerian Keuangan lumayan menggigit. Lalu muncullah dugaan bahwa Sri dikorbankan demi menyelamatkan kekuasaan.
Dugaan itu makin mendekati kenyataan ketika pada saat yang bersamaan muncul kartel politik bernama Sekretariat Bersama (Sekber) Partai Koalisi. Kian klop ketika Aburizal Bakrie yang punya rekam jejak ‘perseteruan’ dengan Sri Mulyani–juga Darmin Nasution–didapuk menjadi ketua pelaksana harian sekber koalisi.
Sulit untuk berkelit bahwa sekber koalisi merupakan permufakatan yang melahirkan persekutuan elite di dalam kamar. Dari elite di dalam kamar itulah amat mungkin desain kekuasaan, termasuk pos-pos jabatan menteri, Gubernur BI, bahkan jaksa agung, diciptakan.
Sekber koalisi tengah merintis jalan takdir politik menjadi penentu segala-galanya di negeri ini. Dengan 75% kekuatan politik di tangan, tidak ada wilayah yang mustahil untuk dijamah sekber koalisi.
Karena itu, kalau pasar mulai sedikit gaduh menunggu kepastian siapa yang akan mengisi kursi menteri keuangan dan Gubernur BI, ada baiknya tanyakan semuanya kepada sekber koalisi. Angkat telepon dan bertanya, “Halo, sekber koalisi, siapa menteri keuangan pengganti Sri Mulyani dan siapa Gubernur BI?”
Tapi, siap-siaplah kecewa bila nama calon yang keluar dari kantong sekber tidak ramah pasar, atau malah tidak paham pasar sama sekali. Itu sudah lumrah untuk sebuah praktik kartel, suka atau tidak suka.
(mediaindonesia)